===== BAB 2: Harga Sebuah Cinta =====
'Menikahlah denganku sebelum rapat Senin, dan aku akan membuka arsip peluncuran ayahmu.'
Kalimat itu tinggal di antara mereka bersama bunyi hujan pada atap mobil. Nara menutup map perlahan agar tangannya yang gemetar tidak terlihat.
'Anda baru saja menawarkan pernikahan kepada perempuan yang perusahaan Anda tuduh membahayakan server.'
'Saya menawarkan kontrak kepada satu-satunya orang yang punya alasan cukup kuat untuk tidak tunduk kepada keluarga saya.'
'Itu bukan pujian.'
'Memang bukan.'
Rafi menjelaskan perwalian yang ditinggalkan kakeknya. Dua puluh persen hak suara Bintang Holdings hanya dapat diaktifkan jika CEO telah menikah dan pasangannya menandatangani piagam pengawasan risiko. Tanpa itu sebelum rapat Senin, hak tersebut berpindah sementara kepada Fajar selama lima tahun. Pamannya akan menjual divisi audit dan hak pengelolaan dua rute strategis kepada Merapi Capital.
'Anda butuh stempel berupa istri.'
'Saya butuh orang yang memahami keselamatan dan tidak bisa dibeli Paman.'
'Lalu setelah Anda menang?'
'Lima belas bulan. Kamar dan harta terpisah. Tidak ada kewajiban pribadi. Kau memperoleh penasihat hukum sendiri, perlindungan bagi ibumu, serta akses ke arsip mentah yang selama ini disegel.'
Nara menahan reaksi saat ibunya disebut. 'Jangan bawa Ibu saya ke dalam urusan ini.'
'Ancaman kepada orang terdekat biasanya mengikuti rekayasa bukti. Saya tidak mengancam. Saya memperhitungkan.'
Mobil berhenti di depan apartemen Nara. Wartawan sudah berkumpul di trotoar. Di antara mereka berdiri Adit, wajahnya cemas, ponsel menempel di telinga. Ketika melihat mobil Rafi, kecemasannya berubah menjadi kemarahan.
'Saya belum menjawab,' kata Nara.
'Kau punya sampai besok pukul enam sore. Pengacaraku akan menunggu di Hotel Aeris.'
Rafi turun lebih dulu dan mengantar Nara melewati kerumunan. Adit mencoba mendekat, tetapi pengawal menahannya. Nara tidak menoleh sampai pintu lift tertutup.
Di lantai sembilan, ia mendapati pintu apartemennya terbuka. Tidak ada barang berharga yang hilang. Laptop masih di meja dan uang tunai tetap di laci. Namun semua dokumen tentang UX-217 berserakan, sementara kotak logam berisi salinan catatan ayahnya lenyap.
Telepon Nara bergetar. Ibunya, Sinta, menelepon dari toko jahit seragam di Bekasi.
'Ada dua lelaki datang menanyakan buku peluncuran ayahmu,' kata Sinta. 'Ibu bilang tidak tahu. Liv, apa yang terjadi? Wajahmu ada di berita.'
Nara memejamkan mata. Ia tidak ingin Sinta kembali hidup dalam tatapan tetangga seperti setelah kecelakaan. 'UX-408 mendarat aman. Ada yang memakai aksesku. Ibu kunci toko dan jangan pulang sendirian.'
'Kau juga jangan sendirian.'
Ketukan keras terdengar. Adit memanggil dari luar. Setelah memastikan rantai pengaman terpasang, Nara membuka pintu selebar telapak tangan.
'Kau masuk mobil Rafi untuk apa?' tuntutnya.
'Itu pertanyaanmu setelah apartemenku dibobol?'
Adit terdiam sepersekian detik terlalu lama. 'Aku baru tahu.'
'Siapa S?'
'Keira menghubungiku soal pekerjaan.'
'Dengan gambar hati?'
'Liv, kita sedang menghadapi masalah yang jauh lebih besar daripada kecemburuan.'
Ia mendorong pintu, tetapi rantai menahannya. Nara memandang lelaki yang rencananya akan ia nikahi empat bulan lagi. Adit mengetahui trauma masa kecilnya, menemani Sinta saat sakit, dan pernah berjanji membantu membuka arsip Dion. Kini ia menyebut pengkhianatan sebagai kecemburuan.
'Tunjukkan ponselmu.'
'Jangan kekanak-kanakan.'
'Tunjukkan.'
Adit menghapus sesuatu sebelum menyerahkan layar. Gerakan itu cukup. Nara menutup pintu di wajahnya.
Malam itu ia membawa ibunya ke hotel kecil milik teman Sinta. Dari sana, Nara menghubungi Nisa melalui nomor pribadi. Nisa sudah menyimpan salinan log sebelum akses mereka dibekukan.
'Ada anomali,' kata Nisa. 'Tanda tanganmu dimasukkan dari terminal perencanaan, bukan terminal keselamatan. Terminal itu di bawah unit Mas Adit.'
'Kirimkan salinan ke alamat baru. Jangan pakai surel kantor.'
'Ada lagi. Tiga menit setelah UX-408 melaporkan masalah, seseorang menyalin laporan awal ke penyimpanan luar.'
'Siapa?'
'Hak aksesnya milik direktur komersial.'
Keira.
Pagi berikutnya, berita menampilkan foto Nara dan Rafi keluar dari mobil yang sama. Judulnya menyebut hubungan rahasia di tengah skandal keselamatan. Adit mengirim dua puluh pesan, sebagian memohon, sebagian menuduh. Rafi hanya mengirim lokasi pengacara dan kalimat: BAWA SYARATMU SENDIRI.
Nara menghabiskan hari dengan membaca ketentuan perwalian yang diam-diam dikirim Rafi. Ada celah besar: pasangan CEO berhak meminta audit independen terhadap semua insiden yang memengaruhi reputasi keluarga. Hak itu mencakup UX-217 karena perusahaan teknologi masih menyimpan berkasnya.
Pukul lima lewat lima puluh, ia tiba di Hotel Aeris. Rafi menunggu bersama Kresna Adiputra, pengacara berusia empat puluh tahun yang langsung menawarkan daftar penasihat independen.
'Saya memilih pengacara sendiri,' ujar Nara.
'Itu hak Anda,' kata Kresna.
Nara menaruh kertas berisi sebelas syarat: akses data tanpa sensor, perlindungan untuk Sinta dan Nisa, larangan Rafi menutup temuan, persetujuan sebelum sentuhan publik, serta hak menyerahkan bukti kepada regulator meski merugikan Bintang Holdings.
Ia juga menuntut biaya pembelaan tidak boleh ditukar dengan kerahasiaan. Bila penyelidikan membuktikan kesalahan perusahaan, semua korban UX-408 harus menerima laporan tanpa sensor. Kresna mencatatnya, sementara Rafi bertanya apakah Nara siap kehilangan pekerjaan demi pasal itu. Nara menjawab bahwa pekerjaan tanpa integritas keselamatan bukan karier, melainkan seragam mahal untuk menutupi ketakutan.
Rafi membaca semuanya. 'Tambahkan satu dari saya. Kita tidak boleh berbohong mengenai UX-217 atau UX-408.'
'Termasuk kebohongan keluarga Anda?'
'Terutama itu.'
Pintu ruangan terbuka. Adit masuk tanpa izin, diikuti Keira yang tak sempat menarik tangannya dari lengan pria itu. Kini tidak ada lagi alasan rapat atau pesan pekerjaan. Wajah Adit pucat ketika melihat dokumen kontrak.
'Nara, jangan lakukan sesuatu yang akan kau sesali.'
Keira justru menatap Rafi. 'Kau serius menikahi tersangka demi mempertahankan kursi?'
Rafi menutup map. 'Keluar.'
Nara memandang tangan Adit dan Keira yang akhirnya terpisah. Sakitnya ada, tetapi lebih dingin daripada yang ia bayangkan. Pengkhianatan itu telah memberinya jawaban yang dibutuhkan.
Setelah keduanya pergi, Nisa mengirim hasil penelusuran lengkap. Nara membacanya dua kali, lalu menyodorkan ponsel kepada Rafi.
'Adit tidak hanya memalsukan aksesmu. Dia mengirim laporan keselamatan itu kepada Keira sebelum server mendarat.'