Ruang rapat di lantai dua puluh lima Menara Wijaya itu dingin seperti lemari pendingin, tetapi suhu udara bukan satu-satunya yang membuat Alana Wijaya merinding.
Tatapan tiga belas anggota dewan direksi yang mengelilingi meja kayu jati panjang itu jauh lebih beku. Mereka menatapnya seperti menatap anak kecil yang kebetulan tersesat ke ruang orang dewasa.
"Selamat pagi," kata Alana, meletakkan map kulit hitamnya di ujung meja, di kursi yang sampai dua minggu lalu masih milik ayahnya. "Saya tahu pertemuan hari ini tidak diharapkan banyak orang."
Tidak ada yang membalas sapaannya. Hanya dentang sendok pengaduk kopi di cangkir Pak Hendra Salim, Wakil Direktur Utama, lelaki berusia lima puluh delapan tahun yang sudah dua dekade duduk di kursi nomor dua dan selalu yakin kursi nomor satu adalah haknya.
"Nona Alana," Hendra akhirnya bicara, suaranya halus tetapi setiap kata terasa seperti sayatan. "Berapa umur Nona sekarang?"
"Dua puluh tujuh."
"Dua puluh tujuh." Hendra mengulang angka itu seolah mencicipi rasa pahit. "Saya sudah memimpin divisi keuangan grup ini sejak Nona masih belajar berjalan. Dan sekarang surat wasiat almarhum Pak Wijaya menempatkan Nona di kursi itu."
Alana menahan napas. Ayahnya, Bramantyo Wijaya, meninggal mendadak karena serangan jantung di ruang kerjanya tiga minggu lalu. Tidak ada peringatan. Tidak ada serah terima. Hanya sebuah surat wasiat yang menunjuk putri tunggalnya sebagai Direktur Utama Wijaya Group—sebuah konglomerasi yang merentang dari properti, manufaktur tekstil, hingga logistik.
"Saya mengerti keberatan Bapak," kata Alana. "Tapi keputusan ini sah secara hukum."
"Sah," sahut perempuan di seberang meja, Ratna Kusuma, Direktur Pemasaran. "Tapi memimpin perusahaan bukan soal sah atau tidak. Ini soal mampu atau tidak."
Beberapa kepala mengangguk. Alana melihat senyum tipis tersungging di bibir Hendra. Senyum yang tidak sampai ke matanya.
Alana membuka map kulitnya. Ia mengeluarkan setumpuk dokumen yang sudah ia pelajari selama tiga minggu terakhir hingga tengah malam—laporan keuangan, neraca, arus kas, daftar utang.
"Sebelum kita lanjut," kata Alana pelan, "saya ingin bertanya kepada Bapak Hendra sebagai kepala keuangan. Berapa kas operasional yang kita miliki saat ini?"
Hendra mengernyit. "Itu informasi sensitif yang—"
"Saya Direktur Utama. Tidak ada yang sensitif untuk saya." Suara Alana tetap tenang, tetapi ada baja di dalamnya yang membuat ruangan sejenak hening. "Saya akan jawab sendiri. Kas operasional kita tersisa sekitar empat puluh tiga miliar. Dengan beban operasional bulanan tiga puluh delapan miliar dan cicilan utang jatuh tempo dua ratus dua puluh miliar dalam sembilan puluh hari ke depan."
Senyum di bibir Hendra menghilang.
"Perusahaan ini," lanjut Alana, mengedarkan pandang ke seluruh ruangan, "yang katanya saya warisi seperti hadiah ulang tahun, sebenarnya berdiri di tepi jurang. Ayah saya menyembunyikannya dengan rapi. Tapi angka tidak bisa berbohong."
Ratna membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
"Jadi," Alana menutup mapnya, "silakan terus menganggap saya boneka manja yang kebetulan punya nama belakang Wijaya. Tapi saya akan tetap duduk di kursi ini. Dan saya tidak punya niat membiarkan perusahaan yang dibangun kakek dan ayah saya tenggelam."
Ia berdiri. Kursi jati itu menggesek lantai marmer dengan suara nyaring.
"Rapat dewan berikutnya tiga hari lagi. Saya akan membawa rencana penyelamatan tahap satu. Selamat pagi."
Alana berjalan keluar tanpa menoleh. Hanya setelah pintu kaca tertutup di belakangnya, dan ia berbelok ke lorong yang sepi, barulah ia menyandarkan punggung ke dinding dan menghela napas panjang.
Tangannya gemetar.
Tiga belas orang di ruangan itu, dan ia tahu setidaknya sepuluh dari mereka berharap ia gagal. Beberapa bahkan mungkin sedang bekerja keras memastikan kegagalan itu terjadi.
Tetapi mereka semua melakukan satu kesalahan yang sama.
Mereka mengira ia tidak melihat pisau di balik setiap senyum.
Alana meluruskan jasnya, mengangkat dagu, dan berjalan menuju kantor yang dulu milik ayahnya. Kantor yang kini menjadi miliknya.
Permainan baru saja dimulai.