Wellton 1560
“Ar, lihatlah, apa yang kubuatkan untukmu.” Kata Dandelion membawa sebuah sirkam alpaka yang bertahtakan batu ruby yang berwarna merah maroon, “cantik kan?”
Aracelli sama sekali tidak merespon Dandelion , diambilnya sirkam itu dengan tatapan yang kosong.
Tusuk dia dengan sirkam itu, sebuah suara yang entah darimana berbisik ditelinga Aracelli.
Tak berselang lama, Aracelli menghujamkan sisi tajam sirkam ditangannya itu di d**a Dandelion, pria itu berdarah.
“Apa yang kau lakukan?” katanya sambil melepaskan tangan Aracelli dari sirkam yang menusuknya.
Aracelli tersadar, betapa terkejutnya dia melihat tangannya bersimbah darah dan d**a Dandelion terluka.
“Apa yang kulakukan?” katanya panik dan menangis, “Astaga kau berdarah.”
“sudahlah jangan menangis.” Kata Dandelion malah berusaha menenabgkan Aracelli , ia terlihat berkonsentrasi melihat ke arah pintu.
Brukk..
Pintu tertutup dengan sendirinya.
“Jangan sampai masalah ini terdengar orang lain,” Kata Dandelion sambil membuka pakaiannya, d**a bidangnya bersimbah darah, “Lukanya tidak terlalu dalam, kau tidak perlu menangis.”
“Ada apa denganku?” tanya Aracelli sambil menahan tangisnya, “maafkan aku.”
“Kita bicarakan lain kali, aku harus mengobati lukaku.” Katanya kembali memakai pakaiannya.
“Biar kubantu obati.”
“Tidak perlu, sejak tadi kau menangis tapi terus saja menatap dadaku.” Ucap Dandelion menggoda gadis itu.
“Ish.. Jangan bercanda, kau sedang terluka.”
“Ini sama sekali tidak menyakitiku bodoh, tenanglah, dan basuh wajahmu, kau jelek sekali jika menangis seprerti itu.”
* * *
Wellton 2020
Di sebuah mal, Dandelion sedang membuntuti Jessica dan mengendap-endap memperhatikan wanita pujaannya yang sedang berbelanja.
Sebelumnya Dandelion melihat ponsel Jessica terus berdering dan nama Alex terpampang disana, tapi saat Dandelion bertanya, Jessica berkata bahwa ia akan peergi bersama Dara untuk berbelanja.
“Apa yang kulakukan disini?” Ucap Dandelion lirih pada diri sendiri, tapi tetap saja mengendap-endap disana.
Pria itu tidak percaya bahwa ia sedabg melakukan hal konyol dengan membututi Jessica hanya karena curiga bahwa gadis itu berbohong, “memangnya apa urusanku jika dia pergi bersama Alex? “ katanya lalu mencari-cari keberadaan Jessica yang menghilang dari pandangannya.
"Dandelion!” sapa Jessica girang.
Dandelion terkejut, ia sedikit lengah dan tak mengira Jessica akan melihatnya.
"Oh, hai Jess!" sapanya berpura-pura baru menyadari keberadaan Jessica.
"Uhm..., sedang apa? Tanya Jessica heran.
"Be... belanja, mau apa lagi?” dustanya dengan nada gugup.
Jessica mengernyitkan keningnya dan memandang heran pada Dandelion.
“Apa?” tanya Dandelion tidak mengerti. Beberapa saat kemudian, ia melihat ke sekelilingnya. la baru menyadari bahwa dirinya sedang berada di toko pakaian dalam wanita.” Oh, katanya dengan muka memerah, "ngg..., tadi aku sedang lewat, dan sepertinya aku melihat temanku, jadi aku masuk ke sini. Ternyata aku salah lihat, hehe....”
"Kau sendirian?” tanya Jessica.
"Ya," jawab Dandelion. Ia Menoleh ke kanan dan ke kiri.
"So?”
"What?!" tanya Dandelion.
"Mau menemaniku berbelanja?” tanya Jessica.
“Tidak, aku sibuk.” Dandelion menolak.
“Ayolah, Dara tiba-tiba mengalami kram perut dan tidak bisa pergi, jadi aku sendirian, temani aku ya?” pinta Jessica. "Gimana?"
"Mmm.. Baiklah, cepat selesaikan urusanmu lalu kita pulang.” Dandelion menyetujui meski dengan sikap dinginnya.
Hari ini, cuaca dan suasana hati Jessica memang sedang berbunga-bunga. Sungguh, hal ini merupakan kebahagiaan yang tak pernah terbayang olehnya. Segalanya jadi terasa indah. Bagi Jessica, Dandelion memang benar-benar membawa energi positif untuknya.
Beberapa menit kemudian, Jessica mengajak Dandelion untuk menghampiri sebuah gerai barang antik yang terdiri dari berbagai barang unik dan langka. Jessica tampak sangat antusias dan sibuk memilih berbagai barang yang ada di sana.
Sedangkan Dandelion terlihat serius memperhatikan sebuah pajangan cantik yang kabarnya terbuat dari tanduk unicorn.
“Benarkah unicorn itu ada? Kabarnya benda ini terbuat dari tanduk kuda unicorn?” kata Jessica sambil menunjukan sebuah belati pada Dandelion.
Dandelion tertarik dan mengambil belati itu dari tangan Jessica , “ini belati yang bagus.” Katanya memperhatikan setiap detail belati itu.
Namun selang beberapa detik, Dandelion terlihat meringis kesakitan.
Jessica yang terlihat masih sangat sibuk memilih berbagai pernak-pernik tersebut tidak menyadari keadaan itu, hingga terdengar olehnya suara napas Dandelion yang memburu dan sangat ditahan.
“Ly," panggil Jessica sambil menoleh ke arah Dandelion.
Jessica tersedak kaget saat mendapati Dandelion terlihat sedang menahan sakit. Jessica terbelalak saat melihat mata Dandelion berubah menjadi hitam keseluruhan.
Buru-buru Dandelion membuang mukanya. la khawatir Jessica melihatnya.
"Ly, kau kenapa?" tanya Jessica heran.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, cepat-cepat Dandelion pergi meninggalkan Jessica yang masih ternganga karena kejadian yang begitu cepat dan mendadak itu.
"Paman Bill, dimana Dandelion?" tanya Jessica begitu sampai dirumah.
“Entahlah, aku belum melihatnya sejak pagi.” Jawab paman Bill sambil meletakan buah apel yang baru saja dibeli ke dalam lemari es.
“Kemana dia?” ucapnya pelan sambil berpikir, diambilnya ponsel dari sakunya, lalu menelepon Dandelion.
Berkali-kali Jessica mencoba menelepon tetapi tidak ada jawaban.
“Halo..” Dandelion menjawab setelah Jessica mencoba menelepon ke kesekian kali.
“Dimana kau? Apa kau baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja.”
“Sukurlah.. Umm.. Boleh aku tahu kau sedang berada dimana?”
Tuttt.. Tutt.. Tuutt..
Tanpa menjawab Dandelion mengakhiri percakapan mereka.
Jessica menghela nafas, “Dasar penyihir tidak sopan. “ ucapnya kesal.
Disisi lain, Dandelion sedang memulihkan dirinya setelah merasakan sakit dan teramat sesak didadanya, yang mungkin disebabkan oleh belati yang terbuat dari tanduk unicorn itu.
“Memangnya apa yang kau lakukan sampai bisa seperti ini? “ tanya Althaf sambil memegang punggung Dandelion.
Sebelumnya Dandelion buru-buru menghubungi Althaf untuk meminta bantuan.
“Entahlah, apa kau tahu tentang tanduk unicorn?” tanya Dandelion.
“Ada apa dengan tanduk unicorn?” tanya Althaf lagi.
“Sebelimnya aku hanya memegang belati yang katanya terbuat dari tanduk unicorn, setelah itu aku merasa sangat pusing san sesak, kakiku bahkan hampir tidak sanggup berdiri.” Jawab Dandelion.
“Tanduk unicorn? “ ucap Althaf sambil mengingat-ingat, “tunggu dulu, bukankah saat di sekolah dulu, Pak Jerrin pernah membahas tentang membuat sebuah pusaka dari tanduk unicorn, apa kau ingat?”
“Benarkah?” Dandelion mengingat -ingat.
“Iya, sebuah pusaka yang hanya bisa dibuat oleh penyihir setingkat Warlock .” kata Althaf.
“Sepertinya aku ingat,” kata Dandelion, “tapi bagaimana benda itu bisa berada disana?”
“Dimana?”
“Tadi aku sempat membuntuti, “ Dandelion hampir kelepasan bicara, “Tidak sengaja bertemu Jessica di Mal, dia memperlihatkan padaku belati itu.”
“Kau membuntuti Jessica? “
“Kebetulan bertemu. “
“Sedang apa kau disana?”
“Tentu saja berbelanja.”
“Belanja apa?”
“Sudahlah,kau cerewet sekali.” Kata Dandelion merasa terpojok.
“Wah.. Aku tidak menyangka kau orang yang seperti itu,” ucap Althaf meledek, “Kalau penduduk Magica Mundi tahu pangerannya pergi hanya untuk membuntuti wanita bagaimana?”
“Sudah kubilang kami tidak sengaja bertemu.” Sanggah Dandelion semakin merasa terpojok.
“Iya.. Iya.. Baiklah, di dunia ini memang banyak sekali peristiwa yang tidak disengaja.” Ucap Althaf masih dengan nada meledek.
“Al..” Dandelion hendak mengatakan sesuatu tapi diurungkannya.
“Ada apa?”
“Tidak jadi.”
“Kau ingin bilang kalau kau ingin menyatakan perasaanmu pada Jessica? “ Althaf menebak.
“Bagaimana kau tahu?” Dandelion terkejut, “todak, bukan begitu, aku hanya..” Dandelion mengurungkan niatnya lagi untuk berbicara.
“Ekspresimu seperti orang yang akan meminta ijin kepada ayah untuk berkencan.” Kata Althaf dengan segala kepekaan nya.
“Tapi itu tidak boleh terjadi. “ ucap Dandelion lirih.
“Kau benar, karenanya meski ingin, tapi aku tidak bisa mendukungmu.”
Dandelion menghela napas karena merasa.sangat berat hati, “tapi, bolehkah aku menjalaninya sebentar saja? Maksudku aku hanya ingin memeriksa sesuatu.”
“Memeriksa apa?” tanya Althaf, “lagipula, pertama, kau memang sudah menjalaninya entah secara sadar atau tidak, kedua memangnya apa yang ingin kau periksa? Ketiga, apa kau akan mendengarkanku jika aku tidak menginjinkan?”
Kini Dandelion berwajah sangat masam, “Entahlah, meski aku tahu bahwa dia bukan Aracelli tapi aku benar-benar ingin memeriksa apa benar dia tidak ada hubungannya dengan Aracelli, dan aku sendiri ingin memastikan seperti apa perasaanku padanya.”
“Baiklah, lakukan saja yang kau inginkan, lagioul seharusnya kau adalah orang yang paling paham seperti apa peraturan dunia kita.”