Berkas PT Bahari Logistik Nusantara sudah ada di laci terkunci meja Alana sejak Bab ketiga investigasinya sendiri. Tapi sebuah berkas yang dikunci di laci hanyalah amunisi yang belum diisi ke senjata. Malam itu, Alana memutuskan mengisinya.
Ia tidak bisa melakukannya di kantor. Maka ia membawa salinannya pulang ke apartemen, membentangkannya di lantai ruang tamu, dan duduk bersila di tengah lautan kertas seperti yang sering ia lakukan saat masih konsultan restrukturisasi di Singapura.
Polanya jelas, dan semakin ia menatap, semakin kotor tampaknya.
Kontrak sewa gudang: empat miliar rupiah per bulan. Harga pasar untuk gudang sejenis di lokasi yang sama: sekitar satu setengah miliar. Selisih dua setengah miliar setiap bulan, selama—ia mengecek tanggal kontrak—hampir tiga tahun. Ia mengalikan di benaknya dan merasa mual. Hampir sembilan puluh miliar mengalir keluar dari perusahaan ayahnya, ke kantong adik kandung Hendra Salim, Wirawan Salim, komisaris PT Bahari.
Tapi mark-up sewa hanyalah lapisan pertama. Alana menggali lebih dalam, menyilang faktur dengan laporan operasional gudang. Dan di sanalah ia menemukan sesuatu yang lebih busuk.
Tiga dari gudang yang disewa itu nyaris kosong. Laporan stok menunjukkan tingkat pemanfaatan di bawah dua puluh persen. Wijaya Group membayar empat miliar per bulan untuk ruang yang tidak dipakai. Ini bukan sekadar mark-up. Ini kontrak yang sengaja digelembungkan, untuk gudang yang sengaja tidak diisi, semata agar uang bisa dipindahkan keluar dalam bentuk "sewa" yang tampak sah.
"Halo, Pak Hendra," gumam Alana pada kertas-kertas itu. "Akhirnya aku lihat seluruh wajahmu."
Esok paginya ia memanggil Sekar—lewat ponsel pribadi, di balkon.
"Aku butuh sesuatu darimu," kata Alana. "Diam-diam. Cari mantan kepala gudang yang dipensiunkan dua tahun lalu. Namanya ada di laporan operasional—Pak Yatno. Dia yang menandatangani laporan pemanfaatan rendah itu sebelum diberhentikan. Aku ingin tahu kenapa dia diberhentikan."
Sekar menemukan Pak Yatno dalam dua hari, di rumah kontrakannya di Bekasi. Lelaki itu awalnya menolak bicara, ketakutan, sampai Alana datang sendiri dan duduk di teras sempitnya.
"Saya menolak menandatangani laporan yang dipalsukan," kata Yatno akhirnya, suaranya gemetar. "Mereka minta saya tulis gudang penuh padahal kosong. Saya bilang tidak. Bulan depannya saya 'dipensiunkan dini'. Pesangon saya ditahan setengahnya karena katanya 'kinerja'." Ia menunduk. "Saya punya bukti, Nona. Surat perintah dari atas, minta saya mengubah angka. Saya simpan. Saya pikir suatu hari ada yang mau dengar."
Tangan tua itu menyerahkan map plastik kumal. Di dalamnya, surat dengan kop Wijaya Group, ditandatangani oleh Hendra Salim sendiri, memerintahkan revisi laporan pemanfaatan gudang.
Alana menatap tanda tangan itu lama sekali.
Inilah kartu truf. Bukan dugaan, bukan pola yang harus dijelaskan ke pemegang saham awam. Tanda tangan basah Hendra di atas perintah memalsukan dokumen. Senjata yang bisa menjepit Wakil Direktur Utama kapan pun ia mau—dan, lebih penting lagi, senjata yang bisa membuat Hendra memilih: tenggelam bersama Surya, atau berbalik dan menyelamatkan diri.
Tapi Alana menahan diri. Ayahnya menulis dalam suratnya—surat yang ia temukan di laci itu—satu kalimat yang kini ia pahami betul: kartu terbaik bukan yang paling cepat dimainkan, melainkan yang dimainkan saat lawan tidak bisa lagi mengelak. Kalau ia melempar surat ini ke Hendra sekarang, Hendra bisa lari ke Surya, mengaku, dan Surya akan punya waktu menghapus jejak. Tapi kalau ia menyimpannya sampai Hendra sendiri merasa terjepit dari dua sisi—oleh hukum dan oleh bosnya yang tak peduli padanya—saat itulah surat ini menjadi pintu keluar, bukan ancaman.
"Pak Yatno," kata Alana, "surat ini—saya pinjam aslinya. Bapak simpan salinannya, dan saya minta Bapak bersaksi bila waktunya tiba. Bukan sekarang. Tapi bila saya panggil, Bapak berani berdiri di depan auditor dan menceritakan apa yang Bapak ceritakan pada saya hari ini?"
Lelaki tua itu menegakkan punggungnya yang bungkuk. "Dua tahun saya menunggu seseorang bertanya, Nona. Saya berani."
"Terima kasih, Pak Yatno," kata Alana pelan. "Pesangon Bapak yang ditahan—saya pastikan cair minggu ini. Dengan bunga. Bapak melakukan hal yang benar, dulu dan sekarang."
Lelaki tua itu menangis di teras rumahnya, dan Alana merasa, untuk pertama kalinya sejak ayahnya mati, bahwa ia tidak hanya bertarung untuk perusahaan. Ia bertarung untuk orang-orang seperti Pak Yatno dan Pak Sutarno, yang harga dirinya diinjak oleh keserakahan yang berbaju kontrak resmi.
Gudang yang kosong itu, akhirnya, bicara.