Wellton 1560
Sore itu, Aracelli duduk dipinggir sungai sambil merendam kakinya hingga sebetis, gemercik air adalah suara paling nyaman baginya.
Akhirnya aku bisa keluar dari istana itu, Aracelli membatin.
Setahun telah berlalu sejak Aracelli pertama kali menginjakan kaki di istana, tidak mudah untuk keluar dari sana, semua gerak geriknya di awasi, sikap dan sopan santun nya di perhatikan, bahkan saat untuk makan dan tidurpun diatur, semua begitu membosankan.
Kali ini Aracelli meminta ijin untuk menginap dirumah orang tuanya, itupun sudah berhari-hari ia merengek pada Dandelion agar terus merayu Sang Ratu untuk memberikan ijin agar Aracelli boleh pergi dari istana.
Kenapa harus dengan ijin Sang Ratu? Karena semua wanita yang berada di istana berada dibawah kendalinya.
Lihat saja, nantinya akupun akan berkuasa seperti itu, hahahaa.. Aracelli membatin dan tersenyum jahat.
“Ahh.. Istana benar-benar hampir membuatku gila, jika bukan karena aku sangat menyukai Dandelion, pasti aku sudah mrlarikan diri dari sana.” Gerutunya.
“Jadi ini calon istri sepupuku?” seseorang tiba-tiba muncul dibelakang Aracelli dan membuat gadis itu terkejut karena rupa nya yang agak aneh.
Sebagian wajah dan tangan kiri pria itu bersisik hitam, bola matanya putih dan rambutnya panjang sebahu, pria itu terlihat kejam.
“Siapa kau?” tanya Aracelli.
“Kau sungguh tidak sopan Tuan Putri, seharusnya kau menyapaku dengan hormat.” Kata pria itu sambli tersenyum sinis, “apa tunanganmu tidak pernah menceritakan tentang sepupunya yang mereka usir dari istana?”
“Kau sepupu Dandelion? “ tanya Aracelli lagi.
“Iya, akulah yang seharusnya menduduki tahta seorang raja setelah ayahku wafat, tapi Dandelion dan ayahnya yang serakah itu merebutnya dariku.”
“Apa maksudmu?”
Pria itu tersenyum sinis, “Aku akan mengembalikan semua pada tempat yang seharusnya, tunanganmu bahkan bukan tandinganku, aku bisa membunuhnya dalam sekejap jika aku mau.”
“Ar..” teriak Dandelion terdengar dari kejuhan.
Aracelli menoleh mencari darimana suara itu berasal, dalam sekejap Dandelion sudah berada disampingnya.
“Sedang apa kau?” tanya Dandelion.
Aracelli celingukan mencari-cari kemana pria yang tadi bersamanya.
“Ada apa? Apa kau sedang bersama seseorang?” tanya Dandelion lagi.
“Iya tadi seseorang berada disini,aku sedang berbicara dengannya,” jawab Aracelli masih celingukan, “kemana pria itu?”
“Apa? Pria?” Dandelion terdengar cemburu.
“Iya, katanya dia sepupumu.”
“Sepupuku? Siapa?”
“Entahlah, aku belum pernah melihatnya di istana. “
“Edgar?”
“Entahlah, mungkin saja.” Kata Aracelli, “Tapi wajahnya terlihat tidak biasa, umm.. Menurutku dia menakutkan.”
“Yang benar saja Edgar bahkan sangat tampan, apa kau mengatakan itu agar aku yidak cemburu?” kata Dandelion tertawa meski ia kesal.
“Aku serius, sebagian wajahnya bersisik dan bola matanya putih.”
Seaaat Dandelion terdiam, “sebaiknya kita pulang.” Katanya lalu menggandeng tangan Aracelli dan mereka menghilang.
* * *
Wellton 2020
"Te amo." bisik pria yang berpakaian aneh itu. Ia berdiri dihadapan Jessica dengan membawa tulip berwarna merah muda. Kini, mereka berada di taman yang dipenuhi tulip berwarna-warni.
Karena pria itu lebih tinggi, maka Jessica sedikit mendongakkan wajahnya. "Aku tak bisa melihatmu," kata Jessica menyipitkan matanya karena silau. Seakan cahaya matahari memantul dari wajah pria itu dan membuat Jessica tetap tidak bisa melihatnya.
"Ckk." Jessica berdecak kesal saat terbangun. Dilihatnya jam di meja. Pukul delapan pagi. Jessica segera mandi dan berkemas untuk pergi kuliah.
Sudah hampir seminggu sejak Jessica tinggal bersama dengan Dandelion, tetapi hubungan mereka tak kunjung berubah. Dandelion sadar akan posisinya. Ia tahu bahwa ia tidak boleh tenggelam dalam perasaannya begitu dalam.
Sering Jessica didekati beberapa temnan laki-laki sekampusnya. Jessica memang termasuk gadis paling populer di kampus. Tapi karena Jessica bukan tipe gadis yang mudah jatuh cinta, ia tak menghiraukan keberadaan para lelaki yang mendekatinya itu.
Sikap Jessica yang seperti itu membuat Dandelion sedikit lega. Paling tidak, ia tak perlu melihat wanita pujaannya itu berada dalam pelukan lelaki lain.
Jessica duduk serius di kursi dengan wajah cemberut dan bibir yang sedikit dibuat maju beberapa senti. Hari ini, kekesalannya sudah mencapai puncaknya. Karena sampai detik ini juga, Dandelion sama sekali belum berusaha mendekatinya.
"Hi, Jess,” sapa seorang pria yang baru saja duduk di sampingnya.
Jessica tak menjawab, ia hanya tersenyum setengah hati melihat Dira yang sedang mencoba mendekatinya.
"Kenapa melamun?” tanya Dira, basa-basi.
"Tidak, siapa yang melamun?” Jessica merasa risih dengan kedatangan Dira.
"Nanti kau pulang dengan siapa?” tanya Dira.
"Memangnya, kau tidak pernah melihatku pulang? Biasanya juga kan aku bersama Dara dan Chika naik bus,"jawab Jessica ketus karena Dira menghalangi pandangannya.
"Uhm., kalau begitu, nanti pulang kuliah aku antar saja, ya.” tawar Dira ragu-ragu.
Sesaat, Jessica menoleh sinis pada Dira. Sebenarnya boleh iuga sih, aku ingin tahu apakah Dandelion cemburu atau tidak, katanya dalam hati.
"Boleh," jawab Jessica sambil tersenyum manis pada Dira.
"Bagaimana kalau kita nanti makan siang dulu? Tanya Dira.
"Boleh juga," sambil melirik pada Dandelion. "Kalau perlu, nanti kita jalan-jalan saja dulu, setelah itu baru kau mengantarku pulang," lanjutnya dengan suara yang dibuat sedikit lebih keras agar terdengar oleh Dandelion.
Sesaat, Dandelion menoleh dan memandang tajam pada Jessica. la tahu kalau Jessica tidak bersungguh-sungguh pada Dira. Tapi Dandelion juga tahu bahwa Dira adalah p****************g. Jika ia membiarkan Jessica pergi bersama Dira, sama seperti memberi sepotong daging pada harimau.
"Silakan masuk, Tuan Putri,” ujar Dira membungkukkan tubuhnya setelah membukakan pintu mobilnya untuk Jessica.
Dari kejauhan, Dandelion berdiri di samping mobilnya. Memperhatikan Jessica dengan kesal. Saat melihat ekspresi Dandelion, Jessica masuk ke dalam mobil sambil tersenyum penuh kemenangan.
Tak lama kemudian, Dandelion pergi membawa Porchenya dengan atap mobil yang sengaja dibiarkan terbuka. Ia melewati Jessica tanpa menoleh sedikit pun. Menyadari hal itu, Jessica kembali menghiasi wajahnya dengan cemberut yang berkepanjangan.
"Let's go!" teriak Dira ketika mulai mengendarai mobilnya.
Saat melihat mobil yang dikendarai Dira melaju melewati gerbang kampus, Dandelion yang memang tidak benar-benar pergi segera menutup atap Porchenya dan membuntuti Jessica.
Dimulai dari kafe, mal, hingga sampai di jalan yang sangat sepi. Dari belakang, Dandelion begitu serius mengamati Jessica.
"Vastata vebiculum," ucapnya lirih sambil tetap mengamati kendaraan yang dibuntutinya sejak tadi.
Sepintas, mata indahnya berubah warna menjadi hitam pekat. Ada seberkas cahaya yang bersinar sekejap dari matanya itu ketika ia mengucapkan mantra yang membuat mobil Dira berhenti seketika.
"Loh, kenapa nih?" gumam Dira.
"Kok berhenti?" tanya Jessica.
"Entahlah," jawab Dira. "Sebentar ya, kuperiksa dulu." Segera, Dira keluar dan melihat-lihat mesin mobilnya.
"Jess," panggil Dira pelan-pelan, "bantu dorong ya? Mogok nih!"
Dandelion terkekeh melihat tingkah Dira yang mungkin akan membuat Jessica jera.
"What?!" teriak Jessica. “Dorong sampai mana?”
“Sampai kita menemukan bengkel," jawab Dira.
Dengan kesal, Jessica keluar dari mobil.
"Loh, kok kau tidak ikut dorong?” tanya Jessica kesal.
"Kan, aku coba starter dari sini. Jadi, kamu yang dorong, ya?” jawab Dira tanpa beban.
"Stress, ya?" bentak Jessica. "Bahagia sekali hidupmu. Kalau begitu caranya, kau dorong saja sendiri!" Jessica mengambil tasnya, kemudian berjalan meninggalkan Dira dengan langkah penuh kekesalan.
"Jess, kau mau pulang sendiri?!" teriak Dira. "Nanti diculik, loh."
"Bodoh!" balas Jessica dengan kasar sambil terus melangkah.
Setelah agak jauh dan merasa lelah, Jessica berhenti sambil mengatur napasnya. "Duh, gimana nih?” gumamnya sambil meringis. la menoleh ke kanan dan ke kiri, yang ada hanya hutan,” kalau aku beneran diculik, gimana? Tidak ada taksi yang lewat. Sinyal juga tak ada. Dasar b******k si Dira. Dia bawa aku ke planet mana ini? Aku barus jalan berapa lama?” gerutu Jessica , sambil memperhatikan di sekelilingnya. Ia begitu was-was. Khawatir jika tiba-tiba ada perampok atau binatang buas yang keluar dari hutan.
Sementara itu, Dandelion membuka atap Porchenya setelah membiarkan Jessica berjalan cukup lama. la terus mengendarai mobilnya dengan pelan melewati Jessica.
"Dandelion!" teriak Jessica girang ketika melihat Dandelion melewatinya. "Dandelion...” teriaknya lagi sambil berlari dan melambaikan tangan.
Seakan-akan tak menyadari keberadaan Jessica, Dandelion baru menghentikan mobilnya setelah berada jauh melewati Jessica.
"Hai!" teriak Jessica lagi sambil berlari menghampiri Dandelion.
"Sedang apa di sini? ujar Dandelion pura-pura tidak tahu.
"Jangan tanya deh!" jawabnya. "Beri aku tumpangan, ya?” Jessica merajuk. Dan ia langsung masuk tanpa menunggu jawaban Dandelion. "Ngg. kau sendiri mau ke mana? Kok lewat dari sini?" tanya Jessica.
Dandelion mengerutkan keningnya dan sedikit bingung mencari alasan. "Aku, aku hanya sekadar jalan-jalan. Lagi pula, aku kan masih baru di sini. Jadi, menurutku, tempat ini masih sangat asing. Aku ingin mengenal tempat ini lebih jauh lagi," ujar Dandelion tanpa beban, meski harus berdusta berkali-kali.
"Oo..” Jessica mengangguk. "Ngg..., mau kutemani? Aku lumayan tahu banyak tempat-tempat di kota ini, loh," ujarnya tersenyum.
Dandelion menoleh pada Jessica. Berpikir sejenak. Lalu berujar,"Tidak usah. Kita pulang saja lagipula kau harus membersihkan rumahku!”
“Hah?”
“Kau harus membersihkan rumahku, atau kau mau tinggal dirumahku dengan gratis?”
Jessica mencibir,” Dasar penyihir pelit tidak punya perasaan.” Gumamnya.
“Apa?”
“Tidak apa-apa, ya sudah kita pulang." Jessica cemberut.
Menyebalkan sekali sih, memangnya aku kurang cantik? Kok sepertinya dia kelihatan tidak tertarik sama sekali denganku? Ujar Jessica dalam hati. la memilin-milin rambut panjangnya yang ikal. Baiklah, aku memang tidak kaya, oke aku sadar diri saja.
"Uhm..., boleh kutanya sesuatu?” ucap Jessica.
“Bukankah kau terlalu banyak bertanya?” sindir Dandelion.
"Kau tahu apa arti dari kata te amo?" tanya Jessica.
“Aku mencintaimu,” jawab Dandelion singkat.
"Itu bahasa apa?” tanya Jessica lagi.
"Bahasa Latin," jawab Dandelion.
"Dari mana kau tahu?" Jessica menoleh.
"Mmmm.., dari film," dusta Dandelion. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu saja, jawab Jessica.
Jessica mengingat-ingat dan memikirkan mimpi yang selalu hadir dalam tidurnya punggung pria dalam mimpinya itu mirip sekali dengan punggung Dandelion.
“Kita sudah sampai.” Kata Dandelion ketia mereka sampai dirumah.
“Hmm..” Jessica mengangguk masih memperhatikan Dandelion.
Dandelion menatap Jessica tanpa bicara. Membuat gadis cantik itu jadi salah tingkah.
"Hallo...!" Dandelion melambaikan tangannya tepat di wajah Jessica. "Turun dari mobilku.”
"Iya," jawab Jessica kikuk. "Oh, Sorry...! katanya saat menyadari ia belum juga turun dari mobil Dandelion.
“Agh..” Jessica meringis sambil memegangi perutnya, ia merasakan sakit.
“Ada apa?” tanya Dandelion panik,” Apa kau sakit?”
“Entahlah, perutku sakit sekali.” Jawab Jessica.
“Kalau begitu kau harus pergi ke dokter?”
“Tidak usah, rasa sakitnya mereda, mungkin karena tadi aku berjalan cukup Jauh.”
“Apa benar-benar mereda?” tanyaa Dandelion masih khawatir.
“Iya, perlahan menghilang.” Jawab Jessica sambil membuka pintu mobil, ”Mungkin aku hanya perlu istirahat.”
“Baiklah.. Kau istirahat saja.” Ucap Dandelion.
Malam hari pukul 20.00
“Jess.” Dandelion mengetuk pintu kamar Jessica. “Apa kau masih sakit?”
“Umm.. Sedikit,” Jawab Jessica.
“Apa benar-benar tidak perlu pergi ke dokter?”
“Tidak perlu, tidak separah itu.”
“Baiklah, kalau begitu ayo makan malam, paman Bill sudah membuatkan makan malam.”