Pagi itu, di kantor cabang ekspedisi Kilat Express, Reza datang dengan semangat yang langka. Dia bahkan sempat membeli kopi sachet ekstra di warung dekat pos. Hidup terasa baik-baik saja—sampai Bang Topan, supervisornya yang berbadan besar dengan kumis tebal, memanggilnya dengan nada yang membuat perut Reza melilit.
"Reza! Ke ruangan, sebentar."
Setiap kurir tahu bahwa "ke ruangan, sebentar" adalah empat kata paling menakutkan dalam kamus per-ekspedisi-an.
Bang Topan duduk di balik meja yang penuh tumpukan kertas dan satu kalender bergambar pemandangan pantai dari tiga tahun lalu. Dia memutar layar laptopnya menghadap Reza.
"Baca."
Di layar ada sebuah ulasan. Rating satu bintang, menyala merah menyala seperti lampu rem. Di bawahnya, sederet teks:
"Kurir TERPARAH yang pernah saya temui. Memaksa saya menerima paket yang jelas-jelas BUKAN punya saya, ngotot seperti penjual obat, lalu kabur dan meninggalkan kotak di depan pintu saya sampai saya HAMPIR PATAH TULANG karena tersandung. Sangat tidak profesional. Kalau bisa kasih nol bintang, saya kasih minus. Pecat orang ini."
Reza menelan ludah. "Bang, saya bisa jelasin—"
"Jelasin apa, Rez?" Bang Topan menyandarkan punggung, kursinya berderit. "Ini ulasan paling galak yang pernah masuk ke akun cabang kita. Manajer regional sampai nelepon saya jam tujuh pagi. JAM TUJUH, Rez. Saya belum sarapan."
"Mbaknya yang nolak tanda tangan, Bang. Dia bilang bukan paketnya, padahal di sistem—"
"Bener nggak paketnya?"
Reza membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Dia membuka aplikasi di ponselnya, mengecek riwayat pengiriman kemarin. Dan saat itulah perutnya benar-benar jatuh ke lantai.
Unit 1308. Bukan 1208.
"Oh," kata Reza pelan. "Oh, tidak."
"Oh tidak apa?"
"Saya... salah lantai, Bang. Eh, salah unit. Beda satu angka." Reza memejamkan mata. "Paket pupuk Bu Hartini. Saya antar ke orang yang salah."
Bang Topan memijat pelipisnya. "Jadi ceritanya, kamu ngotot maksa paket ke orang yang emang nggak pesen, terus paketnya juga emang salah alamat, terus kamu tinggalin gitu aja, terus orangnya hampir jatuh."
"Kalau dirangkum kayak gitu, kedengarannya memang jelek, Bang."
"MEMANG jelek, Rez!"
Bang Topan berdiri, berjalan ke jendela, menatap parkiran motor seolah mencari jawaban di sana. Lalu dia berbalik. "Begini. Kamu nggak saya pecat. Tapi kamu harus benerin ini. Telepon orangnya, minta maaf, ambil paketnya balik, anter ke alamat yang bener. Terus minta dia hapus atau revisi ulasannya. Manajer regional bilang, kalau rating cabang turun lagi, ada yang dipotong dari bonus kita semua. KAMU TERMASUK."
"Telepon? Bang, dia galaknya kayak macan kelaparan."
"Ya jinakin macannya." Bang Topan menyodorkan secarik kertas dengan nomor telepon. "Nomor penerima yang salah itu udah saya catet dari sistem. Sana. Sekarang."
Reza keluar dari ruangan dengan kaki seberat timah. Dia duduk di bangku plastik di pojok pos, menatap kertas berisi nomor telepon itu seperti menatap kartu undangan ke kandang singa.
"Cuma telepon. Cuma minta maaf. Gampang," katanya pada diri sendiri, dengan keyakinan yang sama sekali tidak dia rasakan.
Dia menekan nomornya. Nada sambung berbunyi sekali, dua kali—
"Halo?" Suara perempuan. Tajam. Reza langsung mengenalinya. Macan.
"Eh, halo, selamat pagi, Mbak. Saya Reza, dari Kilat Express—"
Hening sepersekian detik. Lalu, dengan suara yang bisa membekukan air mendidih: "Oh. KAMU."
"Iya, Mbak. Saya yang kemarin—"
"Yang ninggalin kotak di depan pintu saya sampai saya hampir patah tulang ekor?"
"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Mbak. Ternyata memang paket itu salah alamat, harusnya ke tetangga Mbak di lantai atas. Saya yang salah baca nomor unit. Saya benar-benar minta maaf."
Ada jeda panjang di seberang. Reza membayangkan macan itu sedang mengasah cakar.
"Jadi," kata Sasa akhirnya, suaranya berbahaya pelan, "kamu maksa saya, ngotot ke saya, bikin saya hampir cedera, GARA-GARA kamu nggak bisa baca angka?"
"...Ringkasan yang akurat, Mbak."
Reza nyaris bisa mendengar gigi perempuan itu gemeretak. Lalu, tak terduga, terdengar suara tawa kecil yang ditahan. "Astaga. Kamu ini kurir paling jujur yang pernah saya temui. Atau paling bodoh. Saya belum yakin yang mana."
"Boleh dua-duanya, Mbak?"
Dan untuk pertama kalinya sejak putus dua hari lalu, Sasa tersenyum tanpa sadar. Walau dia segera memasang wajah galak lagi dan berkata, "Datang sini. Ambil paketnya. Sekarang. Dan bawa kopi. Saya butuh kompensasi atas tulang ekor saya."
Telepon ditutup.
Reza menatap ponselnya. "Kompensasi kopi," ulangnya. "Ini... berkembang ke arah yang nggak saya duga."