“Memangnya istrinya Pak Dani kemarin ngedatangin Bu Nisa di sekolahnya untuk apa?” tanya Bu Siti, guru honorer yang usianya sudah mencapai angka 29, akan tetapi masih jomblo, kini ia bertanya kepada Dani, penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Yaa, Bu Siti memergoki Rika mendatangi Nisa di lapangan sekolah tempat Nisa mengajar, kebetulan saat itu situasainya sepi, anak-anak dan guru yang lainnya sudah pulang, termasuk Bu Siti yang tidak sengaja memergokinya juga ketika menuju rumahnya untuk pulang.
Dani sempat diam beberapa saat, dan menoleh ke arah Bu Siti ketika mengatakan demikian, hal yang tak pernah ia duga bahwa akan ada orang yang melihat ketika istrinya mendatangi Nisa.
“Eh, kata siapa, Bu?” tanya Dani pura-pura tidak tahu dengan berusaha menyembunyikan rasa kikuknya dari Siti, bersikap biasa saja.
“Kemarin ketika saya mau pulang ke rumah, karena rumah saya melewati sekolah SMP tempat Bu Nisa mengajar ‘kan,” jawab Bu Siti menjelaskan kepada Dani, seraya ia masih penasaran dengan apa yang dilakukan oleh istrinya Dani.
Bu Siti dan guru lainnya yang ada di sana mengenal Nisa, karena memang Nisa adalah salah satu alumni dari SD tersebut, terlebih lagi Nisa sering sekali mampir ke sekolah SD itu untuk mengantarkan pesanan skincare kepada guru lain di sana, bahkan itulah awal mulanya Nisa bisa dekat dengan Dani.
“Mungkin hanya membahas masalah orderan saja, Bu, saya juga kurang tahu!” Dani mengelak, mencoba untuk menjawabnya dengan alasan lain yang masih cukup di akal.
Akan tetapi Bu Siti, tentu saja tidak serta merta percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dani, terlebih ia melihat jelas dengan wajah Nisa dan Rika ketika bertemu, meski suaranya sama sekali samar-samar, tapi mata tidak bisa berbohong.
“Tapi kok saya lihat raut wajah Bu Rika dan Bu Nisa kayaknya sama-sama tegang dan sama-sama marah, masa iya ngebahas orderan pake urat segala.” Bu Siti menyampaikan rasa tidak percayanya kepada Dani.
“Ah, kalau itu saya tidak tahu jelas, Bu Siti. Jika memang penasaran kenapa tidak bertanya langsung saja kepada istri saya atau Bu Nisa. Udah, ya ngobrolnya, bel udah berbunyi tuh, saya harus masuk kelas. Lagi pula untuk apa juga sih ikut campur urusan orang lain.”
Untung saja bel masuk segera berbunyi, sehingga kini Dani bisa menghindar dari pertanyaan-pertanyaan menyebalkan dari Bu Siti, yang suka sekali menyebarkan gossip, bahkan tidak disukai oleh kebanyakan guru di sana, karena saking banyaknya omong.
“Dih, saya belum selesai nanyanya, Pak! Saya belum puas dengan jawaban Pak Dani tadi!” Bu Siti sedikit berteriak agar suaranya itu bisa didengar oleh Pak Dani yang sudah melangkahkah kakinya dengan mantap.
Akan tetapi nihil, lelaki dengan tinggi 176 cm dan bertubuh atletis itu sama sekali tidak menggubris teriakan Bu Siti. Wajah tampannya menunjukkan rasa tidak suka atas pertanyaan Siti, lebih tepatnya atas rasa keingin tahuannya itu.
“Husstt! Ada apa sih teriak-teriak begitu kayak anak SD aja,” timpal guru lainnya kepada Bu Siti ketika melewatinya sehingga wanita itu kini merapatkan mulutnya, tidak lagi berteriak memanggil nama Dani yang sudah berada di dalam kelas.
‘Ahh, bohong! Pasti ada apa-apanya antara Pak Dani, Bu Rika, dan Bu Nisa,’ ucap Bu Siti di dalam hatinya yang memang selalu ingin tahu saja dengan urusan orang lain, terlebih memang ia sendiri tidak suka kepada Nisa yang sering dipuja oleh rekan gurunya yang ada di tempat mengajarnya.
Kalah saing, itulah intinya kenapa Bu Siti iri kepada Nisa. Kepada wanita muda berusia 25 tahun, karena sebenarnya ia pun punya hati kepada Dani, akan tetapi Dani malah lebih perhatian kepada Nisa, nampak jelas sorot mata lelaki itu ketika datang ke sekolah Dani.
‘Lihat saja! Aku akan mencari tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian bertiga, dan tentunya ini akan menjadi gossip hangat satu sekolahan kalau memang Pak Dani ketahuan bermain api dengan si Nisa itu,’ sambungnya lagi dengan mata memicing ke luar, seolah ia melihat Nisa dan Pak Dani di sana.
“Bu Siti ada apa? kenapa? Ditanya kok malah ngelamun sih?” tanya rekan guru di sana kepada Siti, membuyarkan gumaman Siti di dalam hatinya.
“Gak usah pengin tahu, Bu Diah! Gak usah kepo sama urusan anak muda!” Siti menjawab begitu saja kepada guru senior, yang tak seharusnya berkata demikian.
DEG
‘Astaga, dasar Siti gak berkaca diri juga, padahal sudah jelas dia pun kepo sama urusan Pak Dani dan istrinya, juga Bu Nisa, kenapa dia bisa aja membalikkan ke orang lain,’ ucap Bu Diah di dalam hatinya.
“Ditanya malah marah-marah, ya sudah kalau emang gak mau jawab!” gerutu Bu Diah kepada Siti dengan wajah yang kini mulai sebal juga, lalu pergi melengos di hadapan Siti begitu saja, karena kesal juga diperlakukan seperti itu oleh junior.
“Ihh, dasar! Orang tua baperan! Mentang-mentang PNS seenaknya aja melengos dari guru honor sepertiku ini,” ucapnya lagi dalam hati bersungut-sungut mengomentari Bu Diah yang sama sekali tidak bersalah.
Wajah Siti kini sebal, wajahnya menampakkan guratan seperti tertahan ingin meluapkan amarahnya itu, akan tetapi tentu saja ia tidak bisa seenaknya begitu saja berteriak, karena memang saat ini ia sedang berada di sekolah, tempat kerjanya.
Bagaimana pun ia adalah guru, yang semestinya menjadi orang yang digugu dan ditiru oleh anak murid.
“Bu Siti, ayok masuk ke kelas! Anak-anak udah pada ribut aja di dalam!” ucap salah seorang anak lelaki mendatangi Siti, mungkin anak itu adalah ketua kelas, yang bertugas untuk memanggil guru.
Siti menoleh ke asal suara itu, yang sudah mengganggunya pula dari rasa kesal kepada Bu Diah dan juga Dani, tentunya karena tidak mau menjawab dengan jujur.
“Ahh, kalian itu! Baru juga bel masuk berbunyi, udah langsung ribut aja!” Siti bersungut-sungut seraya bangkit dari duduknya dengan tergesa-gesa.
Akan tetapi ia tidak melihat dengan jelas langkah kakinya sehingga kakinya tersandung pada kaki meja yang ada di hadapannya itu, lalu jatuhnya guru comel itu ke bawah.
BRUGGGGGGG