Sudah berbulan-bulan sejak Vino mengungkapkan perasaannya kepada Nadi, dan meskipun ada banyak kebingungan yang muncul, perasaan itu tak kunjung pudar. Nadi merasa terjebak dalam dilema. Ia mencintai Vino, tetapi hatinya masih diliputi rasa bersalah karena perasaannya terhadap Raka yang juga mendalam.
Pagi itu, di sebuah kafe kecil tempat mereka biasa bertemu, Nadi duduk dengan secangkir kopi di depannya. Ia menatap cangkir itu, berusaha mencari jawaban dalam kesunyian. Tangan Nadi gemetar saat ia memeriksa ponselnya dan melihat pesan dari Raka yang terakhir kali menghubunginya seminggu yang lalu.
"Aku ingin kamu tahu, apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sampingmu, Nadi."
Nadi menarik napas dalam-dalam, mencoba meresapi kata-kata itu. Raka adalah sosok yang selalu ada untuknya, bahkan saat ia merasa paling bingung dan terpecah. Sementara Vino, dengan segala keberanian dan keterbukaannya, memberi Nadi rasa kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya: keberanian untuk memilih. Ia sadar, selama ini ia hidup di antara dua perasaan yang begitu kuat, tanpa pernah benar-benar memutuskan.
Saat itu, pintu kafe terbuka, dan Nadi melihat Raka masuk. Matanya bertemu dengan mata Nadi, dan ada keheningan sejenak sebelum Raka melangkah mendekat.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Raka, duduk di seberang Nadi.
Nadi menggigit bibir bawahnya, ragu. "Aku merasa bingung, Rak. Aku... aku tahu aku harus memilih, tapi hatiku... hatiku tidak bisa berhenti mencintaimu berdua."
Raka menatap Nadi dengan lembut. "Nadi, hidup itu tentang memilih. Kamu tak bisa terus-menerus hidup dalam ketidakpastian. Kamu harus memilih siapa yang benar-benar membuatmu bahagia."
Nadi terdiam. Kata-kata Raka menohok dalam hati. Ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan, tapi entah mengapa rasa takut itu begitu besar.
"Satu hal yang perlu kamu tahu," lanjut Raka dengan suara yang lebih dalam, "Apapun keputusanmu, aku akan tetap mendukungmu. Tapi jangan biarkan kebingungan ini menghancurkanmu."
Air mata Nadi mulai jatuh. Ia tak bisa lagi menahan rasa yang menggelora di dalam hatinya. Ia tahu, ia harus melepaskan salah satu di antara mereka agar bisa melangkah maju.
Kemudian, sebuah pesan muncul di ponselnya. Itu dari Vino.
"Nadi, aku tahu kita mungkin sedang berada di tempat yang sulit, tapi aku ingin kamu tahu satu hal: Aku mencintaimu, dan apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu."
Nadi merasakan dadanya sesak. Dua pria yang ia cintai dengan cara yang berbeda, dua hati yang saling berjuang untuk tempat di dalam hidupnya. Akhirnya, ia tahu apa yang harus dilakukan.
---
Bab : Pilihan Nadi
Beberapa hari setelah pertemuan dengan Raka, Nadi memutuskan untuk bertemu dengan Vino. Mereka bertemu di tempat yang sama di mana Vino pertama kali mengungkapkan perasaannya kepada Nadi.
Vino menatapnya dengan penuh harap, dan Nadi bisa melihat ketulusan di matanya.
"Nadi," kata Vino pelan, "Aku tahu ini tidak mudah bagimu. Tapi aku ingin tahu, apakah kamu siap memilih?"
Nadi menundukkan kepala, menarik napas panjang. "Vino, aku mencintaimu, aku selalu mencintaimu. Tapi aku tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian. Aku telah berbicara dengan Raka, dan aku sudah membuat keputusan."
Vino menunggu, matanya tidak beralih dari wajah Nadi. Dia tahu bahwa Nadi tidak akan mudah dalam membuat keputusan ini.
"Aku memutuskan untuk... memilih Raka," kata Nadi akhirnya, suaranya penuh dengan kesedihan. "Aku tahu dia selalu ada untukku, dan aku merasa kami memiliki sesuatu yang lebih stabil."
Vino terdiam, wajahnya mulai mengeras. Namun, ia menarik napas dalam-dalam dan tersenyum lemah. "Aku mengerti, Nadi. Aku tidak akan memaksamu. Yang penting, kamu bahagia."
Nadi menangis. "Aku tidak ingin menyakiti kamu, Vino. Kamu begitu berharga, tapi aku juga harus jujur dengan diriku sendiri."
Vino mengangguk. "Kamu sudah melakukan yang terbaik, Nadi. Jangan pernah merasa bersalah. Aku ingin kamu bahagia."
---
Bab : Perjalanan Baru
Beberapa bulan berlalu sejak keputusan Nadi. Hubungannya dengan Raka semakin berkembang, dan mereka mulai merencanakan masa depan bersama. Raka memberikan ruang bagi Nadi untuk tumbuh, tanpa pernah menganggapnya sebagai tanggung jawab yang harus ia penuhi. Mereka menikmati kebersamaan, saling mendukung dalam setiap langkah.
Vino, meskipun terluka, memutuskan untuk memulai perjalanan baru. Ia pindah ke kota lain, mencoba mencari kebahagiaan dengan cara yang berbeda. Meskipun hubungan mereka berakhir, ia tahu bahwa cinta yang pernah ada antara dirinya dan Nadi adalah bagian dari perjalanan hidupnya.
Suatu hari, beberapa tahun kemudian, Nadi dan Vino bertemu lagi di sebuah acara reuni teman-teman lama. Vino tersenyum saat melihat Nadi, dan mereka saling berbicara dengan hangat.
"Kamu terlihat bahagia," kata Vino dengan tulus.
Nadi tersenyum, "Aku juga, Vino. Aku harap kamu juga."
"Ya, aku bahagia. Aku sudah menemukan kedamaian dalam diriku sendiri," jawab Vino.
Dan di sana, di tengah keramaian, mereka menyadari bahwa meskipun perjalanan hidup mereka berbeda, cinta mereka akan selalu menjadi bagian dari cerita yang tak terlupakan.
---
Tamat