===== BAB 22: Harga Sebuah Kesaksian =====
Adit meminta harga untuk kesaksiannya.
Jaksa menempatkan daftar permintaan itu di meja tanpa menjawab. Adit ingin dakwaan akses ilegal dicabut, perlindungan dari Merapi, biaya hidup selama perkara, dan kesempatan bekerja kembali di industri. Sebagai imbalan, ia berjanji menjelaskan akun KAPTEN-2 dan menghubungkan Nara dengan kode Dion.
'Kalau keteranganmu benar, mengapa kau masih menjual dua cerita yang saling bertentangan?' tanya jaksa Rukmini.
Adit berkata Nara mengajarinya kode lama saat mereka masih bertunangan. Ia mengaku baru mengetahui Keira memakai kode untuk membuat alarm setelah semuanya terlambat. Menurutnya, Nara ingin mempermalukan Bintang agar kasus Dion dibuka kembali.
Proffer direkam. Rukmini tidak memperlihatkan bukti bantahan sampai Adit selesai menyusun garis waktu sendiri. Ia menyebut pertemuan dengan Nara pada Selasa malam di apartemen. Log gedung menunjukkan Nara berada di hotel bersama Sinta, sedangkan kamera apartemen merekam Adit masuk bersama Keira.
Ketika perbedaan itu ditunjukkan, Adit mengubah hari menjadi Senin. Kalender Nara menunjukkan pemeriksaan regulator, disaksikan enam orang. Adit lalu mengatakan percakapan terjadi lewat telepon. Metadata ponselnya tidak memuat panggilan tersebut.
Nara menonton rekaman setelah sesi berakhir. Ia mengenali cara Adit mengecilkan kebohongan menjadi kesalahan ingatan. Dulu ia sering menerima penjelasan serupa tentang pesan yang dihapus atau malam kerja mendadak. Kini kebiasaan itu tidak menjadi dasar hukum; data waktu yang menjadi dasar.
Rukmini bertanya apakah Nara ingin menambahkan laporan hubungan pribadi. Nara menolak kecuali ada bagian yang berkaitan dengan akses sistem. 'Perselingkuhannya menjelaskan motif tertentu, tetapi bukan bukti sabotase. Jangan jadikan ruang sidang tempat mengadili tunangan buruk.'
Nisa menemukan draf kesaksian Adit pada backup awan. Dokumen dibuat oleh firma hukum yang dibayar perusahaan cangkang Fajar, dua jam setelah Adit keluar dari klinik. Kalimat tentang Nara dan kode Dion muncul persis dalam proffer, termasuk kesalahan istilah yang tidak pernah dipakai teknisi.
Riwayat revisi memperlihatkan Adit sendiri menambahkan satu paragraf. Ia menulis bahwa Nara marah setelah Bintang menolak membuka UX-217 dan pernah berkata perusahaan hanya belajar lewat krisis. Nara memang pernah mengucapkan kalimat serupa dalam seminar, tetapi konteksnya adalah latihan simulasi, bukan membuat bahaya nyata. Adit mengambil kebenaran kecil dan memindahkannya ke cerita palsu.
Jaksa memperoleh rekaman seminar serta daftar hadir. Adit tidak hadir, sedangkan Keira menonton rekamannya dari akun kantor. Bukti tersebut menunjukkan sumber kalimat, bukan otomatis siapa memasukkannya ke naskah. Ketelitian itu mencegah jaksa mengubah dugaan masuk akal menjadi kepastian yang belum ada.
Adit dihadapkan pada metadata tersebut dalam sesi kedua. Ia meminta jeda dan berbicara dengan pengacara. Setelah kembali, ia mengakui menerima naskah, tetapi berkata hanya menggunakannya agar mendapat perlindungan. Pengakuan itu menghancurkan nilai kesaksian awal dan membuka dugaan menghalangi penyidikan.
'Siapa yang memberimu token Bram?' tanya Rukmini.
Adit menjawab Keira. Ia melihat perempuan itu menerima perangkat dari kurir Merapi di ruang rapat. Keira memintanya memasang modul dan menjanjikan promosi setelah divisi audit dijual. Bram berkomunikasi lewat akun bernama Kapten Kedua, tanpa video.
'Kau pernah berkata tak pernah bertemu Kapten Kedua.'
'Karena saya memang tak tahu apakah akun itu Bram.'
'Tapi kau tahu Merapi terlibat?'
Adit terdiam. Diam itu tidak dicatat sebagai pengakuan, tetapi jaksa menyimpan pertanyaan untuk sidang.
Pemeriksaan ponselnya menemukan foto token KAPTEN-2 di atas meja Keira. Pantulan kaca menampilkan lengan jas Adit dan jam pada malam rapat. Foto itu membuktikan ia melihat perangkat sebelum insiden. Pesan sesudahnya berbunyi, 'Kalau alarm terlalu kecil, penjualan tidak bergerak.' Adit membalas dengan ikon persetujuan.
Jaksa menawarkan perlindungan fisik tanpa menjanjikan penghapusan dakwaan. Adit dapat memberi keterangan jujur dan memperoleh pertimbangan sesuai hukum, bukan harga yang ia tetapkan sendiri. Ia meminta waktu.
Perlindungan sementara menempatkannya di fasilitas yang tidak dikelola Bintang. Telepon dan kunjungan dicatat, tetapi ia tetap dapat berkomunikasi dengan pengacara. Pada malam pertama, seseorang mencoba mengirim makanan memakai nama Nara. Petugas menolak kiriman dan menemukan kartu memori di bawah wadah. Isinya ancaman agar Adit mempertahankan naskah Fajar.
Sidik pada kartu tidak cocok dengan Nara. Nomor pesanan dibuat dari jaringan firma hukum yang menyusun kesaksian. Adit melihat bukti itu dan akhirnya mengakui orang yang ia lindungi masih berusaha mengendalikannya. Ia belum memberi semua jawaban, namun syarat pemulihan jabatan hilang dari daftar tuntutan berikutnya.
Ketika dibawa kembali ke ruang tahanan sementara, Adit berpapasan dengan Nara di koridor. Ia berkata semua orang sedang memakai dirinya, termasuk Keira dan Rafi. Nara tidak berhenti. Cinta lama mereka tidak memberinya hak negosiasi pribadi di luar proses.
Rafi mengetahui pertemuan itu dari laporan keamanan, bukan dari Nara. Ia tidak menuntut cerita pribadi. Ketika Nara memilih menjelaskannya malam hari, Rafi hanya bertanya apakah Adit mencoba mengancam atau menghubungi di luar proses. Jawaban tidak membuatnya menantang Adit seperti pesaing cinta; ia menyerahkan keselamatan kepada petugas. Sikap tersebut membantu Nara melihat perbedaan antara kepedulian dan kepemilikan.
Malam itu sebuah amplop tanpa pengirim tiba di kantor Maya Santosa. Isinya bukan permintaan maaf Adit, melainkan salinan buku pembayaran Merapi dan surat tulisan tangan Keira.
Nomor resi menunjukkan amplop dikirim sebelum proffer kedua Adit selesai, sehingga Keira belum mungkin mengetahui seluruh perubahan keterangannya.
'Kalau kau ingin menemukan siapa yang membeli kebohongan, mulai dari baris ketujuh.'