===== BAB 40: Rumah Ratih =====
Di bawah lantai rumah Ratih menunggu kotak yang disimpan tujuh belas tahun.
Rumah itu sederhana, bercat hijau pudar, dengan foto sebelas korban berjajar di ruang tamu. Ratih meminta semua petugas meninggalkan senjata di kendaraan kecuali satu polisi yang berjaga di luar. Kamera pengadilan dinyalakan sebelum papan lantai dibuka.
Nara duduk bersama tiga wakil keluarga. Ia tidak langsung meminta melihat kotak. Ratih lebih dahulu bercerita tentang kakaknya, Arman Anindita, teknisi hidraulik yang baru memiliki anak. Setelah kecelakaan, Bintang mengirim petugas hubungan masyarakat sebelum mengirim penjelasan teknis.
'Mereka tahu warna bunga yang harus dibawa, tetapi tidak tahu apa yang terjadi di udara,' kata Ratih.
Nara mendengarkan tanpa membela Dion. Ketika satu keluarga menyebut operator sebagai pembunuh, ia tidak menyela. Catatan teknis dapat dibahas nanti; kesedihan tidak harus menunggu sidang.
Ratih kemudian mengangkat papan di bawah lemari. Sebuah kotak baja kecil terpasang pada rangka rumah dengan rantai. Segel notaris masih utuh, tetapi sisi bawah memiliki goresan baru. Ahli forensik menilai seseorang pernah mencoba menyelipkan alat tanpa memutus segel.
Kamera luar menunjukkan gangguan rekaman tiga bulan lalu selama sembilan menit. Tetangga mengingat mobil layanan listrik, padahal perusahaan listrik tidak memiliki jadwal kunjungan. Bram mungkin sudah mengetahui lokasi tetapi belum berhasil mengambil kotak.
Tim memasang wadah pelindung di sekelilingnya tanpa membuka rantai. Ratih memegang kunci mekanis dan pengadilan memegang kode kedua. Pemindahan baru dilakukan setelah mandat keluarga ditetapkan.
Dalam surat pengantar yang tersimpan terpisah, Mahendra menulis syarat pembukaan: laporan perusahaan harus diakui tidak lengkap di depan publik dan keluarga diberi hak menunjuk pembaca data. Ratih mengatakan syarat itu belum terpenuhi.
Surya menawarkan konferensi pers segera, tetapi Ratih menolak pengakuan yang dibuat hanya untuk mendapatkan perangkat. Ia menuntut laporan sementara mencantumkan tindakan spesifik: pemalsuan jumlah penyintas, penghapusan perintah darat, pembayaran kepada petugas, serta penyembunyian identitas Rafi.
Nara menyampaikan tuntutan kepada kustodian tanpa mengubah satu kata. Tim hukum Bintang keberatan pada istilah pemalsuan sebelum putusan pidana. Kresna mengusulkan formula faktual: perusahaan mengakui catatan resminya bertentangan dengan bukti dan bahwa pejabatnya secara sadar menghapus data. Nama pelaku tetap menunggu pembuktian.
Ratih membawa draf itu ke keluarga. Mereka meminta tambahan bahwa dana santunan disertai klausul yang membatasi bicara, dan Bintang mencabut klausul tersebut tanpa syarat. Surya menyetujuinya setelah audit memastikan pencabutan tidak menghapus hak gugatan.
Rafi diminta hadir pada pertemuan kedua hanya sebagai penyintas dan mantan penerima manfaat trust. Ia duduk di kursi paling ujung. Ketika ditanya mengapa diam selama bertahun-tahun, ia menjelaskan ingatannya terfragmentasi dan keluarganya menyembunyikan identitasnya. Ratih memotong ketika jawabannya terdengar seperti pembelaan.
'Takut menjelaskan keterlambatanmu. Takut tidak membayar kerugian kami.'
'Saya mengerti,' jawab Rafi. 'Saya tidak meminta rasa takut itu dihitung sebagai ganti rugi.'
Pertemuan berakhir tanpa pengampunan, tetapi keluarga mengizinkan Rafi menyerahkan rekam medis kepada ahli pilihan mereka. Keterlibatannya dinilai sebagai sumber bukti, bukan pusat kisah.
Malam sebelum konferensi pers, Fajar mencoba menggugat kustodian agar pengakuan dihentikan karena merusak nilai saham. Hakim menolak permohonan darurat. Nilai saham tidak lebih tinggi daripada kewajiban mengoreksi informasi keselamatan.
Surya membacakan pengakuan di lobi kantor pusat tanpa logo kampanye. Di belakangnya tidak ada poster wajah korban. Sebelas kursi kosong disediakan atas permintaan keluarga, bukan sebagai dekorasi, melainkan tanda bahwa mereka boleh hadir atau tidak.
Nara menyaksikan dari rumah Ratih. Saat perusahaan mengakui penghapusan sadar, Ratih menutup mata. Tidak ada tepuk tangan. Pengakuan yang terlambat tidak berubah menjadi kemenangan hanya karena disiarkan langsung.
Setelah siaran, sembilan keluarga menyetujui pembukaan. Satu keluarga menyerahkan keputusan kepada fasilitator, sedangkan satu lagi masih menolak. Perjanjian awal mewajibkan suara bulat, sehingga kotak tetap tertutup.
Rafi bertanya kepada Nara apakah mereka bisa meminta pengadilan mengesampingkan satu penolakan. Nara mengatakan tidak. Bila perangkat dirancang sebagai perlindungan kolektif, mereka tidak boleh mengubah aturan saat perlindungan itu memperlambat mereka.
Ratih mengungkap keluarga yang menolak adalah keluarga Arman sendiri: putrinya, Lila, tidak ingin kematian ayahnya kembali dijadikan tontonan. Ratih tidak akan menekan keponakannya meski ia yakin isi kotak penting.
Nara meminta izin berbicara langsung dengan Lila tanpa kamera dan tanpa janji hasil. Lila bersedia bila Nara lebih dahulu mendatangi keluarga lain, mendengar kerugian mereka, dan menyusun hak kendali atas arsip setelah dibuka. Bukan hanya kunci, nasib data juga harus dimiliki bersama.
Syarat itu mengubah tugas mereka. Mereka tidak sedang mencari persetujuan sekali pakai, melainkan membangun tata kelola yang selama tujuh belas tahun tidak pernah diberikan.
Tim pulang tanpa membawa kotak. Beberapa penyidik merasa peluang menangkap Bram menyempit, tetapi jaksa mencatat lokasi kini mendapat pengamanan tanpa melanggar kustodi. Kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Nara memasang kembali cincin setelah keluar dari rumah, di depan Ratih. Ia menjelaskan bahwa melepasnya adalah penghormatan pada ruang, bukan penyamaran. Ratih tidak memberi persetujuan atau penolakan; ia hanya berkata tindakan berikutnya akan menentukan maknanya.
Rafi menunggu di tempat netral dan mendengarkan laporan tanpa meminta nama keluarga yang belum setuju. Ia menawarkan membantu menyusun arsip medisnya untuk kunjungan bila diminta, tetapi tidak akan ikut kecuali diundang.
Malam itu, sebelas alamat disusun dalam daftar yang hak aksesnya dibatasi. Setiap pintu memiliki sejarah berbeda, sehingga satu pidato permintaan maaf tidak akan cukup.
Sebelum kunci ketiga dibuka, sebelas pintu keluarga korban harus lebih dahulu mereka datangi.