Tidak ada yang mengejar melalui pintu. Tim menutup celah dengan penyangga dan memeriksa semua lokasi secara bersamaan. Cermin masih memuat Mbah Raras serta enam noda. Wadah X stabil. Jarum, kunci, kertas, lonceng kecil, dan kotak Karsa tetap tersegel.
Pantulan Ki tidak terlihat pada satu pun sensor.
Penjaga menjalani pemeriksaan keputusan. Tidak ada kehilangan waktu atau perubahan perilaku. Pasien panggung diperiksa; semua bayangan tubuh tetap ada. Ki tidak memakai manusia baru.
'Dia kembali ke sesuatu yang sudah punya jalur,' kata Reksa.
Di pemandian, tubuh jangkar masih dibius. Namun monitor menunjukkan dua pola otak. Pola pertama mengikuti rangsangan medis. Pola kedua muncul tepat saat pintu panggung terbuka.
Mata kiri tubuh tua terbuka.
Mata kanan menyusul.
'Tubuh dan bayangannya menyatu,' kata Mbah Raras melalui radio. 'Wira pulang kepada jangkar.'
Petugas tidak menyebutnya Ki atau Bagong di ruang bawah. Kode Jangkar A dipertahankan. Nama yang pulih menjadi bukti, bukan panggilan.
Tubuh itu menarik penahan kain. Setelah lonceng kecil diangkat, kekuatannya seharusnya berkurang. Namun pantulan memberi koordinasi yang tidak dimiliki denyut saja. Jari telunjuk kanan melengkung dan menunjuk pipa ketujuh.
Selang tersebut sudah disumbat. Enam lapisan pengakuan terpisah. Tidak ada jalur menuju Wadah atau jasad Owen.
Wira tersenyum. 'Kalian memutus jalanku, lalu mengembalikan namaku, guruku, dan bayanganku. Sekarang aku lebih utuh daripada sebelumnya.'
Meisin mendengar transkrip, bukan suara langsung. 'Utuh bukan berarti bebas.'
Peti jangkar masih berada di ruang yang dikuasai polisi. Tiga kunci dipegang lembaga berbeda. Mesin medis tidak terhubung jaringan. Pantulan Wira tidak dapat keluar selama tidak ada permukaan yang menerimanya.
Dokter menaikkan obat bius. Tubuh tetap sadar. Cangkok korban di dalamnya mulai mengikuti kehendak Wira, sehingga dosis biasa tidak bekerja sama pada seluruh jaringan.
Keluarga tiga korban diberi laporan dan diminta batas tindakan darurat. Mereka menyetujui penahanan fisik serta perawatan, tetapi tidak pengangkatan organ sebelum dokter kedua hadir.
Wira mencoba memakai suara korban untuk meminta peti dibuka. Petugas membandingkan pilihan terbaru keluarga dan tidak menanggapi suara.
Ardi merasakan perubahan meski berada jauh. Bekas operasi di dadanya menghitam, tetapi telunjuk tetap lurus. Dokter menemukan sisa kabel cangkok masih bereaksi pada denyut jangkar. Fadil dan Mira menunjukkan gejala serupa.
'Dia memanggil semua tubuh yang pernah dipakainya,' kata dokter.
Jalur biologis tidak sama dengan persetujuan. Mesin mandiri menstabilkan para korban dan memutus sinyal pada kabel asing tanpa mencabut jaringan.
Dina menjaga keputusan tentang Dimas. Lonceng kecil tetap diam dalam cairan bergerak. Ia tidak kembali menjadi alat Ki.
Di buku transaksi, angka tenggat turun menjadi dua hari.
Pemeriksaan menunjukkan angka mengikuti denyut tubuh jangkar, bukan matahari. Bila pompa melambat, hitungan bergerak cepat. Dokter menstabilkan irama agar Wira tidak memperpendek tenggat secara sepihak, tetapi mereka tidak memalsukan waktu menjadi lebih panjang.
Mbah Raras mengingatkan bahwa dua hari cukup untuk bertindak terukur. Ketakutan terhadap hitungan adalah alat agar semua pihak menyerahkan keputusan kepada satu pemimpin.
Mbah Raras menjelaskan bahwa penyatuan Wira bukan kegagalan mutlak. Selama terpecah, ia dapat berpindah tanpa tubuh. Kini seluruh pantulan utama berada pada jangkar yang sudah ditemukan dan dikelilingi bukti. Namun tubuh itu masih membawa bagian korban, nama curian, dan jalur menuju noda hitam Meisin.
Sensor panggung memastikan ruang belakang benar-benar kosong. Retak cermin juga tidak memuat bentuk Ki. Tiga hasil terpisah mendukung kesimpulan bahwa pantulan utama berada di tubuh jangkar, meski serpihan bayangan yang disegel dekat jarum masih diperlakukan sebagai ancaman berbeda.
Lokasi serpihan tetap dirahasiakan dan tidak dimasukkan dalam rencana operasi jangkar.
'Bagaimana memutusnya?' tanya Bu Rena.
'Kembalikan semua yang bukan dirinya tanpa menghapus siapa dirinya,' jawab Mbah. 'Setelah itu, biarkan tubuhnya menghadapi umur dan kematian sendiri.'
Rencana akhir disusun menjadi empat bagian. Pisahkan cangkok korban dari jangkar dengan mesin mandiri. Tutup jalur tubuh penerima Ardi, Fadil, Mira, dan lainnya. Pulihkan tiga ingatan Meisin tanpa membawa benda. Lalu catat Wira Gantana sebagai satu orang yang bertanggung jawab, bukan makhluk yang dapat bersembunyi dalam nama Bagong.
Setiap bagian mempunyai syarat berhenti. Operasi jangkar berhenti bila satu keluarga mencabut izin. Penutupan jalur tubuh berhenti bila saraf korban memburuk. Pemulihan ingatan berhenti bila Meisin meminta. Pencatatan Wira tidak boleh menghapus nama tubuh yang pernah dipakainya.
Penyidik menyiapkan jalur bila rencana gagal. Wadah dan cermin dapat dipertahankan terpisah, lonceng kecil memiliki tiga pompa, dan panggung dapat ditutup tanpa manusia di dalam. Tenggat bukan alasan membuang pengaman.
Bu Rena memilih mendampingi keluarga jaringan Wadah, bukan otomatis memimpin sebagai anak Mbah. Pak Leo memberi keterangan tentang foto serta utang dari lokasi aman. Peran mereka ditentukan tindakan sekarang.
Karsa tetap menjadi masalah. Bayangan pertamanya menyaksikan pergantian nama dan dapat memberi Wira jalan pecah lagi. Kotak tidak dibuka, tetapi harus dijauhkan dari semua tahap akhir.
Penyidik memindahkan penjaga kotak, bukan kotaknya. Lokasi tetap rahasia. Tiga segel utuh.
Owen meminta perannya dalam rencana. Meisin menjawab ia dapat memberi seluruh bukti pembayaran, akses tubuh, dan jaringan perusahaan, lalu tetap jauh dari jangkar.
'Aku nggak menjadi orang yang membunuh Ki untukmu?' tanyanya.
'Bukan. Kamu bertanggung jawab atas jalan yang kamu buka. Itu berbeda dari menjadi penyelamatku.'
'Aku mengerti.'
Reksa juga tidak meminta posisi di sisi Meisin. Ia memilih mengoordinasikan saksi korban karena mengenal pola keputusan yang dipakai sebagai pengunci.
Meisin menyiapkan kesaksiannya sendiri. Ia belum memaafkan Owen, belum memilih hubungan dengan Reksa, dan belum memulihkan semua ingatan. Tidak satu pun kekosongan itu memberi Wira hak masuk.
Pendamping menyalin kesaksian tanpa menyebutnya sebagai pengantin, cucu penjaga, atau pewaris kemampuan. Meisin dicatat sebagai manusia hidup yang menjadi sasaran pemaksaan. Definisi itu penting agar rencana akhir tidak kembali menjadikannya alat keluarga.
Ardi, Fadil, dan Mira juga menulis batas masing-masing. Mereka mengizinkan pemutusan kabel asing, tetapi tidak pengambilan jaringan sehat. Agus serta korban panggung memilih saksi berbeda. Tidak ada persetujuan massal.
Di pemandian, tubuh tua berhenti meronta. Senyumnya menghilang ketika enam mesin korban dinyalakan dari lokasi terpisah.
Lalu ia menekan telapak pada dinding peti.
Noda hitam di bahu Meisin menekan balik dari bawah kulit, membentuk telapak yang sama.
Jarak puluhan kilometer tidak memutus tanda itu.
Wira berkata melalui transkrip, 'Dua hari lagi, lonceng tidak perlu berbunyi di cermin. Tubuh cucu penjaga akan menjadi loncengnya.'
Jantung Meisin berhenti selama satu detik.
Lonceng kecil tetap diam. Pemukul lonceng ketujuh tidak menyentuh badan lonceng.
Namun dari dalam dada Meisin terdengar satu ketukan. (*)