===== BAB 77: Empat Minggu Sebelum Akhir =====
Fajar bersalah, tetapi hidup Nara tidak lagi menunggu putusan untuk bergerak.
Nara pindah ke apartemen dua kamar dekat Rumah Kunci tepat empat minggu sebelum kontrak berakhir. Ia membayar uang muka dari penghasilannya dan mencatat tak ada aset Rafi dalam transaksi.
Sinta membantu membawa pakaian. Nisa memasang router dengan log keamanan. Rafi tidak datang karena mereka sepakat rumah baru harus menjadi ruang Nara sebelum menjadi tempat yang mungkin ia kunjungi.
Kunci cadangan dipegang Sinta. Program perlindungan memasang tombol darurat tanpa memberi Rafi kode masuk. Pemisahan alamat bukan celah keselamatan.
Malam pertama terasa terlalu sunyi. Nara terbiasa mendengar Rafi membuat kopi dan mengetuk pintu. Ia ingin menelepon, tetapi menunggu sampai pagi untuk membedakan rindu dari panik perubahan.
Rafi juga tinggal di rumah sewa sendiri. Ia menyusun perabot murah dan gagal memasang meja. Hana dari kantor memberinya nomor tukang, bukan datang membantu. Rafi belajar meminta bantuan tanpa memanggil staf lama.
Mereka menjadwalkan panggilan dua kali seminggu, maksimum satu jam. Aturan terdengar kaku, tetapi membantu keduanya tidak mengubah perpisahan menjadi pengawasan terus-menerus.
Panggilan pertama membahas makanan dan pekerjaan. Rafi ingin bertanya apakah Nara tidur nyenyak, lalu bertanya dengan terbuka. Nara menjawab sulit dan tidak meminta ia datang.
Mereka bertemu pada akhir minggu di kafe netral. Tidak ada cincin. Mereka membayar sendiri dan pulang ke arah berbeda. Rafi tidak mengikuti sampai kendaraan Nara pergi karena program keamanan sudah mengurusnya.
Nara menemukan dirinya dapat menjalani hari tanpa melapor. Ia bekerja terlambat sekali, lalu menyadari kebebasan bukan alasan mengabaikan kesehatan. Ia membuat jadwal makan yang tak bergantung pada pengingat Rafi.
Rafi menerima undangan makan dari rekan perempuan dan menjelaskan ia sedang menyelesaikan perkawinan kontrak. Pertemuan tetap berlangsung sebagai kelompok kantor, bukan karena ia perlu membuktikan kesetiaan pada Nara.
Satu tabloid memotret mereka pulang terpisah dan menulis rumah tangga runtuh setelah trust hilang. Nara tidak mengoreksi status emosional. Kresna hanya meminta alamat apartemen disamarkan karena foto memperlihatkan papan jalan.
Rumah Kunci memperoleh kontrak baru. Nara merayakan bersama tim tanpa mengundang Rafi. Ia kemudian menceritakan kabar pada panggilan terjadwal, dan Rafi mengucapkan selamat tanpa meminta peran.
Di akhir minggu kedua, Rafi mengalami mimpi buruk. Ia menelepon Laras, bukan otomatis Nara. Pagi berikutnya ia memberi tahu Nara karena ingin jujur, bukan meminta ia kembali merawatnya.
Nara merasa sedih tak dibutuhkan pada malam itu, lalu menyadari tidak dibutuhkan bukan berarti tidak dicintai. Hubungan yang dipilih harus mampu berdiri tanpa menjadikan pasangan satu-satunya penolong.
Pengadilan mengirim tanggal sidang pembubaran final. Mereka mengonfirmasi secara terpisah. Tak satu pun meminta penundaan.
Pada minggu pertama, mereka hampir melanggar jadwal ketika Rumah Kunci menerima ancaman anonim. Nara melapor kepada polisi dan dewan, bukan langsung Rafi. Ancaman ternyata keluhan kasar klien, bukan jaringan Bram, tetapi prosedur dijalankan penuh.
Nara memberi tahu Rafi setelah risiko dinilai. Ia mengakui ingin menelepon lebih cepat. Rafi mengatakan ia bersedia menjadi kontak pribadi bila Nara meminta, namun tak akan mengambil posisi program keamanan.
Rafi menghadapi masalah sendiri ketika wartawan menunggu di depan kantor. Lembaga memintanya memakai pintu samping demi privasi pemohon. Ia tidak menghubungi Nara sampai panggilan terjadwal, membuktikan ia juga memiliki sistem dukungan.
Apartemen Nara mengalami kebocoran. Ia menghubungi pengelola dan menunggu tukang. Kebiasaan meminta Rafi mengatur segala hal muncul sesaat, lalu lewat. Ia menyadari kemandirian terdiri dari telepon membosankan sebanyak keputusan besar.
Pada pertemuan kafe, mereka membahas apakah jarak terasa seperti hukuman. Keduanya menjawab kadang. Mereka mengingatkan masa terpisah tidak dibuat untuk menilai siapa lebih menderita, melainkan memberi data tentang hidup masing-masing.
Mereka mengakhiri pertemuan tepat waktu meski ingin tinggal. Menepati batas yang mereka pilih bersama terasa lebih kuat daripada memperpanjang karena takut kehilangan.
Sinta mengunjungi apartemen setelah dua hari dan membawa satu panci, bukan nasihat. Ia melihat Nara menyimpan cincin dalam laci dan tidak bertanya kapan akan dipakai lagi. Mereka memasang tirai sambil membahas pesanan toko.
Nisa datang berikutnya untuk makan malam tim, menegaskan rumah Nara dapat menampung hubungan selain Rafi. Pegawai pulang sebelum larut dan membersihkan bersama. Apartemen mulai memiliki jejak hidup yang bukan rumah aman.
Rafi mengundang rekan kantor ke rumah sewanya. Meja miring menjadi bahan lelucon. Ia menyadari rumah tak harus sempurna sebelum orang lain boleh masuk, pelajaran yang bertentangan dengan penthouse tempat segala sesuatu disiapkan staf.
Pada minggu kedua, mereka bertukar satu buku melalui kafe, bukan berkunjung ke rumah. Rafi menahan diri menulis catatan romantis pada sampul. Ia hanya menandai halaman peta yang pernah mereka perdebatkan.
Nara membalas dengan coretan koreksi di kertas terpisah. Kedekatan kecil itu tidak membatalkan ruang yang sedang diuji.
Kalender di dinding Nara menandai tanggal sidang, bukan hitung mundur agar Rafi membuktikan cinta. Ia sengaja mengisi ruang lain dengan jadwal kerja, kunjungan Sinta, olahraga, dan satu hari kosong.
Rafi melakukan hal sama. Masa terpisah bukan ruang tunggu; keduanya masih memiliki kehidupan yang layak dijalani penuh.
Tak ada siapa pun yang sedang diuji.
Empat minggu terpisah dimulai dengan rindu yang tak boleh menyamar sebagai kewajiban.