Reza tidak benar-benar pulang malam itu. Dia sampai di parkiran, duduk di atas motornya, menatap ponselnya selama hampir setengah jam tanpa menyalakan mesin. Lalu dia menyerah pada dorongan di dadanya, mematikan kunci motor, dan kembali masuk ke gedung.
Dia tidak menuju lantai sembilan. Dia menuju atap.
Atap Graha Asri Tower B bukan tempat mewah. Cuma dak beton luas dengan tangki air, antena parabola tua, dan deretan jemuran milik penghuni yang nekat. Tapi dari sini, lampu-lampu kota terhampar seperti tumpahan bintang yang jatuh, dan angin malam meniup cukup kencang untuk membawa pergi sebagian beban di kepala. Reza pernah ke sini sekali, saat mengantar paket ke penghuni lantai atas yang minta tolong dibawakan ke rooftop tempatnya berjemur. Dia ingat tempat ini menenangkan.
Dia mengirim satu pesan ke Sasa. Cuma satu baris.
"Ke atap, yuk. Aku tunggu."
Lama tidak ada balasan. Reza mulai berpikir mungkin dia keterlaluan tadi, mungkin Sasa sudah terlalu kecewa. Lalu, sepuluh menit kemudian, pintu menuju atap terbuka berderit, dan Sasa muncul, mengenakan jaket tipis, rambut tertiup angin, dengan dua gelas—bukan kopi, tapi cokelat panas instan, yang murah dan manis.
"Aku bawa ini," katanya, menyodorkan satu gelas, suaranya hati-hati. "Bukan kopi. Kopi malem-malem bikin nggak tidur, terus tambah ngomel."
Reza menerima gelas itu, dan sesuatu di dadanya melonggar. "Makasih."
Mereka duduk berdampingan di tepi dak, di belakang pembatas pengaman, menatap kota. Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara. Hanya angin, lampu kota, dan uap hangat dari dua gelas cokelat.
"Maaf ya, soal tadi," kata Reza akhirnya. "Aku keterlaluan. Kamu nggak salah apa-apa, aku malah nyalahin kamu. Padahal aku marah sama keadaan, bukan sama kamu."
Sasa menggenggam gelasnya erat-erat untuk menghangatkan tangan. "Aku juga minta maaf. Aku terlalu cepat tersinggung. Pas kamu bilang mau berhenti, aku langsung mikir kamu nyerah, padahal kamu cuma capek dan butuh didengerin." Dia menunduk. "Aku takut, Rez. Itu yang sebenarnya. Aku takut kalau usaha ini gagal, aku ngerasa aku yang nyeret kamu ke mimpi yang ketinggian. Aku yang dorong kamu buat 'mikir lebih dari sekadar bertahan hidup', terus kalau gagal, itu salahku."
Reza menoleh, terkejut. "Sas, itu bukan salah kamu. Aku mau usaha ini karena aku juga pengen. Bukan karena kamu paksa."
"Tapi aku takut," ulang Sasa pelan. "Aku takut kamu nyesel. Takut suatu hari kamu liat aku dan mikir, 'gara-gara dia aku jadi repot begini.'"
Reza terdiam. Lalu dia tertawa kecil—bukan menertawakan, tapi tawa orang yang tiba-tiba menyadari betapa keduanya menyimpan ketakutan yang sama bentuknya, hanya dari sisi yang berbeda.
"Lucu," katanya. "Kita berdua takut hal yang sama. Aku takut aku nggak cukup—nggak cukup mapan, nggak cukup pinter, nggak cukup buat kamu. Kamu takut kamu kebanyakan—kebanyakan dorong, kebanyakan minta. Padahal yang sebenarnya kita berdua butuhin cuma satu hal."
"Apa?"
"Ngomong jujur. Kayak sekarang." Reza menatap kota di bawah mereka. "Tadi kita berantem karena kita mendem sendiri-sendiri. Kamu mendem takut, aku mendem capek, terus dua-duanya meledak barengan. Padahal kalau dari awal kita ngomong kayak gini, di atap, sambil minum cokelat murah, mungkin nggak sampai berantem."
Sasa tersenyum tipis, dan menyandarkan kepalanya ke bahu Reza. "Cokelat murah ini ternyata lebih ampuh dari kopi mahal, ya."
"Cinta paket hemat," kata Reza, dan keduanya tertawa pelan.
Mereka duduk lama di sana, berbagi kehangatan di tengah angin dingin, menatap kota yang tidak peduli pada masalah dua anak muda di atapnya. Reza menceritakan ketakutannya yang lebih dalam—bahwa sebagai anak kos yang hidup pas-pasan, dia selalu merasa satu langkah dari kehilangan segalanya, bahwa setiap kerugian terasa seperti tanah yang amblas di bawah kakinya. Sasa mendengarkan, tidak menyela, hanya sesekali mengeratkan genggaman.
Lalu Sasa bercerita tentang dirinya—tentang bagaimana sejak Bagas, dia belajar untuk tidak terlalu berharap, tapi Reza membuatnya berani berharap lagi, dan harapan itu, sejujurnya, menakutkan. "Lebih gampang nggak punya mimpi," katanya. "Kalau nggak punya, nggak bisa hancur. Tapi kamu bikin aku berani bermimpi lagi. Dan itu yang bikin aku takut sekaligus bahagia."
Reza merangkul bahunya. "Kita lanjutin usahanya," katanya pelan, mantap. "Bukan karena nantang Bagas. Bukan karena gengsi. Tapi karena ini punya kita, dan aku nggak mau nyerahin sesuatu yang kita bangun cuma gara-gara takut. Kita pelan-pelan. Kalau rugi, kita evaluasi. Kalau capek, kita istirahat. Tapi kita jalan bareng. Setuju?"
Sasa mengangkat wajahnya, menatap Reza, mata berkaca-kaca tapi senyumnya lebar. "Setuju. Asal satu syarat."
"Macan dan syaratnya," Reza terkekeh. "Apa lagi?"
"Lain kali kalau kamu capek, jangan dipendem. Ngomong. Ajak aku ke atap. Beliin aku cokelat panas. Aku janji nggak bakal ngomel." Sasa mengulurkan kelingking. "Deal?"
Reza mengaitkan kelingkingnya. "Deal."
Dan di bawah langit kota yang kelam, di atap apartemen murah yang menjadi saksi bisu janji-janji kecil mereka, dua orang yang sempat retak karena tekanan kembali utuh—bukan karena masalah mereka selesai, tapi karena mereka memilih, sekali lagi, untuk menghadapinya bersama. Di kejauhan, lampu-lampu kota berkedip, seakan ikut merestui.