Albert dan Akira tiba di sebuah kota kecil di luar negeri dua hari kemudian. Udaranya dingin dan berkabut, jauh berbeda dengan kota mereka. Marcus meminta mereka bertemu di sebuah rumah tua dekat danau, pukul sepuluh pagi, tanpa siapa pun yang lain.
Meskipun pesan itu menyebut Albert harus datang sendiri, Albert tidak mau lagi mengambil risiko.
“Aku tidak akan menunggu di hotel,” kata Akira sebelum sempat dilarang.
“Aku tahu.”
Akira mengerutkan dahi. “Secepat itu menyerah?”
“Aku sudah belajar,” jawab Albert. “Melarangmu hanya membuatmu pergi diam-diam, dan itu lebih berbahaya.”
Mereka datang bersama pengacara Pak Surya dan dua petugas keamanan. Rumah Marcus tampak sederhana, berdinding kayu dengan cat yang mulai terkelupas, jauh dari kemewahan yang biasa melekat pada nama keluarga Albert.
Seorang lelaki berusia hampir enam puluh tahun membuka pintu. Wajahnya memiliki sedikit kemiripan dengan ayah Albert, terutama di bagian hidung dan garis rahang, tetapi sorot matanya penuh kelelahan yang tidak pernah dimiliki ayahnya.
“Kau benar-benar datang,” katanya.
“Anda Marcus?”
Lelaki itu mengangguk dan mempersilakan mereka masuk. Di ruang tamu yang hanya berisi meja kecil dan dua kursi, ia mengambil sebuah foto lama dari rak: dua anak laki-laki berdiri di depan sepeda, keduanya tertawa lebar.
“Kami dulu sangat dekat,” kata Marcus. “Sampai ayah kami meninggalkan seluruh harta kepada ayahmu.”
Albert menatap foto tersebut lama sekali. Ia tidak pernah melihat ayahnya tertawa seperti itu.
“Kenapa Anda menghilang?”
“Karena keluarga kami memilihnya. Saya dituduh mencuri, padahal orang lain yang mengambil uang itu.”
Marcus duduk dan menjelaskan bahwa paman Akira bukan satu-satunya orang yang memalsukan dokumen. Ayah Albert memiliki seorang pengacara yang mengatur pembagian warisan, dan pengacara itulah yang menyusun bukti sampai Marcus terlihat bersalah.
“Pengacara itu adalah orang yang sama yang menghubungi ibumu sebelum kematiannya,” katanya.
Marcus lalu bangkit, membuka lemari, dan menyerahkan berkas lama yang terikat karet kering. Di dalamnya terdapat surat yang menunjukkan ibunya Albert telah meminta bantuan Marcus beberapa minggu sebelum meninggal.
“Dia tahu dirinya dalam bahaya,” kata Marcus. “Dia ingin membawa Albert pergi, tetapi tidak sempat.”
Albert membaca surat tersebut dengan tangan gemetar. Tulisan tangan ibunya masih sama rapinya. Di paragraf terakhir, perempuan itu menulis bahwa seseorang di keluarga mereka sedang menggunakan dendam untuk menghancurkan dua keluarga sekaligus.
“Kenapa Anda tidak datang menyelamatkan saya?” tanya Albert. Suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan.
Marcus menunduk. “Saya ditangkap atas tuduhan pencurian. Ketika bebas, ibumu sudah meninggal dan kamu sudah dibawa pergi oleh ayahmu. Saya mencari selama dua tahun, lalu berhenti. Itu kesalahan yang saya bawa sampai sekarang.”
Akira duduk di samping Albert dan meletakkan tangannya di punggung suaminya. Ia merasakan betapa berat masa lalu yang baru saja terbuka di ruangan sesempit itu.
Marcus lalu menyebut nama pengacara tersebut.
“Damian.”
“Damian masih hidup?” tanya Pak Surya, terkejut.
“Dia menggunakan banyak identitas. Sekarang dia dikenal sebagai penasihat keluarga Sofia.”
Albert mengangkat kepala. Selama ini ia mengira Damian hanyalah salah satu orang yang membantu mengurus perusahaan keluarga Akira, sosok tua yang selalu berdiri di belakang dan tidak pernah banyak bicara.
“Apakah Damian bekerja sama dengan paman Akira?”
“Dia yang memulai semua konflik. Pamanmu dan ayah Akira hanya menjadi alat.”
Marcus menjelaskan bahwa Damian membuat Albert percaya Sofia adalah penyebab kematian ibunya. Ia juga mengatur transaksi palsu di kedua perusahaan agar masing-masing menuduh yang lain.
“Tujuannya menguasai semua aset setelah kedua keluarga saling menghancurkan,” kata Marcus. “Dia tidak perlu menang. Dia hanya perlu menunggu.”
Albert berdiri. “Di mana Damian sekarang?”
Marcus menuliskan alamat sebuah kantor penasihat hukum di kota lain dan menyodorkan kertas itu. Namun, sebelum Albert sempat melipatnya, terdengar suara kaca pecah dari belakang rumah.
Sebuah peluru menembus jendela dan mengenai Marcus.
“Menunduk!”
Albert menarik Akira ke lantai dan menutupi tubuh istrinya dengan punggungnya, sementara kedua petugas keamanan membalas tembakan dari sisi jendela. Serpihan kaca berhamburan di atas karpet.
Marcus terluka di lengan atas, darahnya cepat membasahi lengan baju, tetapi ia masih sadar.
“Mereka menemukan kita,” katanya sambil meringis.
Albert merangkak mendekat dan menekan luka Marcus dengan kain penutup meja. Akira, dengan tangan gemetar, menghubungi ambulans dan polisi setempat menggunakan bahasa seadanya sampai petugas keamanan mengambil alih teleponnya.
Penembak melarikan diri menggunakan kendaraan hitam. Salah satu petugas berhasil mengambil gambar plat nomornya dari balik pagar.
Beberapa jam kemudian, polisi menemukan kendaraan itu ditinggalkan di pinggir hutan. Di dalamnya terdapat dokumen perjalanan atas nama Damian.
Marcus dibawa ke rumah sakit. Sebelum masuk ke ruang operasi, ia menahan tangan Albert dengan sisa tenaganya.
“Jangan mengejarnya tanpa persiapan. Damian tidak bekerja sendirian.”
“Saya akan mengakhiri semuanya.”
Marcus menggeleng lemah. “Jangan menjadi seperti dia. Jangan biarkan dendam menguasai hidupmu.”
Pintu ruang operasi menutup, dan nasihat itu tertinggal di lorong bersama Albert. Ia berdiri di sana cukup lama. Ia menyadari Marcus melihat dirinya seperti cermin masa lalu, dan yang paling membuatnya tidak nyaman adalah kenyataan bahwa lelaki itu tidak salah.
Setelah Marcus stabil, Albert menghubungi Pak Surya dan meminta semua rekening keluarga diperiksa ulang. Hasilnya keluar dalam semalam: banyak transaksi lama ternyata masuk ke perusahaan fiktif milik Damian, disamarkan sebagai pembayaran jasa konsultasi.
Akira, yang ikut memeriksa berkas sampai larut, menemukan satu dokumen yang mencantumkan nama Sofia sebagai penerima uang. Namun tanda tangannya jelas dipalsukan; huruf awalnya bahkan miring ke arah yang berbeda.
“Ibu saya juga dijebak,” katanya.
Albert menggenggam tangannya. “Kita akan membersihkan nama kalian.”
Keesokan harinya mereka kembali ke rumah Marcus untuk mengambil bukti lain sebelum polisi menyegelnya. Di ruang bawah tanah yang penuh rak arsip, mereka menemukan sebuah kaset video lama beserta pemutarnya.
Rekaman itu menunjukkan Damian bertemu paman Akira bertahun-tahun lalu di sebuah restoran. Gambarnya berbintik, tetapi suaranya cukup jelas.
“Anak itu akan menjadi sasaran balas dendam yang sempurna,” kata Damian di layar. “Orang yang kehilangan ibunya terlalu dini akan percaya kepada siapa pun yang memberinya nama untuk dibenci.”
Akira menatap Albert. “Dia menggunakan rasa sakitmu.”
“Dan aku hampir menghancurkanmu karenanya.”
Akira berdiri di hadapannya dan memegang kedua sisi wajah laki-laki itu. “Kamu berhenti sebelum terlambat.”
Mereka berpelukan di ruang yang penuh arsip masa lalu, di antara kardus-kardus yang menyimpan bertahun-tahun kebohongan.
Ponsel Albert berbunyi di saku. Bukan telepon dari Pak Surya. Damian mengirim pesan langsung.
“Kalian boleh membersihkan nama Sofia dan ibu Albert. Tapi jika ingin menyelamatkan Marcus, datang ke gedung opera lama sebelum tengah malam. Datang tanpa polisi.”
Albert menatap Akira. Kali ini mereka sama-sama tahu bahwa pertemuan tersebut adalah jebakan, tetapi juga kesempatan terakhir untuk menangkap orang yang memulai semua penderitaan.