Butuh sebelas hari bagi laboratorium forensik digital untuk memperbaiki kaset itu. Mereka membersihkan dengung, memisahkan dua lapis suara, lalu menyambung potongan yang nyaris hilang di ujung pita.
Ketika hasilnya diputar di ruang penyidik, tidak ada yang berani bersuara. Albert duduk paling depan. Akira di sampingnya, memegang lengannya dengan kedua tangan.
“...jangan di luar. Di ruang kerja. Pastikan dia sendirian.”
“Kalau ada orang lain?”
“Tidak akan ada. Sudah diatur. Bea yang urus pintu belakang. Alarmnya mati jam sembilan. Rina yang bikin dia naik ke atas.”
Jeda. Kursi digeser.
“Kalau dia melawan?”
“Tembak.” Suara Damian terdengar jengkel, seperti orang yang harus mengulang instruksi sederhana. “Sekali saja. Jangan berantakan.”
Teknisi menghentikan rekaman. Ruangan itu terasa kehabisan udara.
Albert menunduk, kedua sikunya di lutut, tangan menutupi wajah. Tidak ada air mata. Hanya napas yang keluar panjang sekali, seperti orang yang baru selesai memanggul sesuatu dari jarak tujuh belas tahun.
“Kita sudah punya semuanya,” kata Pak Surya pelan.
“Belum,” kata Albert. Ia mengangkat wajah. “Satu bagian lagi.”
“Bagian apa?”
“Ayahku.”
Bagian itu muncul dari keterangan Harlan, dari catatan panggilan lama, dan dari satu kalimat yang tidak pernah bisa dijelaskan siapa pun selama belasan tahun: kenapa ayah Albert berdiri memegang senjata tanpa menembakkannya.
Ayahnya datang terlambat. Itu saja. Delapan menit terlambat.
Ia masuk, menemukan istrinya sudah tidak bernyawa, lalu mengambil senjata yang tergeletak di karpet karena satu-satunya hal yang terpikir olehnya adalah menyembunyikannya sebelum orang lain melihat. Ia bahkan tidak tahu senjata itu milik perusahaan keamanannya sendiri.
Dan Damian, yang berdiri di lorong dan menyaksikan semua itu, menemukan hadiah yang tidak pernah ia rencanakan: seorang suami dengan senjata di tangan dan istri yang mati di lantai.
Sisanya hanya soal cerita mana yang disebarkan lebih cepat.
“Dia yang menyebarkan kabar bunuh diri,” kata Pak Surya. “Dan dia juga yang membisikkan ke telinga anak-anak perusahaan bahwa ayahmu pelakunya.”
“Kenapa dua-duanya sekaligus?” tanya Akira.
“Karena dua-duanya berguna,” jawab Albert. Suaranya pahit. “Bunuh diri untuk polisi. Pembunuhan untuk aku. Supaya aku tumbuh besar sambil membenci ayahku, membenci keluarga ibumu, membenci siapa pun kecuali dia.”
Akira menatapnya lama. “Dan itu berhasil.”
“Selama tujuh belas tahun,” kata Albert. “Berhasil sempurna.”
Sidang berlangsung selama dua bulan.
Majelis hakim menerima rekaman yang telah diautentikasi, buku harian Rina lengkap dengan hasil uji tulisan tangan, buku catatan pengiriman uang milik Darto, serta kesaksian Harlan yang berdiri di mimbar selama tiga jam tanpa sekali pun mengubah keterangannya.
Damian dinyatakan sebagai dalang utama. Beatrice dan Darto dinyatakan turut membantu; yang satu menjalani putusannya, yang satu lagi sudah lebih dulu dijemput kematiannya sendiri.
Dan di paragraf yang paling ditunggu Albert, majelis menyatakan satu hal lagi.
Ibunya tidak bunuh diri.
Nama perempuan itu dibersihkan dari tuduhan yang selama belasan tahun ditempelkan orang-orang di belakang punggungnya. Di baris berikutnya, nama Sofia juga disebut: tidak bersalah dalam konflik lama yang selama ini dipakai untuk membenarkan segala hal yang Albert lakukan kepada putrinya.
Akira menangis di kursinya. Bukan tangis lega. Tangis yang tertahan terlalu lama.
Di kursi terdakwa, Damian mendengarkan putusan itu tanpa mengubah posisi duduknya sedikit pun. Hanya sekali ia menoleh, mencari wajah Albert di barisan pengunjung. Tatapan mereka bertemu selama dua detik. Albert tidak menunduk, tidak pula menang. Ia hanya menatap balik seperti orang yang akhirnya melihat sesuatu apa adanya: bukan monster, bukan bayangan raksasa yang mengatur hidupnya sejak remaja, melainkan laki-laki tua dengan kemeja kebesaran yang sebentar lagi diborgol.
Itu pertemuan terakhir mereka di ruangan yang sama.
Albert menggenggam tangannya dan tidak melepaskannya sampai sidang ditutup.
Mereka pergi ke makam pada Minggu pagi, ketika rumput masih basah dan langit berwarna abu muda.
Albert membawa bunga putih dan sebuah amplop yang sudah kusut di sudutnya. Amplop itu ia simpan sejak usia tujuh belas tahun. Surat terakhir ibunya, yang ditulis tiga hari sebelum malam itu, berisi hal-hal kecil: jangan lupa makan, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Ibu akan pulang cepat minggu ini.
Ia berjongkok, meletakkan bunga, lalu meletakkan amplop itu di sampingnya.
Untuk beberapa saat ia hanya diam. Angin menggerakkan daun-daun kamboja di atas mereka.
“Aku akhirnya tahu kebenarannya,” kata Albert. Suaranya serak. “Maaf karena butuh waktu begitu lama.”
Akira berdiri di sampingnya dan menggenggam tangan Albert. Tidak ada yang ia katakan. Tidak perlu.
Albert menunduk lebih dalam.
“Aku sempat membenci orang yang salah, Bu,” katanya. “Aku menyakiti orang yang salah. Dan aku hampir menghabiskan seluruh hidupku untuk itu.”
Jemari Akira mengerat di tangannya.
“Tapi aku berhenti sekarang,” kata Albert. “Aku berhenti.”
Ia menepati kalimat itu.
Rencana balas dendam yang sudah disusun bertahun-tahun—daftar perusahaan yang akan dijatuhkan, orang-orang yang akan dihancurkan namanya, aset keluarga Sofia yang sudah ia incar sampai ke akta terakhir—dibatalkan seluruhnya dalam satu rapat yang berlangsung kurang dari dua puluh menit.
Sebagian aset itu ia ubah menjadi dana bantuan. Untuk anak-anak yang namanya ada di foto-foto dalam koper Damian, untuk keluarga yang kehilangan mereka, untuk yang sudah dewasa dan tidak pernah tahu siapa dirinya sebelum masuk panti itu.
“Kamu yakin?” tanya Akira saat menandatangani berkas sebagai saksi.
“Aku tidak butuh uang sebanyak itu untuk hidup,” kata Albert. “Aku cuma butuh tidur tanpa mimpi buruk.”
Hubungan mereka pulih pelan-pelan, seperti luka yang tidak boleh diburu-buru.
Ada hari-hari ketika Akira masih tidak bisa menatapnya lama-lama, dan Albert tidak memaksa. Ada malam ketika Albert terbangun dan mendapati Akira sudah duduk di tepi ranjang, tangannya di perut, memandangi jendela. Ia akan duduk di sebelahnya tanpa bertanya, dan begitu saja sampai pagi.
Mereka tidak lagi menjalani pernikahan itu sebagai hukuman. Untuk pertama kalinya, itu menjadi pilihan—pilihan yang dibuat dua orang yang sama-sama sudah tahu isi terburuk satu sama lain dan tetap memilih tinggal.
Pagi di makam itu, ketika mereka berjalan kembali ke mobil, Albert merasa ringan dengan cara yang hampir asing.
Lalu ponsel Akira bergetar.
Ia mengeluarkannya sambil tersenyum, mengira itu Sofia yang biasa menanyakan hasil pemeriksaan kandungan.
Nomornya tidak dikenal.
Senyum itu hilang perlahan dari wajahnya sampai Albert berhenti berjalan.
“Kenapa?”
Akira tidak menjawab. Tangannya turun, dan layar ponsel itu menyala ke arah Albert.
“Kebenaran tentang ibumu memang sudah terungkap. Tapi anak yang kamu kandung bukan hanya pewaris keluarga Albert. Dia adalah kunci terakhir jaringan.”