Di Antara Kenangan dan Waktu.
Aku dan dia adalah sahabat sejak kecil. Kami tinggal di lingkungan yang sama dan hampir setiap hari bermain bersama. Kami sering bersepeda mengelilingi kampung, bermain petak umpet, atau sekadar duduk di teras rumah dan di atas pohon sambil bercerita tentang cita-cita. Banyak kenangan yang kami ciptakan bersama saat itu.
Saat masih kecil, aku menganggapnya sebagai sahabat terbaikku. Kami bersekolah di tempat yang sama dan duduk di kelas yang sama selama beberapa tahun. Bahkan, saat duduk di bangku kelas 4 SD, kami sudah membicarakan keinginan untuk melanjutkan sekolah ke SMP yang sama.
Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Saat aku duduk di kelas 5 SD, keluargaku mengalami sedikit masalah. Saat itulah aku mulai merasa takut jika suatu hari harus berpisah dengannya. Aku menceritakan semua kegelisahanku kepadanya. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian lalu mencoba menguatkanku.
Ia berkata, "Yang sabar, ya. Semua pasti akan baik-baik saja."
Saat mengucapkan kalimat itu, matanya tampak berkaca-kaca. Entah mengapa, aku merasa seolah-olah ia juga merasakan ketakutan yang sama.
Dan ternyata, ketakutan itu benar-benar terjadi.
Ketika naik ke kelas 6 SD, aku pindah rumah ke kampung lain yang cukup jauh dari tempat kami tinggal. Beberapa bulan kemudian, aku kembali pindah, kali ini ke kota. Saat itu kami belum memiliki telepon genggam sehingga tidak bisa saling berkomunikasi. Perpisahan itu menjadi salah satu momen menyedihkan dalam hidupku.
Waktu terus berlalu.
Saat duduk di kelas 1 SMP, kami akhirnya kembali berkomunikasi melalui media sosial. Rasanya sangat menyenangkan bisa kembali berbicara dengannya setelah sekian lama. Kami saling bertukar kabar dan mengenang masa kecil yang penuh kebahagiaan.
Kami mengingat kembali berbagai kenangan yang pernah kami lalui bersama. Bermain masak-masakan, mandi di sungai, mandi hujan, bermain banjir sepulang sekolah, bersepeda mengelilingi kampung, hingga melakukan berbagai kenakalan kecil khas anak-anak. Tidak jarang orang tua kami harus memanggil berkali-kali agar kami pulang ke rumah. Semua kenangan itu membuat kami tertawa saat mengingatnya.
Sebelum percakapan kami berakhir, aku bertanya,"Kapan, ya, kita bisa bertemu lagi?"
"Aku juga berharap bisa bertemu secepatnya," jawabnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, komunikasi kami semakin jarang. Kami sibuk dengan kehidupan masing-masing. Tahun demi tahun berlalu. Kami tumbuh menjadi pribadi yang berbeda dan memiliki lingkungan pertemanan yang berbeda pula.
Hingga suatu hari, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, aku memutuskan pulang ke kampung untuk mengunjungi nenekku. Kampung itu adalah tempat kami pernah tumbuh bersama.
Aku memberanikan diri datang ke rumahnya.
Saat melihatnya berdiri beberapa meter di depanku, aku merasa senang sekaligus gugup. Sahabat yang dulu selalu bersamaku kini terasa seperti orang asing.
Aku menyapanya terlebih dahulu.
"Hai, apa kabar?"
Ia menoleh dan tersenyum sopan.
"Hai, baik. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik."
Hanya itu.
Tidak ada pelukan hangat. Tidak ada cerita panjang seperti dulu. Percakapan kami terasa canggung. Kami hanya saling bertukar kabar singkat. Padahal, dahulu kami bisa mengobrol berjam-jam tanpa kehabisan topik.
Saat itu aku menyadari bahwa waktu memang dapat mengubah banyak hal. Kenangan masa kecil kami masih ada, tetapi kedekatan yang dulu begitu kuat perlahan memudar.
Meski begitu, aku tidak pernah menyesal pernah menjadi sahabatnya. Justru aku bersyukur karena ia pernah menjadi bagian terindah dalam masa kecilku. Bersamanya, aku memiliki kenangan yang tidak akan pernah bisa kulupakan.
Sebelum aku pulang, ia mengajakku berfoto bersama untuk mengenang pertemuan hari itu. Setelah itu, aku berpamitan.
Ia tersenyum dan berkata, "Nanti kapan-kapan kita main bareng lagi, ya."
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
"Semoga saja."
Aku berjalan meninggalkan rumahnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Hari itu aku belajar bahwa tidak semua sahabat masa kecil akan tetap dekat selamanya. Ada yang harus berpisah karena jarak, waktu, dan jalan hidup yang berbeda.
Kini kami bukan lagi dua anak kecil yang setiap hari bermain bersama di bawah terik matahari. Namun, meskipun kini terasa asing, semua kenangan yang pernah kami ciptakan akan selalu menjadi bagian berharga dalam hidupku.