Malam itu, Haruka sedang berusaha menggambar seekor naga untuk pesta Taiga ketika para penjaga di gerbang depan tiba-tiba berhenti bercanda.
Ia tidak akan menyadarinya kalau tidak sedang duduk di teras. Kertas gambarnya sudah penuh coretan. Naganya lebih mirip cacing yang memakai kumis, dan Harumi sudah dua kali menyarankan agar ia menulis kata ‘naga’ di bawahnya supaya orang tidak salah paham. Lalu suara tawa para penjaga di kejauhan berhenti mendadak, seperti radio yang dimatikan. Burung-burung malam berhenti berbunyi. Bahkan angin seakan menahan napas.
Naofumi, yang sedang membaca di ruang tengah, meletakkan bukunya dan berdiri.
“Tetap di sini.” Ucapnya kepada Haruka dan Harumi, lalu berjalan menuju gerbang depan dengan langkah tenang.
Haruka menunggu tepat tiga detik sebelum menyusul.
“Haruka!” Desis Harumi.
“Aku cuma mau lihat!”
Harumi mengomel pelan, lalu menyusulnya juga. Mereka berdua berjongkok di balik tembok kayu di samping gerbang, tempat bayangan pohon pinus menyembunyikan mereka dari cahaya lampion. Dari celah papan kayu, Haruka bisa melihat semuanya.
Kudou Masahiro berdiri di luar gerbang. Sendirian. Tidak ada pengawal berjas, tidak ada Sakamoto dan kawan-kawannya, tidak ada mobil hitam di belakangnya. Ia mengenakan jas gelap yang sama, tetapi dasinya dilonggarkan dan kancing atas kemejanya terbuka. Untuk pertama kalinya, ia tidak terlihat seperti ketua yakuza. Ia terlihat seperti seorang pria lelah yang tersesat di jalan pulang.
Para penjaga Tekiya berdiri berjajar di dalam gerbang, tangan mereka sudah di balik yukata. Naofumi mengangkat tangan, dan mereka mundur beberapa langkah.
“Masahiro.”
“Nao.” Kudou memandangi gerbang kayu tua itu, lalu halaman di belakangnya, lalu lampion-lampion yang bergoyang. “Masih sama. Kau bahkan tidak mengganti lampionnya.”
“Ayahku yang memilih lampion itu.”
“Aku ingat.” Kudou tersenyum tipis. “Aku memecahkan dua di antaranya waktu belajar menendang. Kau menyuruhku menggantinya dengan uang sakuku sendiri.”
Haruka melirik Harumi. Kakaknya sedang menutup mulut dengan kedua tangan, matanya membulat.
“Kenapa kau datang?” Tanya Naofumi.
“Anak itu melapor ke polisi.” Kudou memasukkan tangan ke saku celananya. “Sakamoto dan dua lainnya sekarang dicari. Rekaman dari kafe itu juga sudah ada di tangan mereka. Kau yang menyuruhnya?”
“Kakaknya yang menyeretnya.”
Kudou tertawa pendek. “Kakaknya. Tentu saja.” Ia menggeleng. “Polisi tidak akan menyentuhku, Nao. Kau tahu itu. Mereka akan menangkap tiga orang bodoh yang tertangkap kamera, dan aku akan mengirim pengacara.”
“Lalu kenapa kau datang?”
Kudou tidak menjawab. Ia memandang ke halaman berumput di balik bahu Naofumi, ke tempat rumput yang rebah karena Haruka jatuh di sana puluhan kali sore tadi. Haruka bisa melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Sesuatu yang sangat cepat, sangat kecil, dan langsung ditutup rapat.
“Kau melatihnya di halaman itu.”
“Ya.”
“Ia menarik rambutmu?”
Naofumi terdiam. “Bagaimana kau tahu?”
“Karena dulu aku juga menariknya. Kau memanjangkannya seperti mengundang orang untuk menariknya.” Kudou menghela napas. “Aku datang untuk memberimu satu kesempatan. Bilang pada anak itu untuk berhenti. Berhenti melapor, berhenti datang ke Daycare, berhenti mencoba mengubah pikiran Ryunosuke. Lusa, Ryunosuke akan meminum sake itu, dan semuanya selesai. Kalau anak itu terus mengganggu, aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi padanya.”
“Kau sudah berjanji pada Ryunosuke tidak akan menyentuhnya.”
“Aku berjanji orang-orangku tidak akan menyentuhnya. Aku tidak bisa berjanji ia tidak akan menyakiti dirinya sendiri dengan berdiri di tempat yang salah.”
Naofumi tidak segera menjawab. Ketika akhirnya ia bicara, suaranya sangat pelan, sampai Haruka harus menahan napas untuk mendengarnya.
“Ambil aku.”
Kudou menatapnya.
“Aku akan datang ke Ueno lusa. Sendiri. Aku akan menyerahkan wilayah Tekiya di Shibuya, atau apa pun yang kau inginkan. Lepaskan Ryunosuke.”
Untuk waktu yang lama, tidak ada yang bersuara. Lalu Kudou tertawa. Tawa yang keras dan sumbang, yang membuat para penjaga Tekiya kembali meraih balik yukata mereka.
“Sekarang?” Ucapnya di sela tawa. “Kau menawarkan dirimu sekarang? Untuk anak yang belum dua minggu kau kenal?” Tawanya berhenti seketika, seperti tali yang putus. “Dua belas tahun lalu aku duduk tiga hari di gudang Gonda, Nao. Tiga hari. Setiap kali pintunya terbuka, aku bilang pada diriku sendiri, itu pasti kau. Gonda datang di hari ketiga dan bilang kau sudah menjawab. Kau memilih wilayahmu.”
“Aku datang di hari keempat.”
Kudou membeku.
“Para tetua melarangku. Mereka bilang kalau ketua Tekiya tunduk pada pemerasan, semua keluarga lain akan memakan kita hidup-hidup. Jadi aku menjawab Gonda seperti yang mereka mau. Lalu malam berikutnya aku pergi sendirian ke rumah Gonda di Asakusa, tanpa memberitahu siapa pun.” Naofumi menatapnya lurus. “Kau berdiri di beranda. Kau memakai jas pertamamu. Ada cawan sake kosong di tanganmu. Kau melihatku di gerbang, Masahiro. Lalu kau memalingkan muka.”
Kudou tidak bergerak. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun. Tetapi tangannya, yang tadi terselip santai di saku celana, kini mengepal di sana.
“Bohong.” Ucapnya akhirnya. Suaranya serak.
“Kau tahu aku tidak berbohong padamu. Aku tidak pernah bisa.”
Kudou memalingkan wajah, persis seperti dua belas tahun lalu. Ia menatap jalan setapak yang gelap di belakangnya, jalan dua kilometer yang dulu ia lalui setiap hari pulang dari latihan.
“Terlambat sehari tetap terlambat.” Ucapnya pelan.
“Aku tahu.”
“Lusa, Nao.” Kudou berbalik dan mulai berjalan. Langkahnya tidak lagi teratur seperti biasa. “Jangan datang. Ini bukan urusanmu lagi.”
Ia berhenti setelah lima langkah, lalu menoleh sedikit, cukup untuk membuat cahaya lampion memantul di matanya.
“Oh, dan katakan pada anak itu,” ucapnya, kembali dengan nada dinginnya yang biasa, “pesta perpisahan di Daycare besok terdengar menyenangkan. Sayang sekali tidak semua tamu diundang.”
Kudou berjalan pergi ditelan kegelapan. Naofumi berdiri lama di gerbang, tidak bergerak, sampai para penjaga dengan ragu-ragu bertanya apakah mereka harus mengikutinya.
Di balik tembok kayu, Haruka merasakan seluruh darahnya membeku.
“Pesta…” Bisiknya. “Dari mana dia tahu soal pesta?”
Harumi menggenggam lengan kanannya erat-erat. Mereka berdua tahu jawabannya tanpa perlu mengucapkannya. Bakuto mengawasi Daycare. Bakuto selalu mengawasi.
***