Prolog:
Pagi itu, seperti biasa, Aula Universitas Arkanis dipenuhi dengan mahasiswa yang sibuk berbincang. Suara tawa, obrolan tentang tugas, dan kadang-kadang desahan kelelahan terdengar di mana-mana. Namun, di balik keramaian itu, ada satu gadis yang seolah tidak pernah diperhatikan. Alana, mahasiswi tahun pertama dengan penampilan yang selalu berantakan—rambut acak-acakan, kacamata besar yang sepertinya lebih sering menempel pada wajahnya daripada digunakan dengan benar, dan pakaian yang bisa dibilang tidak masuk dalam kategori 'fashionable'.
Namun, semua itu tak membuatnya peduli. Baginya, dunia ini seperti sebuah panggung yang ia saksikan dari jauh. Tidak pernah terlibat, hanya menonton. Sebagian besar teman-teman sekelasnya lebih memilih untuk menertawakannya, atau jika tidak, mengabaikannya sepenuhnya.
Pada suatu hari yang seharusnya seperti hari-hari lainnya, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Saat Alana berjalan menuju kelas, langkahnya terhenti di depan grup mahasiswa yang tengah berkumpul. Mereka bukan hanya teman-temannya, tetapi juga pemimpin sosial di kampus. Selena, seorang gadis cantik dan populer, berdiri di tengah, dikelilingi teman-temannya. Mereka sedang tertawa, berbicara dengan nada merendahkan. Alana merasakan ketegangan yang biasa muncul setiap kali ia melewati mereka.
Namun hari ini, suasana itu terasa berbeda. Selena, dengan senyum yang mematikan, melangkah mendekat. "Wah, Alana, baru bangun tidur ya? Atau kamu baru saja keluar dari tong sampah?" sindirnya dengan nada tinggi yang membuat seluruh ruangan tertawa.
Alana terdiam, matanya menatap lantai. Ia tahu tak ada yang akan membelanya. Itulah hidupnya, tidak lebih dari objek tertawaan.
Tetapi, pada saat itulah suara keras datang dari ujung koridor. Langkah kaki yang berat, diikuti suara bisikan geram yang membuat seluruh aula terdiam. Semua orang menoleh, dan Alana melihat seorang pemuda dengan tatapan tajam berjalan menuju mereka. Reynard. Mahasiswa berandalan yang terkenal dengan kecepatan tangannya di dunia bawah kampus—dan tak jarang menjadi alasan beberapa orang tidur di rumah sakit.
Reynard berhenti tepat di depan Selena dan gengnya, matanya tak beranjak dari Alana yang masih berdiri terdiam. "Kalau kalian masih punya sedikit harga diri, berhenti membuat hidupnya lebih sulit. Karena kalau kalian tidak berhenti, kalian akan berhadapan dengan saya," katanya dengan suara serak namun penuh kekuatan.
Tidak ada yang berani berbicara setelah itu. Alana hanya bisa memandang Reynard, perasaan campur aduk menguasai dirinya. Di satu sisi, dia merasa terkejut dan sedikit takut. Di sisi lain, ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan—sebuah perasaan yang perlahan tumbuh dalam dirinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berdiri di sampingnya, bukan untuk mengejeknya, tetapi untuk melindunginya.
Itulah titik awal dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pertemuan antara gadis culun dan pemuda berandalan. Sebuah kisah tentang keberanian, pengkhianatan, dan, mungkin, sebuah cinta yang tak pernah ia duga akan datang.