Pesan Maya untuk Eirik malam itu sederhana:
"Kau bilang kau belajar bersabar dari es. Aku belajar sesuatu malam ini juga. Bahwa cinta layak, walaupun ada risiko. Aku belum berani penuh. Tapi aku mau coba. Pelan-pelan. Seperti es."
Eirik membalas dalam satu menit:
"Pelan seperti es. Aku tunggu. Selama apa pun."
Dan begitulah mereka mulai—pelan, hati-hati, seperti dua peneliti yang melangkah di gletser yang mereka tidak sepenuhnya percaya, satu langkah demi satu langkah, menguji tiap pijakan.
Mereka di kota yang berbeda—Maya di Tromsø, Eirik di Oslo menyelesaikan tesisnya. Tapi mereka menelepon setiap malam. Berbagi data penelitian, lalu hari mereka, lalu pikiran-pikiran yang tidak mereka bagi dengan orang lain.
Eirik mengunjungi Tromsø saat liburan semester. Maya menunjukkan padanya tempat-tempat favoritnya—dermaga tempat dia menatap aurora, kafe kecil tempat dia belajar, laboratorium tempat dia menganalisis sampel es.
Mereka berjalan di salju Tromsø, dan untuk pertama kali, tanpa tali pengaman, tanpa tim, hanya berdua—Eirik meraih tangan Maya.
Maya tidak menariknya.
"Maya," kata Eirik, napasnya berasap di udara dingin. "Boleh aku bilang sesuatu yang mungkin terlalu cepat?"
"Pelan seperti es, ingat?"
"Iya. Tapi es kadang bergerak cepat juga. Longsoran es. Boleh?"
Maya tertawa. "Boleh."
"Aku rasa aku jatuh cinta padamu sejak kau memegang pita ukur seperti kau marah padanya."
Maya berhenti berjalan. Menatap Eirik di bawah lampu jalan Tromsø yang kuning, dengan salju turun pelan di antara mereka.
"Eirik. Aku juga. Sejak kau bilang aku memegangnya seperti aku marah—dan kau benar."
Mereka berciuman, untuk pertama kalinya, di salju Tromsø, di bawah langit Arktik. Bukan ciuman dramatis—ciuman pelan, hati-hati, seperti segala yang mereka lakukan. Ciuman yang berkata: aku di sini, dan aku tidak buru-buru, dan aku tidak akan ke mana-mana.
Saat mereka berpisah, Maya menyandarkan dahinya ke dahi Eirik.
"Aku masih takut," bisiknya.
"Aku tahu," bisik Eirik. "Tidak apa-apa. Takut bersama lebih baik dari aman sendirian."
Maya menelepon mamanya malam itu, tidak bisa menahan diri.
"Mama. Aku... aku mencoba. Dengan Eirik."
Lara, di rumah putih, menutup mata dan tersenyum. "Mama bahagia, Maya. Sangat bahagia."
"Mama. Aku takut aku bikin kesalahan."
"Kalau kau mencintai, kau tidak bikin kesalahan, sayang. Cinta bukan kesalahan. Cinta selalu—selalu—layak."
(bersambung...)