Akira membaca pesan itu berulang kali. Lima kali, mungkin lebih. Huruf-hurufnya tidak berubah, tetapi ia tetap membacanya, seolah kalimat itu akan mengaku bohong kalau ditatap cukup lama.
Nama ibunya di layar membuat dadanya sesak. Sofia sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Akira sendiri yang berdiri di depan makamnya setiap tahun, menaruh bunga, berbicara kepada batu yang tidak pernah menjawab. Namun pesan tersebut dikirim dari telepon milik paman Akira, tertanggal dua hari lalu.
“Aku harus pergi,” kata Akira.
Albert langsung menggeleng. “Tidak sendirian.”
“Pesannya jelas meminta aku tidak membawamu.”
“Justru itu yang membuatku curiga.”
Akira menatap layar lagi. “Kalau orang itu memiliki informasi tentang ibuku, aku harus mengetahuinya.”
Albert berjalan mondar-mandir di ruang penyidik, dua langkah ke kiri, dua langkah ke kanan, tangannya menggosok tengkuk. Ia tidak ingin melarang Akira. Ia tahu betul rasanya kehilangan seorang ibu dan ia tidak berhak menutup satu-satunya pintu yang mungkin terbuka. Tetapi ia juga tidak sanggup membiarkan istrinya berjalan masuk ke sesuatu yang sangat mungkin merupakan jebakan.
“Kita bisa meminta polisi memantau dari jauh,” katanya.
“Aku akan pergi sendiri. Kamu tetap di luar lokasi.”
Albert berhenti dan menatapnya lama. “Aku tidak suka rencana itu.”
“Aku juga tidak suka harus pergi tanpa kamu.”
Kalimat itu membuat Albert terdiam. Ada sesuatu yang mengendur di dadanya, walau rasa cemasnya tidak berkurang sedikit pun.
Akira mengambil jaket dan meninggalkan kantor polisi dengan pengawalan rahasia. Albert mengikuti dari jarak cukup jauh dengan mobil tanpa lampu, meskipun Akira tidak mengetahuinya.
Rumah sakit lama berada di pinggir kota, di jalan yang bahkan tidak lagi punya lampu penerangan. Bangunannya sudah ditutup selama bertahun-tahun setelah terjadi kebakaran besar. Temboknya menghitam di bagian atas, dan sebagian jendela lantai dua hanya menyisakan bingkai.
Akira pernah mendengar bahwa ibunya bekerja di sana sebelum menikah. Dulu cerita itu terdengar biasa saja. Malam ini terdengar seperti petunjuk yang sengaja ditanam.
Pintu depan terbuka sedikit, seolah menunggu.
Akira masuk sendirian dan menyalakan senter ponsel. Lorong rumah sakit dipenuhi debu yang beterbangan di dalam cahaya, bercampur bau obat lama dan kayu lapuk. Di dinding masih terlihat tulisan nama ruangan yang hampir pudar. Sepatunya berdecit setiap kali menginjak lantai yang dulu pasti mengilap.
Ia tiba di ruang administrasi. Sebuah lampu kecil menyala di atas meja, satu-satunya listrik yang hidup di seluruh gedung itu. Di bawah cahayanya terdapat foto Sofia saat masih muda dan sebuah alat perekam suara.
Akira menekan tombol pemutar dengan tangan gemetar.
“Akira, jika kamu mendengarkan ini, berarti Albert akhirnya mengetahui sebagian kebenaran. Jangan percaya semua yang dikatakan pamanmu. Dia bukan satu-satunya orang yang terlibat.”
Akira menggigit bibir sampai terasa perih. Suara ibunya terdengar jelas, sedikit serak, dengan cara mengucapkan namanya yang tidak pernah bisa ditiru orang lain.
“Aku mencintai ayahmu, tetapi aku juga mengetahui bahwa perusahaan keluarganya tidak bersih. Ibu Albert mencoba memperingatkanku, tetapi aku terlalu takut. Kami berusaha mencari bukti bersama.”
Akira menangis tanpa suara, tangannya menekan mulut sendiri. Selama ini ia hanya tahu bahwa ibunya memiliki hubungan buruk dengan keluarga Albert. Ternyata mereka justru berdiri di sisi yang sama.
“Orang yang paling berbahaya bukan orang yang menghancurkan kami. Dia adalah orang yang membuat kami saling membenci.”
Rekaman berhenti dengan bunyi klik.
Tiba-tiba terdengar suara pintu menutup dari arah lorong.
Akira menoleh cepat. Seorang perempuan berdiri di ambang pintu dengan wajah tertutup kerudung.
“Siapa kamu?” tanya Akira. Tangannya meraih apa saja di atas meja untuk dijadikan senjata.
Perempuan itu mengangkat wajah dan melangkah ke dalam cahaya lampu.
Akira membeku.
Wajah tersebut sangat mirip dengan Sofia. Bukan mirip seperti saudara pada umumnya, tetapi mirip sampai ke bentuk alis dan letak tahi lalat di bawah mata.
“Namaku Sera,” katanya. “Aku saudara kembar ibumu.”
Akira mundur selangkah sampai punggungnya menabrak lemari arsip. “Itu tidak mungkin. Ibuku anak tunggal.”
“Itu yang semua orang ingin kamu percaya.”
Sera berjalan mendekat dan menyerahkan sebuah album foto bersampul biru yang sudah kusam. Akira membukanya dengan ragu. Di halaman pertama terdapat foto dua anak perempuan berkepang sama, berdiri di depan sebuah rumah besar.
Akira mengenali rumah itu. Rumah yang sama muncul di foto lama keluarga Albert.
“Kami dipisahkan setelah orang tua kami meninggal,” kata Sera. “Sofia dibesarkan dalam keluarga yang berbeda. Aku dibawa pergi oleh orang yang ingin menguasai perusahaan.”
“Siapa orang itu?”
“Ayah pamanmu.”
Akira menatapnya tidak percaya. Sera menjelaskan bahwa keluarga mereka pernah memiliki saham besar dalam perusahaan Albert. Setelah orang tua mereka meninggal, saham tersebut dicuri dan konflik keluarga dimulai dari sana, jauh sebelum Akira lahir.
“Sofia mencoba merebut kembali haknya. Dia gagal dan memilih melindungi kamu.”
Akira menelan ludah. Pertanyaan itu sudah menunggu di ujung lidahnya sejak tadi, tetapi ia takut mengucapkannya.
“Apakah ibu saya benar-benar meninggal karena bunuh diri?”
Sera menunduk. “Dia memalsukan kematiannya.”
Akira merasa seluruh tubuhnya kehilangan tenaga. Ia berpegangan pada tepi meja.
“Apa maksudmu?”
“Sofia masih hidup.”
Akira tidak mampu berkata-kata. Ada terlalu banyak hal yang berteriak di kepalanya sekaligus: bertahun-tahun ia berduka, bertahun-tahun ia merasa ditinggalkan, dan semua itu ternyata dibangun di atas sebuah makam kosong.
Sera mengatakan bahwa Sofia harus menghilang agar paman Akira berhenti mengejar. Pesan yang dikirim memang berasal dari Sofia, tetapi ia tidak dapat datang sendiri karena masih diburu.
“Di mana dia?”
“Di rumah aman dekat pelabuhan. Tapi sebelum membawamu ke sana, aku harus memastikan kamu tidak diikuti.”
Sera menoleh ke arah pintu. Wajahnya berubah tegang.
Dari luar terdengar suara langkah berat. Bukan satu orang.
Akira langsung menekan nomor Albert, tetapi layar ponselnya menunjukkan tanda silang kecil di sudut. Sinyalnya hilang sama sekali, padahal beberapa menit lalu masih ada. Ia menyadari seseorang mungkin telah memasang penghalang di gedung ini.
“Albert ada di luar,” katanya.
“Itu masalahnya. Mereka akan menggunakan dia untuk menemukan Sofia.”
Di luar bangunan, Albert memang melihat beberapa lelaki memasuki pintu belakang, bergerak rapi seperti orang terlatih. Ia memberi isyarat kepada polisi, tetapi sebelum mereka bergerak, seorang pengawal diserang dari sisi gelap tembok.
Albert tidak menunggu lagi. Ia masuk ke rumah sakit dan berlari menyusuri lorong, menyebut nama Akira sekali, lalu berhenti menyebutnya karena sadar suaranya akan menuntun orang lain.
Ia menemukan pintu ruang administrasi terbuka. Lampu kecil masih menyala.
Ruangan itu kosong.
Di atas meja hanya tersisa album foto dan sebuah kertas yang ditulis tangan.
“Jika kau mencintai Akira, jangan mencarinya. Biarkan dia menemukan ibunya.”
Albert meremas kertas tersebut sampai buku jarinya memutih. Ia ingin mengejar, ingin membalik setiap ruangan di gedung terkutuk ini, tetapi otaknya yang dingin menyadari satu hal: Sera membawa Akira menjauh dari bahaya, bukan ke dalamnya.
Ponselnya berdering. Panggilan berasal dari nomor tidak dikenal.
“Albert,” suara Akira terdengar di seberang. “Aku sudah menemukan Ibu.”
“Di mana kamu?”
“Aku tidak bisa memberitahu. Paman sedang mencari kami.”
“Akira, dengarkan aku. Aku akan menemukanmu.”
“Jangan.” Suaranya melembut. “Untuk kali ini, percayalah kepadaku.”
Panggilan terputus.
Albert berdiri sendirian di lorong gelap, dengan ponsel masih menempel di telinga, tidak tahu apakah harus menghormati permintaan Akira atau mengejar istrinya.