Wellton 1560
3 bulan sudah berlalu sejak Dandelion pertama kali berusaha Mendekati Aracelli, hubungan mereka saat ini sudah semakin dekat, bahkan hampir berpacaran.
“Ar.. Kau ikut aku ke istana ya.” Pinta Dandelion.
“Baiklah, tapi sepertinya aku harus membeli sebuah baju baru dulu, semua milikku tidak ada yang layak untuk kupakai ke istana.” Jawab Jessica.
“Kau harus membawa semua barang-barangmu.” Kata Dandelion, “Aku ingin kau tinggal disana.”
“Maksudmu aku pindah ke istana?” tanya Aracelli.
“Iya, aku akan memperkenalkanmu pada orang tuaku, aku akan meminta mereka untuk mencalonkan dirimu sebagai pendampingku.”
“Apakah kau sudah membicarakannya terlebih dahulu kepada mereka?” tanya Aracelli merasa sangat tidak percaya diri.
“Iya dan mereka ingin bertemu denganmu.”
Sejenak Aracelli hanya terdiam.
“Kenapa?” tanya Dandelion.
“Apa mereka akan menyukaiku? Aku bahkan bukan seorang bangsawan, apalagi anggota Kerajaan.” Jawab Aracelli, ia senang tapi seketika nyali nya menciut.
“Kau anggota Kerajaan kan, ayahmu juga salah satu sepupu Raja.”
“Mantan anggota Kerajaan. “Kata Aracelli mempertegas.
“Beliau masih tetap sepupu Raja, toh ayahmu pergi dari istana bukan karena melakukan penghianatan, Ayahku tidak akan mempermasalahkan hal itu.”
Masih menimbang-nimbang, “Baiklah.. Aku akan mencobanya, tapi jika aku tidak nyaman berada di istana maka aku akan pergi, ya..” Kata Aracelli.
“Apa itu berarti kau akan meninggalkanku?” tanya Dandelion. “Karena kau harus berada di istana jika ingin bersamaku.”
“Aku akan berusaha yang terbaik untuk mengatasi rasa takut, tidak nyaman atau apapun, tetapi kita tidak tahu kedepannya akan seperti apa, aku tidak bisa menjanjikan apapun.”
“Baiklah.. Semangat ya Aracelli. “ Dandelion menggenggam tangan Aracelli Lalu mengepalkannya.
Dasar Pangeran narsis, kau suruh aku berjuang untuk mendapatkanmu, Aracelli membatin sambil mencibir.
* * *
Wellton 2020
Pagi mulai menyapa, cahaya mentari perlahan masuk melalui celah jendela dan membangunkan Dandelion, perlahan segala kebisingan dan apa yang terjadi di luar mengganggu telinganya.
Dari balik selimut, Dandelion bisa mendengar dengan jelas suara seseorang sedang berbincang di dapur, suara itu terdengar renta,” Bill kau berisik sekali,” gumam Dandelion dari balik selimut.
“Apa kau bisa memasak?” tanya pemilik suara itu tua itu dari kejauhan.
“Tentu saja bisa.” Jawab seseorang lagi, kali ini terdengar seperti seorang gadis muda.
Dandelion mengerjap-ngerjapkan mata dan menyingkap selimutnya, ia memperhatikan sekeliling dan teringat bahwa semalam ia menginap di rumah Jessica.
“Bukan begitu caranya,” omel nenek ketika Jessica memotong wortel dengan cara yang salah, “kalau kau potong seperti itu akan terlihat jelek.”
“Yang penting kan rasanya.” Bantah Jessica.
“Mana bisa kau mendapatkan hati.pria itu jika memotong wortel saja tidak bisa.” Kata nenek lagi.
“Nenek mendapatkan kakek karena wortel?” bantah Jessica lagi.
Plakk..
Tangan nenek mendarat tepat di dahi Jessica.
“Awww...” teriak Jessica mengusap-usap dahinya.
Dandelion terkekeh geli di belakang mereka.
“Kau sudah bangun?” Sapa nenek ketika menyadari keberadaan Dandelion.
“Iya.. Umm.. Sebaiknya aku kembali kerumahku, maaf merepotkan kalian.” Kata Dandelion.
“Iya pulanglah, tapi sebelum itu Ayo kita sarapan dulu.” Kata nenek, “cicipi masakan gadis bodoh ini.”
Dandelion tertawa, ia setuju dengan sebutan bodoh itu, “Iya, ok.” Katanya lalu duduk di kursi.
“Apa kau sudah merasa baikan?” tanya nenek lagi.
“Iya, sudah.. “ Jawab Dandelion masih merasa canggung.
“Baguslah.. Makan sarapanmu, Lalu bersantailah sepentar disini, setelah sampai dirumah kembali beristirahat, Tidak usah pergi kemana-mana dulu ya.” Perintah nenek.
“Tapi hari ini aku harus kuliah.” Jawab Dandelion.
“Coba ku periksa,” kata nenek memegang dahi Dandelion, “Baiklah.. Kalau kau merasa sudah sehat seharusnya tidak apa-apa.”
Dandelion tersenyum, ia.begitu merasa diperhatikan, dan hatinya merasa sangat bersyukur.
“Kenapa kau diam saja.” Tanya nenek pada Jessica.
“Mau bicara apa?” Kata Jessica, “semua yang ingin ku katakan sudah kau katakan lebih dulu.”
“Dengar..gadis ini mungkin terlihat bodoh, tapi kau harus tau sebenarnya dia gadis yang baik.,” Kata nenek pada Dandelion, “Kau akan tahu ketika sudah mengenalnya lebih jauh.”
Dandelion hanya tersenyum ramah, mereka begitu saling menyayangi sambil saling memaki pikir Dandelion.
“ Apa kau benar-benar sudah baik-baik saja?“ tanya Jessica ketika mereka sudah benar-benar hanya berdua sambil menonton televisi.
“Iya,” Jawab Dandelion, Lalu terkekeh mengingat sikap nenek,”aku menyukai nenekmu.” Katanya.
“Apa?” tanya Jessica sedikit histeris, “Kau menyukai nenekku?”
“Hahaa.. Iya.. Nenekmu jauh lebih baik dan lebih pintar darimu.” Kata Dandelion.
Jessica mencibir, “Yang benar saja,.” Katanya sambil melirik sinis pada Dandelion.
“Dasar bodoh.” Ucap Dandelion mengacak-acak rambut Jessica dan seketika membuat Jessica gugup, “Kau beruntung, nenek mu begitu perhatian dan sangat ramah.”
“Owh.. Kau menyukainya hanya sekadar sebagai nenek-nenek kan?” tanya Jessica lagi sambil merapikan poninya.
“Daniel Radcliffe sudah dewasa ya.” Kata Jessica ketika menonton sebuah acara di televisi.
“Siapa?” tanya Dandelion, jelas ia tidak tahu siapa itu Daniel Radcliffe.
“Harry Potter. “ Jawab Jessica.
Dandelion mencoba mendengarkan pikiran Jessica , mencari tahu tentang siapa itu Harry Potter, ia tidak ingin terlihat aneh hanya karena tidak tahu tentang seseorang ulyang Jessica maksud, tapi semuanya kosong, ia tidak bisa mendengar apapun.
“Kau benar-benar tidak tahu?” tanya Jessica ketika melihat wajah Dandelion yang bingung, “film Harry Potter itu berkisah tentang sekolah sihir. Seorang anak yatim piatu yang berasal dari keluarga penyihir, begitulah Pokoknya bagus, tentang Witch gitu.”
“Kau harus tau apa itu Witch, kau tidak boleh sembarangan menyebut seseorang dengan sebutan Witch, karena kesannya tidak bagus.” Kata Dandelion.
“Memangnya apa bedanya?”
“Witch itu sebutan untuk penyihir dengan ilmu hitam dan digunakan untuk hal-hal buruk, seperti santet, pelet, intinya untuk menyakiti orang lain lah.” Jawab Dandelion.
“Memangnya ada berapa jenis penyihir?” tanya Jessica lagi.
“Banyak sekali, jika kau bingung tentang penyihir seperti apa orang tersebut, maka sebut saja mereka Wizard, itu lebih sopan.”
“Kenapa,”
“Karena kekuatan sihir seorang Wizard hanya digunakan untuk hal yang baik.”
“Ooo.. Baiklah. Lagipula aku juga tidak akan bertemu mereka.” Ucap Jessica.
“Kenapa?” tanya Dandelion.
“Begitu bertemu pun aku sudah pasti akan menghindar, mana kutahu mereka baik atau tidak, kan?” Jawab Jessica.
“Memangnya kau bisa membedakan seseorang penyihir atau bukan?”
“Ya jelas aku tahu lah, mereka akan memakai topi yang runcing, membawa sapu terbang, hidungnya panjang dan wajah mereka cenderung berjerawat, ehhh.. Lebih seperti bisul daripada jerwat sih.” Kata Jessica menjabarkan seperti apa penyihir menurutnya.
Dandelion ternganga,”Darimana kau tahu penyihir seperti itu? Apa Harry Potter mu itu berwujud seperti itu?” Kata Dandelion kesal.
“Tidak sih, Harry Potter mah tampan dan keren, tapi kan itu hanya film, kenyataannya tidak seperti itu, makanya kau harus lebih banyak membaca buku supaya lebih banyak tahu.” Kata Jessica malah menasehati.
“Aku penasaran tentang buku apa yang kau baca.” Gumam Dandelion.
“Lagipula Menurutku penyihir itu hanya sekumoulan orang-orang yang berhalusinasi.” Tambah Jessica, “Jika mereka benar-benar memiliki kekuatan super,kenapa selama ini mereka hanya diam saja melihat orang-orang jahat berkeliaran? Iya kan?”
“Kenapa juga penyihir harus repot-repot menumpas kejahatan? Untuk apa melindungi para ludzi? Kalian harusnya bisa melindungi diri sendiri.” Kata Dandelion dengan nada marah.
“Apa itu ludzi?” tanya Jessica.
“Seorang manusia, bukan penyihir “ Jawab Dandelion.
“Memangnya penyihir bukan manusia? “ tanya Jessica lagi.
“Ya Tentu saja manusia.” Jawab Dandelion semakin kesal.
“Apa kau penyihir?” tanya Jessica lagi.
“Bukan.” Jawab Dandelion kali ini dengan nada melemah, ia baru sadar bahwa sejak tadi ia sedang terbawa emosi.
“Apa kau punya kekuatan super?”
“Tidak mungkin lah.”
“Lalu kenapa kau marah?” Kata Jessica malah balas bernada tinggi sambil memukul Dandelion dengan bantal sofa.