Ryunosuke sudah berdiri sebelum Sakamoto selesai berteriak.
Haruka melihat perubahan itu terjadi dalam satu tarikan napas. Pundak yang tadi rileks di bawah tumpukan anak-anak kini menegang. Tangan yang tadi mengusap krim kue dari hidung Taiga kini mengepal. Wajah yang tadi tersenyum kecil kini kosong dan dingin, persis seperti wajah yang menendang pintu gudang nomor tujuh. Ryunosuke melangkah ke arah pintu aula, dan anak-anak yang berdiri di jalannya mundur ketakutan tanpa tahu kenapa.
Haruka menangkap lengannya dengan tangan kanan.
“Jangan.”
“Lepaskan, Haru.”
“Tidak di depan mereka.” Haruka menatapnya lurus-lurus, lalu melirik ke belakang Ryunosuke. Dua puluh tiga pasang mata kecil menatap mereka berdua. Hina sudah mulai menangis. Kenta memeluk kotak kuenya. “Kalau kau keluar sekarang dengan wajah seperti itu, mereka akan mengingatnya seumur hidup. Itu yang Kudou mau. Dia mau mereka melihat Seiryu. Dia mau mereka takut padamu.”
Ryunosuke berhenti. Rahangnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.
“Tugasmu di sini, Sensei.” Ucap Haruka pelan. “Jaga mereka. Kunci pintunya. Kali ini, biar aku yang di depan.”
“Lenganmu…”
“Aku tidak akan memukul siapa pun.” Haruka tersenyum, meski senyum itu sedikit gemetar. “Aku cuma akan berdiri. Aku sudah latihan.”
Ia melepaskan lengan Ryunosuke, berbalik kepada Maiko yang sudah memegang ponsel, dan mengangguk. Maiko mengangguk balik dan mulai menekan nomor. Harumi menarik anak-anak ke pojok paling jauh dari jendela bersama Sasaki dan para orang tua. Haruka membuka pintu aula, melangkah keluar ke lorong, lalu ke teras depan, dan menutup pintu di belakangnya.
Udara siang terasa terlalu terang. Tiga pria itu berdiri di tengah halaman, di samping kotak pasir dan ayunan yang masih bergoyang pelan.
“Oh?” Sakamoto memiringkan kepala. “Yang keluar malah si umpan.”
Haruka berdiri di depan pintu teras. Ia menggeser kakinya sedikit, membuka dada, menurunkan bahu, seperti yang Naofumi ajarkan. Di belakangnya ada pintu. Di balik pintu ada lorong. Di ujung lorong ada aula. Di dalam aula ada dua puluh tiga anak dan satu menara balok yang miring ke kiri.
Itu Taiga, pikirnya. Semua itu Taiga.
“Polisi sedang dalam perjalanan.” Ucap Haruka. Suaranya lebih tenang dari yang ia duga. “Kalian sudah dicari. Kalau kalian pergi sekarang, setidaknya kalian tidak menambah masalah.”
“Masalah?” Sakamoto tertawa, tetapi tawanya terdengar retak. “Gara-gara kau, wajahku ada di layar kantor polisi seluruh Shibuya. Aku tidak bisa pulang ke apartemenku. Aku tidur di mobil tiga malam. Kudou-sama bilang kami cukup menjemput Seiryu setelah pestanya selesai, tanpa menyentuh siapa pun. Tapi aku berpikir, kenapa harus menunggu?” Ia menunjuk Haruka dengan dagunya. “Kenapa tidak sekalian membereskan pengganggu kecil yang membuat hidupku berantakan?”
Si Tongkat melangkah maju dan mengayunkan tongkat pemukul itu di udara. Bunyinya berdesing.
“Lihat dia.” Ejek Sakamoto. “Satu tangan. Wajah penuh plester kelinci. Dia bahkan tidak bisa mengepalkan tangan dengan benar. Kau tahu apa namanya itu, Haruka-kun? Lemah. Kau selalu lemah. Seiryu meninggalkanmu karena kau lemah. Ia hampir masuk Bakuto karena kau lemah. Semua orang di dalam sana dalam bahaya karena kau lemah.”
Kata itu menghantam dada Haruka. Panas langsung menjalar dari perutnya ke wajah. Tangannya mengepal sendiri.
Ia menarik napas.
Dua jam duduk bersila di atas rumput. Daruma merah. Suara Naofumi yang lembut dan menyebalkan. Apa kau akan membiarkan kata-kata itu memilih apa yang dilakukan tubuhmu?
Haruka membuka kepalan tangannya.
“Mungkin.” Ucapnya. “Tapi aku tetap berdiri di sini.”
Sakamoto berhenti tersenyum.
Si Tongkat menyerang. Haruka bergeser setengah langkah ke kiri, dan tongkat itu menghantam tiang teras di sampingnya, bukan kepalanya. Serpihan kayu beterbangan. Si Botak mencoba memutar ke samping untuk menuju jendela aula, dan Haruka bergerak memotong jalannya, menepis tangan yang terulur dengan lengan kanannya, lalu kembali ke depan pintu. Ia tidak memukul. Ia tidak menendang. Ia hanya terus bergerak, kiri dan kanan, seperti menjaga sebuah boneka daruma di halaman berumput.
“Diam di tempat, sialan!” Raung Si Tongkat.
Tongkat itu terayun lagi. Haruka menghindar, tetapi kakinya tergelincir di serpihan kayu, dan ujung tongkat menyerempet bahu kanannya. Rasa sakit meledak di sana. Ia terhuyung, punggungnya menabrak pintu, tetapi ia tidak jatuh. Ia tidak boleh jatuh.
Lalu ia mendengar bunyi yang paling tidak ingin ia dengar. Bunyi jendela samping aula yang terbuka.
“Jangan sakiti Onii-chan!”
Seorang bocah kecil berambut kecoklatan memanjat keluar dari jendela samping, menjatuhkan diri ke petak bunga, lalu berlari ke tengah halaman sambil mengacungkan sebuah pistol air berwarna hijau neon. Ia menembakkan air ke wajah Si Botak dengan kecepatan penuh.
“Pasukan, serang!”
Si Botak meraung kaget, air masuk ke matanya. Ia mengayunkan tangan dengan membabi buta, meraih kerah seragam Taiga dan mengangkat bocah itu dari tanah. Taiga menjerit dan menendang-nendang udara.
Haruka tidak berpikir. Ia tidak perlu berpikir. Untuk pertama kalinya, tubuhnya bergerak bukan karena marah.
Ia menerjang ke depan, menyelipkan diri di antara Si Botak dan Taiga, memeluk bocah itu dengan tangan kanannya dan memutar tubuhnya sendiri sehingga punggungnya menghadap ke luar. Si Botak melepaskan cengkeramannya karena terkejut. Haruka jatuh berlutut di atas pasir dengan Taiga di pelukannya, membungkuk serendah mungkin menutupi bocah itu. Ia mendengar bunyi tongkat berdesing di atasnya. Ia memejamkan mata dan menunggu.
Pukulan itu tidak pernah datang.
Ketika Haruka membuka mata, sepasang kaki berdiri di depannya. Kaki panjang dengan celana kerja abu-abu dan sandal Daycare berwarna kuning cerah. Di atasnya, apron bergambar bunga matahari, bernoda krim kue di bagian dada.
Ryunosuke menangkap tongkat pemukul itu dengan satu tangan, tepat di udara. Ia tidak bergerak lagi. Ia tidak membalas. Ia hanya memegangnya, dan menatap Si Tongkat dengan mata yang membuat pria itu melepaskan pegangannya dan mundur dua langkah dengan wajah pucat.
“Ryu-chan.” Bisik Haruka. “Jangan…”
“Aku tahu.” Ryunosuke tidak menoleh. Suaranya rendah dan sangat tenang. “Aku cuma berdiri. Aku juga sudah latihan. Lima tahun.”
Suara sirene terdengar dari ujung jalan, semakin lama semakin keras. Sakamoto berbalik untuk lari ke gerbang, tetapi empat pria berpakaian biasa sudah berdiri di sana dengan tangan terlipat, menutup jalan keluar tanpa melangkah satu kaki pun ke dalam halaman. Sakamoto berbalik lagi, mencari jalan lain, dan menemukan pagar beton yang terlalu tinggi dan pohon mangga yang dahannya terlalu jauh.
Dua mobil polisi berhenti di depan gerbang. Empat pria berpakaian biasa itu langsung lenyap ke balik tikungan, seperti tidak pernah ada.
**
Lima belas menit kemudian, Sakamoto, Si Botak, dan Si Tongkat duduk di kursi belakang dua mobil polisi dengan tangan diborgol. Haruka berdiri di dekat gerbang dengan Taiga yang masih menempel di kakinya seperti koala, menunjuk mereka satu per satu kepada petugas.
“Itu. Itu. Dan itu. Mereka yang menculikku di jalan menuju Tekiya. Mereka yang mengikatku di gudang nomor tujuh.”
Petugas mencatat. Sakamoto menatapnya dari balik kaca mobil dengan mata penuh kebencian, tetapi Haruka hanya menatapnya balik sampai mobil itu pergi.
Lalu, karena tubuhnya akhirnya menyerah, Haruka duduk begitu saja di atas pasir halaman. Bahunya berdenyut. Lengan kirinya berdenyut. Pipinya berdenyut. Taiga duduk di pangkuannya, basah kuyup karena pistol airnya bocor, memeluk lehernya erat-erat.
“Onii-chan.” Bisik bocah itu di telinganya. “Kau tidak lemah.”
Haruka tertawa. Tawanya pecah di tengah jalan menjadi sesuatu yang lain, dan ia membenamkan wajahnya di rambut kecoklatan Taiga yang berbau krim cokelat.
Di belakang mereka, Ryunosuke berlutut di atas pasir dan meletakkan tangannya di kepala Haruka. Ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak perlu berkata apa-apa.
***