Stasiun Penelitian Selatan adalah kompleks beton merah yang dibangun pada akhir tahun delapan puluhan, ditopang di atas pondasi panggung supaya tidak terkubur oleh salju yang menumpuk setiap musim. Koridor-koridornya sempit, dengan pipa pemanas yang berdesir sepanjang langit-langit dan lantai vinyl yang sudah lecet di banyak tempat.
Bau di dalam kompleks adalah bau yang Lara tidak akan pernah lupakan: campuran kopi instan yang terlalu sering diseduh ulang, aroma chlorine dari sistem ventilasi, dan jejak tipis mesin diesel yang bocor entah dari mana.
Lara berbagi kamar dengan dua peneliti perempuan: Marta Silva dari São Paulo, dan Ingrid Lindqvist dari Stockholm. Kamar mereka berukuran sekitar tiga kali empat meter—tiga ranjang besi tingkat satu, tiga lemari logam tipis, dan satu jendela kecil ukuran A4 yang menghadap ladang es tanpa ujung.
"Pertama kali datang, semua orang takjub," kata Marta sambil membongkar kopernya. Ia perempuan berusia awal empat puluhan, dengan rambut hitam keriting yang ia ikat tinggi dan tato kecil paus humpback di pergelangan tangannya. "Tapi setelah hari kelima belas, kamu akan merindukan warna hijau. Bukan biru, bukan merah. Hijau. Daun, lumut, apa pun yang mengingatkanmu bahwa di luar ini ada planet yang masih hidup."
"Kamu udah berapa kali ke sini?" tanya Lara, sambil membongkar bukunya sendiri di lemari kecil yang bahkan tidak cukup besar untuk lima belas judul.
"Ini ketiga." Marta meletakkan kotak berisi peralatan penelitian akustik di atas mejanya. "Aksel keempat. Dia hampir 'penduduk lokal' di stasiun ini."
Nama Aksel membuat Lara mendongak tanpa berniat. Ingrid—perempuan jangkung dengan rambut pirang pucat yang dipotong pendek seperti laki-laki—menangkap reaksi itu dan tersenyum samar.
"Sudah?" tanya Ingrid, dengan aksen Swedia yang tegas. "Hari pertama?"
"Sudah apa?"
"Sudah merasa penasaran sama Aksel."
"Aku—" Lara membela diri lebih cepat dari yang seharusnya. "Aku cuma ingin tahu siapa yang bekerja di sebelahku selama tiga bulan. Itu wajar."
Marta dan Ingrid bertukar pandang. Keduanya tidak menjawab langsung. Akhirnya Ingrid yang berbicara, dengan nada yang dijaga.
"Ada cerita tentang Aksel. Tapi bukan kami yang harus cerita."
"Begitu serius?"
"Begitu pribadi," koreksi Marta. "Di Antartika, La, kamu akan belajar—ada hal-hal yang kamu hanya boleh tahu kalau orangnya sendiri yang memberitahumu. Bukan dari rumor di koridor."
Lara mengangguk pelan. Ia menghormati itu.
***
Hari pertama mereka bekerja di laboratorium bersama. Lara mengambil sampel air laut dari lubang yang dibor di lapisan es, menyaringnya untuk mikroorganisme yang—kalau beruntung—akan menjadi bagian dari publikasi pertamanya tentang adaptasi diatom kutub.
Aksel di sebelahnya, di meja yang berbeda tapi cukup dekat untuk Lara mendengar napasnya. Pria itu menganalisis komposisi mineral dari potongan es purba, menggunakan spektrometer kecil yang ia operasikan dengan ketenangan seseorang yang sudah melakukannya ratusan kali. Ia mencatat angka-angka di buku kerjanya dengan tulisan tangan yang ramping dan miring ke kanan.
Mereka jarang bicara. Hanya pertukaran kalimat fungsional: "Bisa minta tolong pinset itu?" "Ini suhu freezer yang benar?" "Aku akan ambil air kopi di pantry, kamu mau?"
Tapi suatu kali, ketika Lara tergesa-gesa berbalik dan kakinya tergelincir di lantai laboratorium yang basah karena tetesan es yang mencair, tangan Aksel bergerak lebih cepat dari pikiran Lara sendiri. Pria itu mencengkeram lengannya, kuat tapi tidak menyakitkan, dan menahan tubuh Lara sampai ia menemukan keseimbangan kembali.
"Hati-hati."
Tangannya hangat, bahkan lewat dua lapis baju Lara. Lara menarik tangannya cepat-cepat, lebih cepat dari yang sopan.
"Maaf. Terima kasih."
Aksel mengangguk pendek, lalu kembali ke meja kerjanya seolah tidak ada yang baru saja terjadi. Tapi Lara duduk kembali di mejanya dan tidak bisa fokus pada sampel berikutnya selama hampir lima belas menit penuh.
***
Malam itu, setelah Marta dan Ingrid tertidur, Lara turun ke ruang komunal sambil membawa buku jurnalnya.
Hampir semua orang sudah tidur. Hanya ada satu lampu yang masih menyala di sudut ruangan—di meja Aksel.
Pria itu menatap layar laptopnya, alis berkerut. Di samping laptop, ada secangkir kopi yang sudah dingin—Lara bisa melihat embun yang tidak lagi mengepul—dan sebuah foto kecil yang tergeletak menghadap ke atas. Lara tidak bisa melihatnya jelas dari posisinya, tapi ia bisa membedakan: foto seorang perempuan, rambut platina, tertawa.
Lara duduk di kursi di seberang meja, mengeluarkan jurnalnya, dan mulai menulis tentang hari pertama. Tentang badan yang masih beradaptasi dengan zona waktu. Tentang aroma kopi instan dan sampel diatom dan—
"Susah tidur juga?"
Suara Aksel datar, tanpa menoleh dari layarnya. Lara terkejut dia tahu Lara di ruangan yang sama.
"Iya. Body clock-nya masih kacau."
"Akan beradaptasi. Hari kelima biasanya."
"Kamu... sudah biasa di sini?"
Aksel akhirnya mengangkat kepala. Sinar layar laptop menerangi wajahnya dari bawah, membuat matanya yang biru pucat terlihat seperti es yang tidak pernah mencair.
"Aku datang ke Antartika untuk lupa, Lara." Ia menutup laptopnya pelan. Foto perempuan itu tertutup oleh layar. "Bukan untuk biasa."
Lara membuka mulut, lalu menutupnya. Tidak ada respon yang tepat untuk kalimat seperti itu.
Aksel berdiri, mengambil cangkir kopinya yang sudah dingin, dan berjalan ke arah pantry. Sebelum keluar dari ruangan, ia berhenti sebentar di ambang pintu, tidak menoleh.
"Tulis di jurnalmu, Lara. Antartika butuh saksi yang jujur. Stasiun ini sudah terlalu banyak menyimpan rahasia."
Lalu ia pergi, meninggalkan Lara dengan satu kalimat yang akan ia putar di kepalanya selama seminggu ke depan—dan dengan foto kecil di atas meja Aksel yang, ketika Lara melewatinya satu jam kemudian saat kembali ke kamar, sudah hilang dari sana.
Disimpan, Lara menebak. Disimpan di tempat yang hanya Aksel tahu.
Seperti semua yang ia bawa ke Antartika.