Julia menggeram kecil. Hari masih sangat pagi tapi dia dia harus dipaksa bangun karena tak tahan dengan suara Jason Mraz yang terus bernyanyi tak henti dekat telinganya. Dengan mata masih terpejam, dia menjawab panggilan itu.
"Ya ampun, kenapa harus pagi-pagi sih teleponnya?" Julia menggerutu satu detik setelah telepon diputus. Dia baru saja tidur dua jam karena menyelesaikan tugas Akustik-nya. Julia melirik jam di atas mejanya. Pukul tujuh. Dia baru menyadari ternyata di luar hujan turun cukup deras. Sebenarnya ini waktu yang sangat tepat untuk tidur panjang setidaknya sampai tengah hari nanti.
Dengan enggan, Julia menyambar ponselnya lagi dan mengetik sesuatu di sana. Setelah itu dia kembali merebahkan tubuhnya mencoba tidur sebentar lagi. Namun, baru seumur jagung dia tertidur tiba-tiba dia dibangunkan dengan gedoran di pintunya.
"Apalagi sihhhh?" Julia mengucek ngucek matanya. Dengan malas dia memaksa tubuhnya bergerak bangkit dan berjalan tertatih menuju pintu.
"Kak Lia!" Itu suara Lodi. Pintu terbuka dan Lodi dengan seragam hariannya berdiri seksi di depan pintu saat Julia membukanya. Gadis itu mengacungkan kunci di depannya.
"Katanya pukul sembilan harus berangkat, kok baru bangun?" Kata-kata Lodi seperti sapuan angin yang mengumpulkan segenap jiwa raga Julia. Kelopaknya membuka lebar, lehernya bergerak cepat ke arah jam dinding. Pukul 08.45?
"Mati gue!" jerit Julia sambil menepuk keras jidatnya. Dia berlari cepat ke kamar mandi, namun tiba tiba teringat sesuatu. Ya, Lodi dan kunci mobilnya. Kembali dia berlari ke depan dan menyambar kunci mobil Lodi yang sedang diacungkan oleh pemiliknya itu. Julia melambai sebentar ke arah Lodi kemudian melesat ke kamar mandi.
Pagi tadi Pak Hari menelepon, meminta Julia ke bandara. Julia harus mengambil sample wallpaper untuk interior hotel yang sedang dia dia kerjakan karena sample dengan merek itu sulit ditemukan di Yogyakarta, maka jalan keluarnya Pak Hari menitipkannya pada seorang temannya yang kebetulan akan ke Yogyakarta.
Dan harusnya Julia sudah ada di bandara pukul 10.00!
Tanpa banyak dandan hanya bedakan tipis, kaus dan jins bekas pakai semalam, Julia langsung berlari kencang ke garasi. Dia memang telah mengirimkan-BBM Lodi untuk meminjam si Biru. Memang saat hujan seperti ini, mobil sangat berguna. Selain itu buat berjaga-jaga juga kalau seandainya Julia bisa mengulurkan bantuan pada teman Pak Hari yang sudah membantunya. Ya, mengantar orang itu ke tujuannya. Tapi saat mobil hendak keluar gerbang, Arin muncul. Gadis itu terbungkus mantel hujan; tangannya melambai-lambai ke arah Julia. Dan karena sudah tak ada waktu untuk bertanya, Julia memberi tanda pada Arin untuk memarkir motornya di depan kamar, melepaskan mantelnya, dan berlari kecil masuk ke mobil.
Arin baru saja pulang dari rumah tantenya di Pakem. Saat baru meninggalkan rumah tantenya, hujan tak sederas sekarang. Karena itu Arin memutuskan untuk singgah ke kos Julia. Matanya sudah perih terkena percikan air hujan, dia tidak kuat memaksakan dirinya memacu motornya hingga ke rumahnya di daerah Taman Siswa.
Mata Julia fokus di depan, jalanan mulai macet karena dipenuhi kendaraan roda empat yang sedang berhati-hati melalui jalan yang sudah mulai dibanjiri air hujan. Di sebelahnya, Arin sibuk menyeka rambut dan wajahnya yang sebagian basah dengan tisu.
"Jadi kita mau jemput siapa nih?"
"Teman bosku. Bukan jemput sih, bos nitip sampel ke dia, makanya aku harus ketemu dia di bandara."
"Oh, ya..." Arin mengacak-acak rambutnya yang masih basah. "...nggak sengaja kemarin aku ketemu Milan waktu lagi kebutik Dito."
Hati Julia berdesir mendengar nama Milan disebut oleh Arin.
"Dia nanyain kamu," sambung Arin lagi.
Kali ini desirannya bertambah sepuluh kali lipat. Julia mencoba bersikap biasa dan tak menanggapi kata-kata Arin dengan ekspresi apapun. Tapi kenapa Milan tak menghubunginya dan lebih memilih bertanya kabar tentangnya lewat Arin? Apakah pertanyaan itu hanya basa-basi mengingat Arin dan Dito tahu mengenai masa lalunya dengan Julia? Tapi, tetap saja kabar ini seperti memupus rasa kesalnya karena menunggu dan bahkan mengenyahkan rasa apatisnya yang sempat dia coba tumbuhkan dalam hatinya. Menganggapnya sebagai sebuah rasa penasaran belaka.
"Apa ini namanya jodoh?" tukas Julia sambil tersenyum kecil. Sebuah ekspresi yang tiba-tiba saja meluncur dari mulutnya tanpa dia sadari. Setelah berkata demikian senyum di bibirnya perlahan memudar, berubah samar, kemudian hilang lenyap. Entah kenapa tiba-tiba ada pikiran seperti ini terbersit di otaknya. Kepala Julia bergerak cepat, menoleh ke kiri. Di sana Arin hanya memberikan pandangan yang Julia pahami. Matanya seakan bicara, "Kamu serius dengan kata-katamu barusan?"
"Karena kalian kembali ke kota ini lagi di waktu yang sama?" Julia tidak menjawab pertanyaan Arin.
"Jodoh bisa jadi siapa saja, bahkan orang yang hanya berpapasan dengan kita semenit lalu, sejam lalu, yang tak pernah kita perhatikan, bagaimana wajahnya, telinganya besar apa kecil, t**i lalatnya berapa, itu bisa jadi jodoh kita," kata Arin dengan senyum yang menggantung di bibirnya. Dia tahu Julia sedang berusaha menutupi rasa malunya akibat ekspresi tiba-tibanya tadi. Dia berusaha mencari cara agar membuat sahabatnya itu tidak terlalu tenggelam dengan gengsinya.
Julia tertawa kecil menimpali kata-kata sahabatnya. "Jodoh juga bisa jadi sahabat kita atau bahkan...orang yang paling kita benci?" Julia tersenyum menang. Arin hanya mengedikan bahu lalu tertawa pelan.
Sementara di luar sana, hujan deras masih betah mengguyur. Julia memacu pelan si Biru, menembus tetes-tetes air yang semakin rapat dan berat. Jalanan yang tergenang mungkin sudah mencapai semata kaki. Semua pengendara menjadi lebih berhati-hati, para pengguna jalan mendadak lebih manusiawi. Tak ada pengendara motor yang menyalip seenaknya, tak ada bus kota yang dengan entengnya berhenti tiba-tiba sesukanya hingga mendorong hasrat pengendara lain untuk mengumpat. Termasuk Julia. Meski rasanya dia ingin memaki karena jarum jam di pergelangan tangannya terus bergerak mendekati angka sepuluh, sementara kendaraan di depannya melaju slow motion.
Pukul 10.20. Julia meringis menatap pergelangan tangannya. Gerakannya dibuat dua kali lebih cepat. Dia pun tak peduli, mau pantatnya si Biru miring ke kiri kek, ke kanan kek, atau dua roda depannya kompak menengok ke kanan atau ke kiri, dia sudah tidak ada waktu lagi untuk parkir cantik. Teman Pak Hari pasti sudah menunggu lama. Julia melompat turun dari si Biru, tak lupa dia melempar kunci mobil ke arah Arin.
"Kamu beresin si Biru, terus menyusul ya." dia berteriak demi mengalahkan suara hujan yang masih belum reda. Gadis itu berlari kecil ke arah ground floor Adisucipto menuju terminal kedatangan.Tangan kanannya sibuk menarik ponsel dari dalam tas, sedangkan tangan kirinya berusaha menepis sisa-sisa air yang membasahi rambut dan sweater biru kesayangannya. Dia menghubungi cepat sebuah nomor yang telah di-SMS Pak Hari namun hanya mendapat jawaban dari seorang wanita yang mengatakan nomor yang dituju sedang tidak aktif atau berada di luar area. Dia mengembuskan napas kesal.
"Apa pesawatnya telat? Karena hujan?" pikirnya. Ada sedikit kelegaan yang tercipta. Sekali lagi, dia mencoba menghubungi dengan kepala yang bergerak aktif ke sana-kemari, mencari sosok yang mungkin saja terlihat sedang mengharapkan kedatangan seseorang. Mata Julia menangkap seorang pria yang berdiri dekat pilar di sebelah gerai Baskin Robbins. Dia mengenakan cargo pants berwarna classic umber dengan atasan kemeja biru lembut lengan panjang yang digulung sampai siku. Gerak gelisah dan bingung yang tercipta dari tubuh pria itu menarik perhatian Julia. Tangannya sibuk menghubungi ponselnya namun sesekali matanya mencari-cari sesuatu di sekelilingnya. Kadang sepatu cokelat yang dia kenakan menepuk kecil lantai di bawahnya. Julia ragu. Apa mungkin itu orangnya? Dengan ekor matanya Julia coba memindai dengan saksama pria yang berdiri dengan jarak empat meter darinya. Dia mencoba meyakinkan diri bahwa bisa saja dia teman Pak Hari.
"Udah ketemu?" Arin terengah-engah mendekati Julia. Rambut pendek sebahunya sudah lepek setengah basah. Julia tidak menjawab pertanyaan Arin, matanya masih belum berpindah dari sosok yang dia curigai sebagai teman Pak Hari itu. Kepala pria itu bergerak kemudian terangkat, sepertinya dia merasa kalau sedang dimata-matai. Beberapa detik kemudian Julia terpaku, matanya tak mampu lari dari sergapan pandangan si pria. Bibir pria itu tiba-tiba bergerak membentuk sebuah senyum yang semakin nyata menampakkan dua matanya yang menyipit meski kontras dengan alisnya yang tebal. Dan entah kenapa aksi tak terduga itu seperti mampu menyihir Julia, melemahkan semua inderanya, hingga dia...
"Milan?" gumam Arin di telinga Julia. Dan cukup satu nama itu terdengar, semua kesadaran Julia kembali ke skala normal, bahkan mungkin melesat naik ke batas paling atas.
"Ha? Siapa?"
"Ada Milan." Dagu Arin bergerak ke satu arah. Julia melotot melihat sosok Milan yang berjalan cepat dengan langkah panjang keluar dari pintu groundfloor. Julia menysukuri hilir mudik beberapa manusia di depan Milan, serta kaca mata aviator hitam yang mengiasi wajah pria itu, karena itu semua jadi distraksi yang sempurna agar pandangan Milan tak menangkap kehadirannya.
"Pergi dari sini! Cepat!" Julia menarik tangan Arin keras sehingga membuat sahabatnya itu hampir terjungkal ke depan. Di saat yang sama si pria bersenyum sihir itu berjalan ke arah Julia, satu tangannya terangkat melambai. Keduanya bertemu di satu titik, tak ada kontak mata, tak ada senyum yang singgah, yang ada hanya sapuan angin tipis saat tubuh mereka berjalan melawan arah.
"Jun!"
Teriakan Milan itu masih sempat menyapu pendengaran Julia.