Hendra Salim tidak tidur malam itu.
Alana tahu, karena Reza memantau ponsel Hendra—bukan menyadap isinya, hanya pola aktivitasnya. Panggilan masuk, panggilan keluar, jam berapa. Sepanjang malam, Hendra menelepon adiknya, Wirawan, tiga kali. Ia menelepon pengacara pribadinya dua kali. Dan menjelang subuh, ia melakukan satu panggilan ke nomor yang terdaftar atas nama PT Sentra Abadi.
Lalu, pada pukul sembilan pagi, Hendra muncul di kantor Alana. Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua dari kemarin. Kantong matanya menghitam. Setelannya kusut, seolah ia tidur—jika tidur—dengan pakaian lengkap.
"Saya menerima tawaran kedua," kata Hendra tanpa basa-basi. Ia duduk berat di kursi. "Tapi saya punya syarat."
Alana mengangkat tangannya, menghentikannya. "Sebelum syarat, jawab satu pertanyaan saya. Apakah Anda menelepon Surya tadi malam?"
Hendra terdiam. Lalu mengangguk pelan. "Iya."
"Apa yang Anda katakan padanya?"
"Tidak ada." Hendra mengusap wajahnya. "Saya menelepon untuk... menguji. Untuk mendengar suaranya, untuk merasakan apakah dia sudah tahu sesuatu. Dan dari caranya bicara, saya tahu—" suaranya pecah, "—saya tahu Anda benar, Nona. Surya tidak mempercayai saya lagi. Dia bicara dengan dingin, hati-hati. Dia sudah mulai mengukur saya untuk dijadikan kambing hitam. Sama seperti yang dulu saya bantu lakukan pada dia tiga puluh tahun lalu, waktu saya merapikan berkas yang menjebaknya." Tawa pahit. "Roda berputar."
Alana duduk di seberangnya. "Jadi Anda memilih saya bukan karena percaya pada saya. Tapi karena Surya akan membuang Anda lebih dulu."
"Saya lima puluh delapan tahun, Nona. Saya tidak punya kemewahan idealisme." Hendra menatapnya, dan untuk pertama kali ada kejujuran telanjang di matanya. "Saya menghabiskan seluruh karier saya bertaruh pada kuda yang salah. Pertama saya kira saya bisa mengalahkan ayah Anda. Lalu saya kira Surya akan memberi saya kursi nomor satu. Sekarang saya hanya ingin bertahan hidup. Dan satu-satunya orang yang menawarkan saya jalan untuk itu adalah perempuan dua puluh tujuh tahun yang dulu saya remehkan di ruang rapat."
Alana tidak merasa puas mendengarnya. Ada sesuatu yang lebih besar dari kemenangan dalam momen itu—rasa muak yang dingin, melihat seberapa rapuh kesetiaan yang dibangun di atas kepentingan.
"Syarat Anda?" tanyanya.
"Adik saya. Wirawan." Hendra menelan ludah. "Dia ikut serta karena saya yang menyeretnya. PT Bahari ide saya. Saya akan bersaksi, saya akan serahkan semuanya. Tapi tolong, sejauh mungkin, lindungi adik saya dari hukuman terberat. Dia hanya menjalankan apa yang saya suruh."
Alana menatapnya lama. Permintaan seorang penjahat untuk adiknya. Manusiawi, di tengah semua pengkhianatan. Untuk sesaat ia hampir lupa bahwa lelaki di hadapannya inilah yang membiarkan ayahnya menghukum orang yang salah, yang menggerogoti perusahaan dari dalam selama puluhan tahun. Tapi ia juga tahu, di dunia tempat ia bermain sekarang, tidak ada sekutu yang bersih. Hanya ada kepentingan yang untuk sementara sejajar.
"Saya tidak bisa menjanjikan hukum, Pak Hendra. Tapi saya akan memastikan kerja sama Anda berdua tercatat. Itu yang bisa saya tawarkan."
Hendra mengangguk. Cukup baginya. Ia mengeluarkan sebuah flash disk dari saku jasnya dan meletakkannya di meja.
"Ini permulaan," katanya. "Catatan pertemuan saya dengan perwakilan Sentra Abadi. Tanggal, tempat, isi pembicaraan. Bukti bahwa Surya Danuatmaja mengendalikan Sentra secara pribadi, bukan lewat kuasa hukum. Dan—" ia ragu sejenak, "—satu hal yang Surya ceritakan pada saya dalam keadaan mabuk, beberapa bulan lalu. Tentang ayah Anda. Tentang bagaimana dia memastikan Bramantyo 'tidak akan bertahan melihat akhir permainan'."
Alana mencengkeram tepi meja. "Apa maksudnya itu?"
"Saya tidak tahu detailnya, Nona. Sumpah." Hendra menatapnya. "Tapi uang yang dibayarkan Surya ke Garda Prima, beberapa di antaranya mengalir ke rekening di Singapura. Rekening yang juga membayar seseorang di rumah ayah Anda. Saya melihat angkanya lewat sekali, tidak sengaja. Saya tidak berani bertanya untuk apa." Ia mendorong flash disk lebih dekat. "Mungkin di sana jawabannya. Di rekening Singapura itu."