“Ihh apaan sih, Mas? Mana mungkin aku suka sama Pak Andri, astaga! Dia lebih pantas menjadi bapakku dari pada pasangan.” Nisa menolak tuduhan Dani bersungut-sungut, bahkan kini membuat lelaki itu cekikikan.
Dani memang suka sekali membuat Nisa seperti itu, menggodanya, dan bersifat manja kepadanya, itu artinya ia telah berhasil menjadikan Nisa takluk dalam kungkungannya, bukankah memang demikian adanya, bahwa seorang wanita akan nampak lebih manja kepada lelaki yang sudah membuatnya nyaman?
“Dasar! Malah ketawa lagi!” ucap Nisa lagi, di antara malam yang semakin larut saja.
"Lagi pula kenapa juga sih sampai bertanya begitu sama aku? Memangnya kamu tadi ketemu sama orang yang kegeeran tersebut?” tanya Nisa lagi penasaran.
“Iya, tadi ketemu di warung kopi sebrang jalan sana! Kayaknya dia suka sama kamu, Nis! Bahkan dia begitu percaya diri, mengira kamu pun ada rasa juga kepadanya,” jawab Dani lagi menjelaskan dengan detail.
Berbeda dengan Nisa yang kini matanya semakin terbelalak saja, bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya tak menyangka bahwa lelaki tua itu menyimpan rasa kepadanya hanya karena Nisa pernah merespon pesannya dengan baik dan ramah.
Padahal pada siapa pun Nisa selalu bersikap demikian, akan tetapi ternyata sikapnya kepada Andri, malah disalah artikan oleh lelaki itu sendiri, menduga bahwa Nisa tertarik kepadanya. Astaga! Hal ini membuat hati Nisa gempar.
“Astaga, kenapa itu orang PD banget, ya. Duh, Gusti! Padahal aku hanya membalas pesan seadaanya saja,” jawab Nisa lagi tidak setuju dengan tuduhan Andri.
“Bahkan katanya, kamu pernah posting photonya di sosial media.” Dani habis-habisan menginterogasi Nisa layaknya sebagai kekasihnya saja.
“Posting di sosial media? Kapan?” tanya Nisa lagi dengan mata yang semakin melotot saja. Dani hanya mengangkat bahunya saja, tidak tahu.
Lantas saat itu juga, Nisa langsung meraih ponselnya dan membuka sosial medianya, mengecek postingan yang katanya ada photo Andri, fokus padahal ponselnya, wanita muda itu men-scroll ke bawah, hingga sampai pada satu postingan.
“Astaga! Ini toh, yang kata dia memposting photonya, sumpah deh, aku gak ada maksud, aku hanya mau posting photo anak-anak saja, gak sengaja moto punggungnya Pak Andri juga.” Nisa menjelaskan seraya menyerahkan ponselnya kepada Dani.
Lelaki itu hanya terkekeh saja ketika melihat postingan Nisa yang memang sama sakali tidak ada postingan seperti yang dikatakan oleh Andri kepadanya itu di warung kopi.
“Ihhh, jadi illfeel deh aku sama Pak Andri!” tubuh Nisa bergidik membayangkan wajah lelaki tua yang sudah salah faham kepadanya.
Dani hanya diam saja, tak lagi menanggapi, karena memang itu bukanlah pembahasan yang menarik, karena keduanya sudah berjanji ketika sedang berdua, maka tidak boleh membahas lelaki atau wanita lain lagi.
“Oh, ya tadi kenapa aku ditinggalin begitu aja, Mas?” tanya Nisa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh lelaki tersebut.
Dani diam sesaat, bahkan kini raut wajahnya berubah menjadi datar saja ketika Nisa mengajukan tanya, tawa yang tadi ada, kini hilang seketika.
“Aku udah gak kuat, butuh kopi hitam dulu,” jawabnya berbohong seraya memalingkan wajahnya dari Nisa agar tidak diketahui bahwa ia sedang berbohong.
Akan tetapi, nihil, karena Nisa merespon dengan wajah tidak percaya kepadanya, bahkan kini wanita itu menuntut Dani untuk menjawab dengan jujur. Menatapnya penuh dengan selidik.
“Iya, iya, aku jawab jujur…” ucap Dani lagi yang terpotong, menghela nafas sejenak, dan mengembuskannya, lalu mulai berbicara.
“Aku memang sudah tidak kuat. Kalau aku di sana saja, kita bisa lebih jauh melakukan hal yang tidak diinginkan. Memangnya kamu mau, aku yang mendapatkan perawanmu? Padahal aku sudah janji, untuk tidak merusakmu, bukan?” jawab Dani seraya menatap ke depan, pada tenda-tenda yang sudah amat sepi.
Nisa hanya mengernyitkan dahinya saja, bagi Dani pun jika sampai melakukan s**s dengan Nisa tentu saja bisa berabe, sedangkan jika hanya sebatas sentuhan dan videosex, atau apa pun namanya, masih aman, karena tidak langsung bersentuhan.
Padahal sama saja, pada hakikatnya keduanya sudah berzina, meski hanya sebatas online saja, ya zina online atau zina secara virtual.
“Oh, gitu! Okelah kalau begitu, aku pegang janji kamu, Mas!” Nisa akhirnya menyimpulkan, dan kini ia faham dengan apa yang dilakukan oleh Dani kepadanya yang semata-mata hanya ingin melindungi dan tidak ingin merusaknya saja.
“Aku ngantuk, aku mau tidur dulu! Kamu juga tidur, ya, masuk ke tenda, Nis. Awas jangan sampai ngobrol sama Pak Andri!” Dani memberikan peringatan kepada Nisa, lalu pergi begitu saja tanpa mempedulikan Nisa yang masih mengerutkan keningnya.
***
“Kamu gak macam-macam, kan tadi malam, Mas?” tanya Rika kepada Dani, ketika lelaki itu kini sudah sampai di rumahnya lagi, ya meskipun Rika adalah guru juga, akan tetapi Rika tidak ikut mengirimkan siswanya ke perkemahan tersebut, karena berbeda tingkat.
Rika di yayasan, yang artinya di bawah naungan Kemenag dan Dani di bawah naungan Dinas pendidikan, tentunya akan terdapat banyak perbedaan di antara keduanya.
“Macam-macam bagaimana sih, sayang?” tanya Dani pura-pura tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh istrinya tersebut.
“Itu, kamu gak ketemu sama boneka mainanmu itu, kan? Si Nisa, yang katanya lulusan pesantren tapi kok kelakuannya liar banget, berani menjalin hubungan dengan suami orang,” jawab Rika bersungut-sungut kepada suaminya sendiri.
Bahkan Rika sangat menampakkan rasa tidak sukanya kepada Nisa, istri mana pula yang suka kepada wanita yang akan merebut suaminya itu?
“Ya, gaklah, sayang. Kan perkemahan kemarin hanya untuk tingkat SD saja, sedangkan Nisa ngajarnya di SMP.” Dani berbohong kembali, padahal sekolah Nisa pun mengirimkan beberapa siswanya untuk ikut dalam kegiatan tersebut.
Dan Nisa ditugaskan untuk menemani siswanya, karena belum berkeluarga, sedangkan Riri, sahabatnya itu, tidak ikut menginap karena sudah punya suami.
Rika kembali terdiam, ya wanita itu kini nampak bernafas lega, padahal jika ia tahu apa yang terjadi tadi malam kepada suaminya, yang hampir saja m*****i Nisa, jika tidak langsung keluar dari mobilnya, mungkin Rika akan murka kepada Dani.
“Bahkan aku punya hadiah untuk kamu, sayang. Hadiah ulang tahunmu.” Dani tersenyum seraya menyerahkan kotak kecil berukuran 5 X 5 cm berwarna merah kepada Rika.
Sontak saja, wajah Rika kini langsung berubah menjadi cerah seketika menerima hadiah tersebut. Tidak menunggu lama lagi, Rika langsung menerima kotak mungil tersebut dari suaminya.
“Wah, bagus banget, Mas! Aku suka sekali!” Mata Rika bersorot-sorot bahagia dan penuh haru, seraya meraih gelang emas yang ada di dalam kotak perhiasan itu dan langsung memakainya di pergelangan tangan kirinya.
“Kamu suka, sayang?” tanya Dani lagi memastikan kepada Rika.
Rika menganggukkan kepalanya saja dengan bibir yang tak berhenti untuk merekahkan senyum seraya menatap gelang emas yang kini sudah melingkar indah di tangan kirinya.
“Kamu pintar banget sih, Mas! Tahu aja yang aku mau, terima kasih, ya, sayang,” ucap Rika lagi, seraya mengecup pipi kanan Dani.
“Sama-sama, sayang,” balas Dani dengan tersenyum pula.
“Tapi aku minta bayaran, aku minta dipuaskan, karena jadwal b******a kita tadi malam terlewat karena tugas Negara, apalagi ketika tadi malam, aku sudah tidak kuat melihatmu,” sambung Dani lagi mengajak Rika untuk b******a dengannya.
“APA? MELIHATMU? MELIHAT SIAPA, MAS?” tanya Rika kembali terkejut.
Duh, Dani malah keceplosan!