Bab1
"Ah, Daniel. Kenapa kamu selalu menggunakan ini? kita sudah menikah selama 2 tahun, sudah saatnya untuk memiliki Baby," ucap Rosalinda, ketika melihat tubuh t*******g Daniel, dengan tangannya yang kini tengah memasang pengaman pada senjatanya.
Mendengar ucapan istrinya yang sedang berbaring itu, Daniel tersenyum.
"Belum saatnya, Sayang."
Kening Rosalinda mengerut.
"Memangnya mau sampai kapan? aku capek ditanya ibumu terus," lirih Rosalinda, sembari memasang wajah cemberutnya.
Daniel hanya tersenyum dan langsung mendaratkan ciumannya pada bibir merah Rosalinda.
Daniel mencium dengan lembut bibir wanita itu, sembari memainkan tangan kirinya pada gundukan gunung kembar Rosalinda. Desahan halus penuh tuntutan itu, mulai menghipnotis pikiran Daniel.
Dengan perlahan, Daniel memasukkan senjatanya ke dalam tubuh Rosalinda, erangan kecil, deru napas mulai memenuhi ruangan kamar mereka.
Permainan itu berlangsung cukup lama, Daniel yang begitu perkasa dan kuat dalam hal urusan ranjang, membuat Rosalinda begitu candu ketika mereka melakukannya.
Meskipun permainan itu terjadi 2 Minggu sekali dalam satu bulan, bahkan hanya 1 bulan, tapi tidak membuat Rosalinda berpaling dari Daniel.
Rosalinda cukup memahami, bahwa Daniel selalu sibuk dengan perusahaannya, bahkan Daniel sering melakukan perjalanan keluar kota untuk waktu yang cukup lama.
Meskipun kadang ada rasa rindu, dan napsu yang tidak tertahankan, tapi Rosalinda selalu berusaha mengatasinya dengan baik tanpa pernah berpikir untuk mencari kepuasaan pada orang lain.
Dia percaya, suaminya baik dan itu cukup untuk membuatnya bahagia.
Ketika menghabiskan dua ronde pertempuran, Daniel pun merasa kelelahan dan mulai terdengar dengkuran kecil, tandanya dia telah berada jauh di alam mimpi.
Rosalinda tersenyum, dan merasa puas karena permainan hebat suaminya dalam memuaskan hasratnya.
Jam dinding menunjukkan pukul 2 pagi, dan bunyi pesan masuk ke ponsel Daniel, memancing rasa penasaran di hati Rosalinda.
"Jam segini pun ada yang mengirim pesan? begitu sibukkah kamu?" batin Rosalinda, sembari meraih ponsel yang terletak di atas nakas samping Daniel tidur.
Tidak biasanya juga, lelaki itu meletakkan ponselnya di atas nakas, ini pertama kalinya.
Ketika Rosalinda meraih ponsel itu dan membukanya, dia cukup terkejut membaca pesan itu.
'Dari seseorang tanpa nama'
[Aku kesulitan tidur. Kupikir kamu akan tetap ada di Hotel, ternyata kamu tidak ada. Aku tahu kamu marah, aku minta maaf.]
Membaca pesan itu, membuat Rosalinda mengernyit. Nomor si pengirim pesan pun terlihat sedang online, dan kembali terlihat mengetik pesan.
Rosalinda memutuskan untuk diam dan hanya membaca pesan selanjutnya, dia merasa penasaran.
[Lain kali, aku pasti akan memuaskan kamu, sayang. Hanya saja, aku beneran sedang sibuk hari ini, aku juga cukup lelah. Kuharap kamu tidak pulang ke rumah, dan jangan menyentuh wanita itu. Aku mampu melayani kamu, tapi bukan hari ini.]
Rosalinda merasakan gejolak emosi di dalam dadanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa si pengirim pesan ini. Rosalinda merasa penasaran, tapi dia juga tidak mau bertindak gegabah. Dia memilih diam, dan menahan segala perasaan tidak nyamannya.
Dia yakin, suaminya baik dan mungkin seseorang sedang mengerjainya.
Dia meletakkan kembali ponsel itu, dan memilih tidur sembari memeluk Daniel. Dalam hati dia berkata, Daniel milikku, dan aku yakin dia hanya mencintaiku.
Pagi harinya, ketika Daniel bangun, dia pun tersenyum ketika melihat Rosalinda tengah terlelap sembari memeluknya.
Wajah teduh dan tengah tertidur pulas itu pun cukup membuat senyuman manis Daniel terukir.
Daniel meraih ponselnya, dan terkejut mendapati panggilan telepon yang tidak terjawab begitu banyak.
Daniel lupa mengatakan pada wanita disana, bahwa dia pulang ke rumahnya. Hanya karena sempat merasa kecewa dan emosi pada wanita itu, dia pergi tanpa mengatakan apa- apa.
Pesan singkat pun begitu banyak masuk ke ponselnya.
[Daniel i love you.]
[Daniel, aku rindu. Aku butuh kamu, aku pengen.]
Senyum Daniel terukir, dia pun gegas membalas pesan itu.
[Ayo ke Hotel, aku tidak ngantor hari ini, kutunggu jam 10 pagi, oke.]
Setelah mengirim pesan itu, Daniel gegas meraih kunci mobil dan pergi tanpa berpamitan pada Rosalinda, yang masih tertidur pulas.
Bahkan ketika wanita itu bangun, dia hanya terdiam melihat tempat tidur disebelahnya yang sudah tidak ada sosok suaminya.
Hanya ada pesan singkat, yang masuk ke ponselnya.
[Maaf, aku pergi tanpa pamitan. Aku tahu kamu lelah, dan tidak ingin menganggu.]
Itu sudah menjadi hal biasa bagi Rosalinda, dan dia merasa tidak heran lagi.
Hanya saja, perasaan curiga benar- benar membuat Rosalinda tidak nyaman. Ditambah pagi itu, dia kedatangan ibu mertuanya, Maria.
"Rosalinda, sepertinya kamu benar' benar merasa menjadi ratu, ya!" ucap Maria dengan tatapan dingin, ketika Rosalinda memasuki area ruang makan.
Maria tengah menikmati sarapan, yang sudah dipersiapkan para pelayan bagian dapur.
Rosalinda hanya diam, sudah biasa dia mendengar ucapan- ucapan tidak nyaman dari ibu mertuanya ini.
"Bangun siang, tidak ngapa- ngapain, tidak punya anak juga, tidak bekerja juga, benar- benar beban," cibir Maria lagi, karena merasa semakin jengkel dan tidak suka.
"Daniel selalu melarangku untuk bekerja, dia bilang dia mampu memberikan apapun untukku," jawab Rosalinda, sembari meraih kursi dan duduk dengan tenang.
"Cih, begitulah alasan orang yang menjadi beban keluarga, tidak tahu malu," ketus Maria.
Rosalinda diam dan tidak menanggapi lagi, dia meminum segelas s**u dan berniat pergi secepatnya dari meja makan yang penuh dengan cibiran itu.
Namun, disaat dia berdiri, telepon masuk dari nomor ibunya.
Rosalinda pun gegas menjawab panggilan itu dan terkejut dengan berita yang tengah dia dengar dari ibunya.
Adik lelakinya mengalami kecelakaan tunggal dan sedang membutuhkan biaya besar untuk operasinya. Dan semua yang ibu Rosalinda ucapkan, terdengar oleh Maria.
"Jangan coba- coba menggunakan uang anakku! untuk menolong keluargamu, dasar beban s****n," teriak Maria, dan di dengaf jelas oleh ibu Rosalinda.
Rosalinda terkejut dan menegang, mendengar teriakkan spontan ibu mertuanya. Ibu Rosalinda pun menangis, memohon bantuan Rosalinda, demi menyelamatkan nyawa anaknya.
"Jika kamu berani menggunakan uang Daniel, saya tidak segan- segan, mengusir kamu dari sini," ancam Maria, membuat Rosalinda menetaskan air mata, tanpa tahu harus berkata apalagi.
"Bu, tenanglah, akan aku usahakan secepatnya," lirih Rosalinda pada ibunya yang terdengar hanya bisa menangis terisak- isak.
Tiba- tiba, Maria merebut ponsel Rosalinda dan menghempaskannya ke lantai. Seketika ponsel itu pun pecah dan rusak total.
"Bu!!" jerit Rosalinda, dan disusul tamparan keras diwajah wanita itu.
"Kurang ajar! Berani sekali kamu berteriak pada saya," maki Maria semakin emosi. Bahkan telapak tangannya sampai terasa panas, karena begitu kerasnya dia menampar wajah menantunya itu.
Rosalinda sendiri sampai merasakan kebas di wajahnya, saking kuatnya tamparan itu.
Tubuhnya gemetar menahan emosi, dia tidak berdaya untuk melawan Maria, yang notabennya adalah mertuanya.
Rosalinda menangis dan berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Dia berusaha menghubungi Daniel, melalui telepon rumah, karena dia tahu Daniel tidak akan pulang ke rumah beberapa hari ini.
Namun dia harus kembali kecewa, karena telepon rumah telah diputus oleh Maria. Maria benar- benar membuat Rosalinda tidak bisa menghubungi siapapun.
Rosalinda akhirnya hanya bisa meratapi nasib kini, karena tidak memiliki penghasilan apa- apa. Bahkan disaat seperti ini, membantu adiknya sendiri, dia tidak bisa.
Mendengar tangisan Rosalinda, Maria merasa puas, dan berharap adik Rosalinda mati diranjang rumah sakit.