Kudou Masahiro akhirnya bangkit duduk di lantai kayu, punggungnya bersandar pada kaki meja rendah. Kemejanya kusut, rambutnya berantakan, dan ada memar yang mulai muncul di tulang pipinya. Tidak ada satu pun pengawalnya yang berani mendekat. Mereka berdiri di sepanjang dinding, saling pandang, seperti anak-anak yang tidak tahu apakah mereka boleh bergerak.
Naofumi berjalan melintasi ruangan. Ia berhenti di depan Kudou, lalu, perlahan, berlutut di atas lantai yang berdebu tanpa memedulikan yukata biru tuanya. Ia duduk bersimpuh di sana, cukup dekat untuk menyentuh, tetapi tidak menyentuh.
Haruka, yang masih memeluk punggung Ryunosuke, perlahan melepaskan pelukannya. Ryunosuke menariknya mundur ke dekat pintu, memberi mereka berdua ruang.
“Kau datang.” Ucap Kudou tanpa mengangkat kepala.
“Aku datang.”
“Aku sudah bilang jangan datang.”
“Kau juga bilang itu dua belas tahun lalu, waktu pertama kali aku menawarimu makan malam di belakang pachinko itu.” Naofumi tersenyum tipis. “Kau bilang jangan sok baik, lalu menghabiskan tiga mangkuk ramen.”
Bahu Kudou bergetar sedikit. Haruka tidak tahu apakah pria itu tertawa atau melakukan hal lain.
Untuk waktu yang lama, mereka hanya duduk di sana. Lampu di langit-langit berhenti berayun. Dari kejauhan, terdengar bunyi kereta yang melintas di atas rel layang Ueno.
“Hari keempat.” Ucap Kudou akhirnya. Suaranya sangat pelan. “Aku melihatmu di gerbang Gonda.”
“Aku tahu.”
“Aku sudah meminum sakenya pagi itu. Gonda memberiku jas pertamaku. Ia menyuruhku berdiri di beranda supaya semua orang bisa melihat anggota barunya.” Kudou menatap kedua telapak tangannya yang terbuka di atas lutut. “Lalu aku melihatmu berlari dari ujung jalan dengan yukata yang robek dan rambut terurai. Kau datang sendirian. Aku belum pernah melihatmu tanpa ikat rambut.”
Naofumi tidak menjawab.
“Aku memalingkan muka karena aku malu, Nao.” Kudou menelan ludah. “Aku sudah meminumnya. Aku sudah menjadi milik Gonda. Tidak ada jalan kembali. Kalau aku menatapmu, aku harus mengakui bahwa kau datang, dan aku tidak menunggumu cukup lama. Jadi aku memutuskan untuk percaya bahwa kau tidak pernah datang. Lebih mudah membencimu daripada membenci diriku sendiri.”
Haruka merasakan tangan Ryunosuke di bahunya mengencang sedikit. Ia tahu sahabatnya juga mendengar sesuatu yang terlalu akrab dalam kalimat itu. Lebih mudah pergi daripada tinggal. Lebih mudah dibenci daripada mengakui takut.
“Aku terlambat sehari.” Ucap Naofumi. “Kau benar soal itu. Dan aku tidak pernah mencarimu lagi setelah itu, karena aku pikir kau sudah memilih. Aku juga memilih untuk percaya hal yang lebih mudah.” Ia mengulurkan tangan, ragu sesaat, lalu meletakkannya di atas kepala Kudou. Mengusapnya pelan, persis seperti caranya mengusap kepala Haruka. “Maafkan aku, Masahiro.”
Kudou memejamkan mata. Ia tidak menepis tangan itu.
**
Ketika akhirnya Kudou berdiri, ia kembali menjadi Ketua Bakuto. Ia mengambil jasnya dari tangan pengawal, memakainya, dan merapikan mansetnya dengan gerakan yang sama seperti malam di gudang nomor tujuh. Tetapi wajahnya tidak lagi sama.
Ia menatap keenam pengawalnya satu per satu.
“Dengarkan baik-baik, karena aku hanya akan mengatakannya sekali.” Suaranya tenang dan jelas. “Mulai malam ini, Bakuto tidak memiliki urusan apa pun dengan Mamizuka Ryunosuke. Tidak ada urusan dengan Shirai Haruka, atau kakaknya. Tidak ada urusan dengan Daycare di Shibuya, anak-anaknya, atau siapa pun yang bekerja di sana. Siapa pun yang menyebut nama mereka dengan niat buruk, berurusan denganku. Ini kata-kata ketua kalian.”
Keenam pria itu membungkuk dalam-dalam bersamaan. “Baik, Kumichou.”
Kudou mengangkat cawan sake putih dari atas kain ungu. Ia memandanginya sejenak, lalu membalikkan cawan itu dan meletakkannya kembali di atas meja dalam keadaan tertelungkup. Tidak ada upacara. Tidak ada yang akan minum dari cawan itu malam ini.
Lalu ia menoleh kepada Haruka.
Haruka menegang. Ia sudah bersiap mendengar kata umpan sekali lagi, sudah bersiap mengatur napas. Tetapi Kudou hanya menatapnya, lama, dengan sorot mata yang tidak bisa ia baca.
“Sakamoto ditangkap di Daycare kemarin siang.” Ucap Kudou. “Ia akan menyebut namaku kepada polisi, cepat atau lambat. Dan ia tidak akan berbohong. Penculikanmu di jalan Tekiya, gudang nomor tujuh, pistol di kepalamu. Semua itu atas perintahku.” Ia diam sebentar. “Kau bukan umpan, Haruka-kun. Umpan tidak kembali untuk menjemput. Aku salah menilaimu sejak awal. Maafkan aku.”
Haruka tidak tahu harus menjawab apa. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan koi kertas yang tergantung di langit-langit aula Daycare.
“Kau…” Haruka akhirnya bersuara. “Kau akan kabur?”
Kudou tertawa pendek. “Ketua bertanggung jawab atas setiap kata anak buahnya. Bukankah itu yang dikatakan temanmu?” Ia menatap Ryunosuke sekilas. “Kalau Sakamoto menyebut namaku, aku tidak akan bersembunyi di balik pengacara. Aku akan datang sendiri. Besok pagi, ke kantor polisi Shibuya.”
Para pengawalnya bergerak gelisah, tetapi tidak ada yang berani membantah.
“Kalau begitu, aku akan mengantarmu.” Ucap Naofumi, berdiri dan menepuk debu dari lututnya.
Kudou menatapnya. “Kau tidak perlu…”
“Aku tahu.” Naofumi menyelipkan kedua tangannya ke lengan yukata. “Dan setelah itu, aku akan menunggu. Berapa lama pun yang dibutuhkan. Aku sudah pernah terlambat sekali. Aku tidak akan terlambat lagi.”
Kudou tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Lalu ia memalingkan muka, seperti biasa. Tetapi kali ini Haruka melihat sudut bibirnya bergerak, dan kali ini ia memalingkan muka bukan karena malu.
“Rambutmu berantakan, Nao.” Gumamnya.
“Seseorang menariknya dua hari lalu.”
“Tentu saja.”
**
Mereka tiba di stasiun Ueno tepat ketika kereta terakhir ke Shibuya hampir berangkat. Haruka dan Ryunosuke berlari menaiki tangga dengan napas tersengal, jaket naga biru kembar berkibar di punggung mereka, dan melompat masuk ke gerbong sedetik sebelum pintunya tertutup.
Naofumi tidak ikut. Ia berdiri di peron bersama Kudou, dua sosok yang tampak sangat berbeda, satu berjas hitam dan satu berbalut yukata biru tua, berdiri berdampingan di bawah lampu neon. Naofumi mengangkat tangan dan melambai kepada mereka melalui kaca jendela kereta. Kudou tidak melambai, tetapi ia juga tidak berpaling.
Kereta bergerak. Gerbong itu hampir kosong. Haruka duduk di kursi panjang di samping Ryunosuke, menyandarkan kepala di dinding, dan merasakan seluruh tubuhnya tiba-tiba menjadi sangat berat. Bahunya sakit. Lengannya sakit. Pipinya sakit. Ia belum pernah merasa selelah dan selega ini seumur hidupnya.
“Ryu-chan.”
“Hm.”
“Kita menang?”
Ryunosuke menatap ke luar jendela, ke lampu-lampu kota Tokyo yang berlarian di kegelapan. Rahangnya membiru, sudut bibirnya robek sedikit. Ia akan sulit menjelaskan kepada anak-anak hari Senin nanti.
“Kita pulang.” Jawabnya. “Itu lebih baik.”
Haruka tersenyum. Matanya terpejam sendiri. Kepalanya terkulai pelan dari dinding gerbong dan mendarat di bahu Ryunosuke. Ia sudah setengah tertidur ketika merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti tubuhnya. Ryunosuke melepas jaket naga birunya untuk kesekian kalinya minggu itu dan menyelimutkannya ke tubuh Haruka, di atas jaket kembarannya.
“Tidurlah, Haru.” Ucap suara itu, sangat pelan, entah sungguh terdengar atau hanya mimpi. “Aku di sini.”
***