Kelelahan punya cara yang licik untuk merusak hal-hal baik. Ia tidak datang dengan ledakan, melainkan dengan kata-kata yang dipilih asal-asalan oleh otak yang sudah terlalu lelah untuk berhati-hati.
Malam keenam musim ramai, Reza pulang ke kos dengan badan remuk. Dia rebahan di kasur tipisnya tanpa melepas seragam, dan saat ponselnya bergetar dengan pesan dari Sasa, dia membalas dengan jempol yang lebih cepat dari otaknya.
"Rez, besok jadi nggak ketemu? Kamu udah janji tiga kali lho," tulis Sasa, dengan emoji wajah memelas di akhir.
Reza, yang setengah tertidur dan punggungnya nyeri, mengetik balasan yang di kepalanya terdengar netral tapi di layar terlihat dingin: "Liat besok ya. Capek banget. Aku nggak bisa janji apa-apa sekarang."
Lalu dia ketiduran, ponsel masih di tangan, tanpa sadar bahwa kata "nggak bisa janji apa-apa" itu mendarat di hati Sasa dengan cara yang sama sekali tidak dia maksudkan.
Pagi harinya, Reza terbangun dengan satu pesan dari Sasa yang membuat kantuknya langsung lenyap.
"Oke. Kalau capek, ya udah. Aku juga nggak mau maksa orang yang udah nggak bisa janji apa-apa. Santai aja."
Reza menatap layar itu, perutnya mencelos. Dia tahu nada itu. Itu nada Sasa yang terluka tapi terlalu gengsi untuk mengaku terluka, jadi dia membungkusnya dengan "santai aja" yang sama sekali tidak santai.
"Sas, maksudku bukan gitu," balas Reza cepat. "Aku cuma lelah banget semalem. Aku nggak bermaksud—"
"Nggak apa-apa, Rez. Aku ngerti kok. Kerjaan lebih penting. Aku nggak akan ganggu lagi."
"Sas, jangan gitu dong. Kamu nggak ganggu. Kamu salah paham."
"Aku salah paham? Jadi sekarang aku yang salah?"
Dan begitulah, dari ranjang kos yang sempit dan apartemen di lantai sembilan, dua orang yang sama-sama lelah dan sama-sama gengsi mulai bertengkar lewat layar ponsel—pertengkaran pertama mereka, yang seperti kebanyakan pertengkaran sepele, membesar bukan karena masalahnya besar, tapi karena tidak ada yang mau menyerah duluan.
Reza, yang masih harus berangkat kerja, membalas dengan kepala panas. "Aku tuh kerja keras juga buat kita, Sas. Buat masa depan. Masa nggak boleh capek sehari?"
Balasan Sasa datang cepat dan tajam. "Aku nggak pernah larang kamu capek. Aku cuma pengen tahu kamu masih inget aku ada. Tapi kalau aku jadi beban, ya udah."
Reza ingin mengetik sesuatu, tapi paketnya menunggu, Bang Topan sudah meneleponnya dua kali, dan dia terpaksa berangkat dengan hati yang lebih berat dari tumpukan paket di troli. Sepanjang hari, di antara mengetuk pintu dan meminta tanda tangan, pertengkaran itu terus berputar di kepalanya. Setiap kali dia berhenti di lampu merah, dia mengecek ponsel, berharap ada pesan baru. Tidak ada.
Dia menyadari, di tengah kemacetan dan deru klakson, bahwa dia dan Sasa sama-sama tidak benar-benar marah soal janji yang batal. Mereka marah karena takut. Sasa takut diabaikan, persis seperti dia dulu diabaikan Bagas. Dan Reza takut tidak cukup—takut bahwa selelah apa pun dia bekerja, tetap tidak akan pernah cukup untuk membuat Sasa merasa dipilih.
"Bodoh," gumam Reza pada dirinya sendiri di lampu merah, menggebrak setang pelan. "Kalian berdua sama-sama bodoh."
Sore itu, Reza mencoba menelepon. Tidak diangkat. Dia mengirim pesan panjang yang dia tulis dan hapus lima kali, lalu akhirnya hanya mengirim: "Aku minta maaf. Beneran. Bukan kamu yang salah paham, aku yang salah ngomong. Aku capek, tapi bukan capek sama kamu. Aku nggak akan pernah capek sama kamu."
Centang dua. Dibaca. Tidak ada balasan.
Reza menatap layar itu di pos yang mulai gelap, dan untuk pertama kalinya sejak salah antar paket yang konyol itu, dia merasakan sesuatu yang lebih menakutkan daripada komplain palsu atau ancaman dipecat: kemungkinan bahwa dia bisa kehilangan Sasa, bukan karena Bagas, bukan karena uang, tapi karena dua kata ceroboh yang diketik tangan yang terlalu lelah.
Dia tahu satu hal dengan pasti. Pesan tidak akan cukup. Dia harus datang langsung. Malam ini juga. Dan dia harus membawa sesuatu—bukan untuk membeli maaf, tapi untuk menunjukkan bahwa dia, di tengah lelah yang menggunung, masih ingat hal-hal kecil tentang Sasa.
Dia tahu persis apa yang harus dibawa.