Mikiya Sensei adalah pria tua bertubuh kecil dengan kacamata bulat yang selalu melorot ke ujung hidung. Haruka mengingatnya sebagai dokter yang memberinya surat keterangan sakit dan sebungkus obat dengan wajah datar, seolah merawat pemuda babak belur yang dipungut bosnya dari gang adalah kegiatan rutin setiap Selasa. Pagi itu, wajahnya tidak lagi datar.
“Luka sayatan ini terbuka lagi, dan sudah kotor. Siapa yang membalutnya dengan celemek?” Gerutunya sambil menggunting kain yang menempel di lengan Haruka. “Lalu kau masih berani berjalan dua kilometer tengah malam dengan lengan seperti ini. Kau ini manusia atau kecoak?”
Haruka ingin menjawab bahwa kecoak tidak perlu bekerja sambilan, tetapi Mikiya Sensei sudah mulai membersihkan lukanya, dan yang keluar dari mulut Haruka hanya jeritan tertahan yang membuat burung-burung di taman terbang ketakutan.
Setelah satu jam yang panjang, luka di lengan kirinya sudah dijahit ulang dan dibebat rapi. Mikiya Sensei menggantungkan lengan itu dengan kain penyangga yang diikat di leher Haruka, lalu menunjuk wajahnya dengan pinset.
“Dua minggu. Lengan ini tidak boleh dipakai mengangkat apa pun selama dua minggu. Tidak boleh dipakai memukul, tidak boleh dipakai menangkis, tidak boleh dipakai untuk apa pun yang ada di kepalamu yang bodoh itu.”
“Kalau untuk makan?”
“Pakai tangan kanan.”
“Kalau untuk menggaruk punggung?”
Mikiya Sensei menatapnya lama, lalu memberinya sebutir obat dan segelas air. Lima menit kemudian, Haruka tertidur di atas futon di sebuah kamar beralas tatami, masih memeluk jaket naga biru yang tidak mau ia lepaskan.
**
Di teras belakang, Ryunosuke duduk bersila dengan punggung lurus, kedua tangannya di atas lutut. Ia tidak menyentuh teh yang disuguhkan pelayan. Di depannya, di atas nampan, tergeletak ponsel bersarung biru milik Haruka, tas kain yang ditemukan di pinggir parit, dan sebelah sepatu kets putih yang masih berlumpur.
Naofumi duduk di seberangnya. Ia sudah berganti yukata, kali ini warna kelabu polos tanpa motif apa pun. Rambut panjangnya diikat seadanya. Ada lingkaran gelap di bawah matanya.
“Bagaimana kau menemukan tempat itu?” Tanya Ryunosuke tanpa basa-basi.
“Gudang nomor tujuh dulu milik seorang pedagang ikan yang berutang kepada Bakuto. Orang-orangku tahu tempat-tempat seperti itu. Kami memeriksa tiga tempat sebelum sampai ke sana.” Naofumi menuang teh untuk dirinya sendiri. “Kalau kau ingin bertanya kenapa aku datang terlambat, aku tidak punya jawaban yang bagus.”
“Aku tidak bertanya soal itu.”
“Lalu?”
Ryunosuke menatapnya dengan mata yang membuat banyak orang di Asakusa dulu memilih menyeberang jalan. Naofumi membalas tatapan itu dengan tenang.
“Kenapa kau mendekati Haruka?”
“Kebetulan.”
“Aku tidak percaya kebetulan yang melibatkan yakuza.”
“Aku pun tidak, sampai aku menemukan anak itu terkapar di gang dengan wajah penuh darah dan masih sempat bilang ia baik-baik saja.” Naofumi tersenyum tipis. “Kau boleh tidak percaya. Tapi aku tidak pernah menginginkanmu, Mamizuka-kun. Aku tidak merekrut orang yang tidak mau. Yang kuinginkan hanya Bakuto berhenti, dan Haruka-kun ingin hal yang sama. Hanya itu yang kami sepakati.”
Ryunosuke diam lama. Di taman, seekor burung pipit melompat-lompat di atas batu, mencari remah kue mochi yang mungkin ditinggalkan Haruka beberapa hari lalu.
“Dia bilang kau melatihnya.”
“Anak buahku yang melatihnya. Ia belum cukup kuat untuk kulatih sendiri.” Naofumi menyesap tehnya. “Tapi ia keras kepala. Ia jatuh, lalu bangun, lalu jatuh lagi. Ia melakukannya karena tidak ingin menjadi beban bagimu.”
Kalimat itu mengenai sesuatu di dalam dada Ryunosuke. Ia mengalihkan pandangan ke halaman berumput, ke rumput yang tampak rebah di satu bagian seakan sering ditiduri seseorang.
“Kudou memberimu waktu tujuh hari.” Lanjut Naofumi. Itu bukan pertanyaan. Haruka sempat menceritakannya dengan terbata-bata di mobil sebelum obat bius Mikiya membuatnya diam. “Kau benar-benar akan meminum sake itu?”
“Aku sudah memberikan kata-kataku.”
“Kepada seorang yakuza yang menodongkan pistol ke kepala sahabatmu.”
“Kata-kata tetap kata-kata.” Ryunosuke berdiri. Ia menatap ke arah lorong yang menuju kamar tempat Haruka tidur, lalu memalingkan wajah. “Selama tujuh hari, Kudou tidak akan menyentuh siapa pun. Setelah itu, aku yang akan berada di Bakuto, bukan Haru. Dia tidak perlu lagi berdiri di depanku dan dipukuli karena aku. Begini lebih baik.”
“Lebih baik untuk siapa?”
Ryunosuke tidak menjawab. Ia meletakkan ponsel Haruka di tangan Naofumi.
“Tolong jaga dia. Jangan biarkan dia melakukan hal bodoh.”
“Kau tidak mau menunggunya bangun?”
“Kalau aku menunggu, dia akan bicara. Dan kalau dia bicara…” Ryunosuke berhenti. Untuk sesaat, wajah yang selalu dingin itu tampak jauh lebih muda, hampir seperti remaja delapan belas tahun yang dulu berdiri di depan kamar rumah sakit tanpa berani masuk. “Aku harus berangkat ke Daycare. Kelasku dimulai jam delapan.”
Ia membungkuk singkat kepada Naofumi, sopan dan kaku, lalu pergi. Naofumi memandangi punggungnya sampai menghilang di balik gerbang, lalu menunduk menatap ponsel di tangannya.
“Keras kepala.” Gumamnya. “Kalian berdua.”
**
Haruka bangun saat matahari sudah tinggi. Ia membutuhkan beberapa detik untuk mengingat di mana ia berada, dan beberapa detik lagi untuk mengingat kenapa dadanya terasa begitu berat. Kursi besi. Pistol. Cawan putih di atas kain ungu.
Ia bangkit terlalu cepat sampai kepalanya berputar. “Ryu-chan?”
Pintu geser terbuka, tetapi yang masuk adalah Naofumi membawa nampan berisi bubur dan acar plum. Naofumi tidak perlu berkata apa-apa. Haruka membaca jawabannya dari cara pria itu tidak menatap matanya.
“Dia pergi.” Ucap Haruka. Suaranya datar. “Dia pergi lagi, ya?”
“Ia pergi bekerja. Ia menitipkanmu padaku.”
“Menitipkan?” Haruka tertawa, tetapi tawanya terdengar aneh dan sumbang. Tangan kanannya meremas jaket naga biru di pangkuannya. “Dia menitipkanku. Seperti barang. Seperti lima tahun lalu dia menitipkanku pada Nee-chan dan membayar biaya rumah sakit lalu menghilang. Dan sekarang dia mau masuk Bakuto, dan dia bahkan tidak mau menungguku bangun untuk…”
Kalimatnya terputus. Haruka melempar bantal ke dinding dengan tangan kanannya. Bantal itu memantul dan jatuh di atas nampan bubur, menumpahkan acar plum ke tatami.
“Haruka-kun.”
“Dia pikir dia siapa?!” Teriak Haruka. Air matanya sudah jatuh lagi, dan ia benci itu. “Dia pikir dia bisa memutuskan semuanya sendiri? Dia pikir aku akan diam saja dan pulang ke Asakusa sementara dia minum sake bersama Kudou sialan itu? Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak akan membiarkannya!”
Naofumi berlutut di sampingnya. Ia memunguti acar plum yang berserakan satu per satu, meletakkannya kembali di piring kecil, lalu mengusap kepala Haruka dengan lembut seperti biasa. Kali ini Haruka tidak duduk kaku. Kali ini ia menunduk dan membiarkan bahunya bergetar.
“Kalau begitu, makan dulu.” Ucap Naofumi pelan. “Orang yang mau melawan keputusan Seiryu butuh tenaga.”
***