===== BAB 87: Penerbangan Pertama =====
Raka mengundang Alena serta Dewi mengikuti penerbangan peringatan pertama di rute VX-217.
Dewi tidak langsung menerima. Ia membaca laporan audit unit, profil kru, rencana cuaca, dan jalur pembatalan. Alena duduk bersamanya tanpa mengatakan penerbangan akan menyembuhkan apa pun. Tiga hari kemudian, Dewi memilih ikut dan meminta kursi dekat lorong.
'Kalau saya ingin turun sebelum pintu ditutup, kita turun,' katanya.
'Tanpa pertanyaan,' jawab Alena.
Hari keberangkatan, keluarga korban memasuki terminal melalui jalur biasa yang ditutup dari media. Tidak ada karpet, musik, atau spanduk kemenangan. Di gerbang hanya ada papan dengan sebelas nama dan penjelasan audit yang dapat dipindai siapa pun.
Petugas trauma memberi pengarahan terpisah dari kru. Setiap penumpang boleh berhenti di gerbang, setelah duduk, atau sebelum pintu tertutup; biaya pulang serta penginapan tetap ditanggung tanpa harus menyebut alasan. Dua keluarga memilih menghadiri pelepasan saja. Seorang pria meminta rekaman penerbangan dikirim kepadanya karena ia belum sanggup naik. Nama mereka tetap tercantum sebagai keluarga yang diundang, bukan dicatat menolak pemulihan.
Dewi meminta melihat jalur keluar dari kabin sebelum naik. Petugas menemaninya sampai ambang pintu lalu mundur ketika ia ingin berbicara hanya dengan Alena. 'Saya takut tubuh saya memilih panik meski kepala saya sudah bilang iya,' katanya.
'Kalau itu terjadi, tubuh Ibu tidak gagal,' jawab Alena. 'Kita dengarkan.'
Mereka membuat tanda sederhana: dua ketukan berarti minta penjelasan, tiga berarti ingin turun. Keputusan itu dicatat petugas tanpa memasukkannya ke laporan media.
Alena memeriksa sertifikat sebagai penumpang, bukan auditor. Unit yang dipakai memiliki komponen baru dengan nomor lot terbuka. Dua tim independen telah menguji kontrol, dan data penerbangan akan dipublikasikan setelah informasi pribadi dibersihkan.
Kursi 2A dibiarkan kosong dengan satu kartu bertuliskan untuk pembocor yang dihapus dari manifest. Raka memilih kursi jauh di belakang agar Dewi tidak merasa diawasi. Alena duduk di sebelah ibunya dan menunjukkan lokasi pintu darurat hanya sekali.
Saat mesin mulai menyala, tangan Dewi mencari sandaran. Alena bertanya sebelum menggenggam. Ibunya mengangguk. Mereka bernapas mengikuti hitungan yang diajarkan konselor trauma, tanpa meminta kru menunda kecuali Dewi memberi tanda.
Unit bergerak, lalu terangkat. Wajah Dewi pucat ketika kota mengecil, tetapi ia tidak menutup mata. Rute mengikuti jalur VX-217 sampai titik memorial, kemudian berputar sesuai izin. Kru tidak melakukan manuver simbolis yang mengubah prosedur.
Alena merasakan sabuk menekan perutnya saat suara mesin berubah. Pengetahuannya menyebut perpindahan daya normal; ingatan tubuhnya menghadirkan grafik aktuator, tiga puluh tujuh detik suara, dan foto logam terbakar. Ia menempelkan telapak ke pahanya, menyebut lima benda yang dilihat, lalu memeriksa apakah Dewi membutuhkan dirinya. Menenangkan ibu tidak berarti ia harus meniadakan ketakutan sendiri.
Dari layar kabin, kapten menunjukkan data kontrol yang dipublikasikan dengan jeda. Dua indikator redundan bergerak selaras. Tidak ada narasi bahwa teknologi kini sempurna. Penjelasan justru menyebut ambang pembatalan dan siapa yang berwenang memutuskan. Transparansi terasa tidak dramatis, namun Alena tahu kebosanan prosedur adalah sesuatu yang pernah dicuri dari para korban.
Pada titik itu, kapten membacakan sebelas nama. Tidak ada nama Reno di antara korban, tetapi laporan menyebut tindakannya, kesalahannya, dan upaya terakhirnya pada materi memorial. Alena mendengar ayahnya ditempatkan dalam sejarah tanpa menjadi pusat semua kehilangan.
Raka tidak mendekati mereka selama penerbangan. Ia mengirim pesan melalui sistem kursi: bila ingin berbicara, aku di belakang. Alena membalas bahwa mereka baik dan akan menemui setelah mendarat.
Cuaca berubah ringan mendekati tujuan. Kru menjelaskan turbulensi sebelum memasuki awan. Dewi menggenggam lebih erat, kemudian melepaskan sendiri ketika guncangan berhenti. Pilihan kecil itu terasa lebih penting daripada pidato keberanian.
Pendaratan berlangsung biasa. Roda menyentuh landasan, rem bekerja, dan unit bergerak ke gerbang. Tidak ada tepuk tangan yang diatur. Beberapa keluarga menangis, beberapa tetap duduk, dan satu orang memilih keluar pertama tanpa mengikuti pertemuan.
Di hanggar tujuan, meja memorial menunggu tanpa kamera. Dewi menaruh bunga untuk Reno serta sebelas korban, lalu berkata ia tidak perlu terbang lagi. Alena menjawab satu kali sudah cukup karena itu pilihannya, bukan ujian yang harus diulang.
Keluarga berkumpul dalam lingkaran opsional. Mereka diminta tidak membandingkan siapa yang menangis atau siapa yang tampak tenang. Ratih mengatakan penerbangan aman hari itu tidak membuktikan masa lalu sudah selesai; itu hanya menunjukkan rekomendasi teknis dapat dijalankan. Seorang keluarga korban marah melihat kursi 2A dibiarkan kosong. Panitia mendengarkan dan mencatat bahwa simbol berikutnya harus disetujui lebih luas. Tidak ada yang menyebut kritik itu merusak acara.
Alena mengisi formulir umpan balik sebagai anak Reno dan penumpang, bukan direktur lembaga. Ia menulis bahwa akses data baik, jalur pembatalan jelas, tetapi pesan melalui sistem kursi dapat terasa seperti pengawasan bila tidak disetujui sebelumnya. Raka membaca catatan itu hanya setelah formulir masuk ke komite. Ia mengatakan kebiasaan lama masih muncul dan meminta protokol komunikasi diperbaiki.
Raka menemui mereka setelah Dewi pergi bersama Ratih. Ia menyerahkan amplop berisi salinan persetujuan cerai yang pernah ditandatangani. 'Masa depanmu tetap milikmu setelah penerbangan dan setelah putusan. Aku tidak ingin hari ini terasa seperti utang.'
Alena memastikan amplop itu salinan milik Raka, bukan dokumen yang disimpan Maya. Ia melihat tanda tangannya masih berlaku dan tidak ada syarat baru. Raka telah membawa jalan keluar pada hari yang bisa paling mudah dipakai untuk meminta ia tinggal.
'Tunggu di sini,' kata Alena. 'Saya perlu mengambil sesuatu dari loker lembaga bukti memorial.'
'Berapa lama pun.'
Ia tidak tahu jawaban Alena, dan Alena tidak memberinya petunjuk untuk menenangkan. Ia berjalan menuju koridor arsip dengan keputusan yang harus benar-benar datang dari dirinya sendiri.
Alena memintanya menunggu di hanggar saat ia mengambil cincin polos.