Albert dan Akira berangkat pagi-pagi menuju panti asuhan yang alamatnya tercantum dalam dokumen. Matahari bahkan belum benar-benar naik ketika mobil mereka keluar dari kota.
Bangunannya berada jauh dari pusat kota, di ujung jalan tanah yang diapit kebun singkong. Pagarnya tinggi, dicat abu-abu, dengan kawat di bagian atas. Tidak ada papan nama di depan gerbang. Tidak ada apa pun yang memberi tahu orang lewat bahwa di dalam sana ada anak-anak.
Pak Surya meminta polisi mengawasi dari jarak jauh. Albert dan Akira masuk setelah menunjukkan surat perintah pemeriksaan kepada penjaga.
Seorang perempuan paruh baya menyambut mereka di teras dengan wajah tegang dan tangan yang tidak berhenti meremas ujung kerudungnya.
“Kami ingin memeriksa data anak-anak di sini,” kata Albert.
“Tempat ini tidak menerima tamu.”
“Ini bukan kunjungan.”
Akira maju dan menunjukkan dokumen yang mencantumkan identitasnya sebagai penyandang dana. Perempuan itu membacanya sekilas, lalu wajahnya langsung pucat.
“Saya tidak tahu siapa Anda.”
“Nama saya digunakan untuk membayar tempat ini,” jawab Akira. “Saya berhak mengetahui apa yang terjadi.”
Perempuan itu berdiri diam beberapa saat, lalu akhirnya membuka pintu.
Di dalam, belasan anak sedang belajar di ruang tengah yang dialasi tikar. Mereka menoleh serentak, lalu kembali menunduk ke buku masing-masing, terlalu patuh untuk anak-anak seusia itu. Mereka tidak tampak kekurangan makanan. Bajunya bersih, rambutnya rapi.
Tetapi Akira memperhatikan sesuatu yang lain. Semua kamar memiliki jendela, dan semua jendela itu dipaku mati.
Albert memeriksa ruang administrasi. Di dalam lemari ia menemukan buku rekening pembayaran dan daftar anak yang menggunakan nama keluarga berbeda-beda. Beberapa nama terasa tidak asing; sebagian anak ternyata memiliki hubungan dengan korban jaringan Damian.
“Siapa yang mengurus mereka?” tanya Akira.
“Seorang lelaki bernama Tuan H.”
Nama itu membuat Albert langsung teringat Hendra. Namun perempuan tersebut menggeleng ketika ditanya lebih jauh; katanya Tuan H jarang muncul dan selalu berkomunikasi melalui telepon.
Seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun mendekati Akira dengan langkah ragu.
“Kakak adalah orang yang membayar sekolah kami?” tanyanya.
Akira berlutut agar sejajar dengannya. “Aku tidak tahu sebelumnya, tetapi aku ingin membantu kalian.”
Anak itu menunduk. “Tuan H bilang Kakak akan membawa kami pergi kalau kami tidak patuh.”
Akira terkejut sampai tidak bisa menjawab. Anak-anak itu takut kepadanya. Selama bertahun-tahun, seseorang menggunakan namanya sebagai ancaman, dan mereka tumbuh dengan membayangkan wajah perempuan jahat yang bisa datang kapan saja.
Albert meminta polisi membawa pengurus panti untuk diperiksa. Namun begitu mendengar kata polisi, perempuan itu berbalik dan berlari melalui pintu belakang.
Mereka mengejarnya sampai ke halaman, tetapi sebuah mobil sudah menunggu di jalan dan menjemputnya lebih dulu. Sebelum pintu tertutup, perempuan itu menoleh dan melemparkan sesuatu ke arah Akira.
Sebuah kartu memori kecil, jatuh di rumput.
Mereka memutarnya di laptop Pak Surya. Di dalamnya terdapat rekaman pertemuan antara pengurus panti dan seseorang yang wajahnya tertutup topi dan masker.
Suara lelaki itu terdengar jelas.
“Akira akan datang. Pastikan dia melihat anak-anak dan merasa bersalah. Rasa bersalah akan membuatnya mengikuti arahan kita.”
Akira menahan napas. Semua ini bukan penemuan mereka. Mereka memang sengaja dipancing, bahkan sampai ke jam kedatangan.
Rekaman berikutnya lebih buruk. Layar menampilkan peta dengan titik-titik merah: rumah sakit lama, rumah Marcus, kantor Pak Surya, dan rumah Albert sendiri. Semua orang yang berhubungan dengan masa lalu Albert sedang diawasi.
“Tuan H bukan Hendra,” kata Pak Surya setelah mendengar rekaman itu dua kali. “Nama itu mungkin singkatan dari orang lain.”
Albert menelusuri pembayaran dan menemukan rekening pemilik panti. Dana berasal dari perusahaan yang baru dibentuk tiga bulan lalu, menggunakan nama Sofia sebagai pemilik.
Akira merasa marah sampai tangannya gemetar. “Mereka terus memakai nama ibu untuk menjebak aku.”
Sofia datang ke panti siang itu setelah diberi tahu. Ia berdiri di ambang pintu ruang tengah dan melihat anak-anak itu dengan wajah sedih.
“Ibu tidak pernah membangun tempat ini,” katanya.
“Tapi seseorang ingin membuatku percaya bahwa Ibu melakukan semuanya,” jawab Akira.
Sofia berjalan mendekati anak-anak dan duduk di lantai bersama mereka. Ia berbicara dengan lembut, menanyakan nama satu per satu, memuji tulisan mereka. Perlahan anak-anak itu mulai bercerita.
Tuan H sering datang membawa map besar. Ia memaksa mereka menghafal nama-nama keluarga, mengulanginya sampai benar, dan menghukum yang salah dengan tidak diberi makan malam.
Raka meminta mereka menggambar wajah Tuan H di kertas kosong.
Anak-anak menggambar dengan serius. Hasilnya berbeda-beda, tetapi beberapa gambar menunjukkan hal yang sama: seorang lelaki dengan garis panjang di leher.
Albert mengambil salah satu kertas itu dan menatapnya lama. Ia teringat seorang mantan pengawal ayahnya yang pernah menghilang setelah kematian sang ibu. Lelaki bertubuh besar dengan bekas luka memanjang di leher kirinya.
“Harlan,” gumamnya.
“Harlan adalah orang yang menjaga rumah sakit malam itu,” kata Pak Surya, membuka catatannya. “Dia dikira meninggal dalam kecelakaan, tetapi tubuhnya tidak pernah ditemukan.”
Mereka mencari Harlan melalui arsip lama sepanjang sore. Namanya muncul lagi lima tahun kemudian, dengan identitas baru, sebagai pengusaha yayasan kecil di pinggiran kota.
Menjelang magrib, ponsel Albert bergetar. Nomor tidak dikenal.
“Kamu menemukan anak-anak itu. Bagus. Sekarang datang ke rumah yang pernah menjadi milik ibumu jika ingin tahu siapa yang memberi perintah.”
Albert menunjukkan pesan tersebut kepada Akira.
“Aku ikut,” kata Akira.
“Ini mungkin jebakan.”
“Semua jalan yang kita pilih selalu memiliki jebakan.” Akira mengangkat bahu. “Setidaknya kali ini kita tahu apa yang dicari.”
Sebelum berangkat, mereka memindahkan anak-anak ke tempat perlindungan resmi. Akira berjongkok di depan anak perempuan yang tadi bertanya kepadanya dan berjanji akan datang lagi. Anak itu tidak menjawab, tetapi tidak lagi mundur ketika Akira mengulurkan tangan.
Polisi menahan panti dan seluruh dokumen di dalamnya.
Malamnya, Albert dan Akira tiba di rumah lama ibu Albert. Rumah tersebut sudah bertahun-tahun kosong. Pagarnya berkarat, halamannya ditumbuhi ilalang setinggi pinggang, dan jalan masuknya nyaris hilang tertutup rumput.
Tetapi lampu ruang tengah menyala.
Albert mendorong pintu depan yang tidak terkunci. Bau debu dan kayu tua menyambut mereka. Perabot masih berada di tempatnya, hanya tertutup kain putih yang kini kelabu.
Harlan berdiri di dekat perapian, membelakangi api kecil yang ia nyalakan sendiri. Wajahnya lebih tua dari yang Albert ingat, rambutnya menipis, tetapi bekas luka di lehernya terlihat jelas tersorot cahaya.
“Kamu akhirnya datang,” katanya.
Albert mengarahkan senter ke wajahnya. “Kamu masih hidup.”
Harlan tersenyum. “Saya bukan hanya hidup. Saya adalah orang yang pertama menemukan ibu Anda setelah dia ditembak.”
Akira menggenggam lengan Albert. “Siapa yang menembaknya?”
Harlan memandang mereka bergantian, seperti menimbang apakah kalimat berikutnya pantas diucapkan.
“Bukan Damian, bukan pamanmu, dan bukan keluarga Sofia.”
Ia menunjuk sebuah foto lama yang berdiri di atas perapian.
“Orang yang menembak ibu Albert adalah orang yang selama ini kalian panggil ayah.”