Jo mengusap pelan punggung tangan Erika dengan ibu jari. Gadis itu menatapnya, lalu menarik napas yang sedikit bergetar sebelum senyum kembali muncul.
"Aku di sini," ujarnya pelan, hanya cukup terdengar bagi lelaki di depan.
Jo mengangguk. "Aku tahu."
Mereka berbalik menuju tempat yang telah disiapkan. Cahaya pagi jatuh pada pakaian Erika, membuat warna yang dipilih terlihat lebih hangat daripada saat mencoba. Jo tidak lagi sibuk melihat seluruh ruangan. Dia mengikuti langkah gadis tersebut, memastikan mereka dapat berjalan dengan nyaman tanpa membuatnya merasa ditarik.
Bu Mei duduk setelah memberi senyum dari sisi. Aldin berada cukup dekat untuk membantu jika Ibu membutuhkan, seperti yang telah diminta Erika. Daddy berdiri pada bagian keluarga, sementara Ammar memeriksa satu hal terakhir lalu menyimpan ponsel.
Iccha, Lina, dan Kiki berada pada tempat yang sudah ditentukan. Ada suara percakapan kecil, kemudian ruangan perlahan tenang ketika acara utama dimulai.
Erika merasakan jantungnya bergerak lebih cepat. Dia telah menuliskan banyak adegan pernikahan untuk cerita, tetapi tidak satu pun membuatnya tahu persis bagaimana duduk pada pagi sendiri dengan tangan yang sedikit dingin.
Jo mendekatkan tangan, membiarkan gadis itu menggenggam sebelum bagian berikutnya. Tidak ada kata panjang yang harus diucapkan agar gugup terlihat kurang penting.
Sesaat sebelum dimulai, Erika mendengar bunyi kecil dari pakaian ketika mengubah posisi. Hal yang begitu biasa justru membuat pagi terasa lebih nyata daripada seluruh gambaran yang semalam datang di kepala. Dia dapat merasakan kursi, udara yang masuk, dan telapak Jo yang hangat di dekat tangan.
Gadis tersebut melihat Ibu, menemukan perempuan itu sedang memberi senyum sambil menahan mata yang basah. Aldin menyerahkan tisu tanpa membuat gerakan besar. Bu Mei menerima, lalu kembali memandang putri.
Erika mengangguk kecil. Ada banyak yang tidak perlu dikatakan dari jarak itu. Ibu telah mendengar pilihannya, datang mendampingi, dan tetap membiarkan jawaban pagi tersebut diberikan sendiri.
Jo mengikuti arah pandang istrinya yang sebentar lagi akan sah disebut begitu. Dia melihat Daddy berdiri lebih tenang daripada saat merapikan pakaian. Ammar menoleh, memberi isyarat sederhana bahwa yang diperlukan telah siap.
Lelaki tersebut menarik napas. Selama bertahun-tahun dia mengenal cara berdiri di depan banyak orang, memberi keputusan, dan memastikan suara terdengar mantap. Pagi itu ketenangan datang dari hal lain: Erika duduk pada jarak yang memungkinkan tangan bertemu, dan ketika menatap, gadis itu membalas dengan senyum yang dikenali.
"Tanganku dingin?" bisiknya.
"Sedikit," jawab Erika. "Tanganku juga."
Jo tertawa pelan, mengubah genggaman agar lebih nyaman. Kegugupan mereka mempunyai tempat yang sama, tidak perlu disembunyikan salah satu supaya yang lain dapat merasa kuat.
Gadis itu merasakan ujung pakaiannya, memastikan tidak tersangkut sebelum bagian berikutnya. Jo membantu sedikit setelah melihat arah yang dimaksud, lalu kembali menunggu. Ada perhatian yang terjadi tanpa seluruh orang harus mengetahui.
Di sisi keluarga, Lina memegang halaman kecil yang akan disimpan setelah acara. Kiki menatapnya, menunjuk satu sudut yang terlipat, kemudian berhenti ketika adik mengatakan akan dirapikan nanti. Mereka duduk berdampingan, cukup dekat untuk berbagi tisu ketika perlu.
Iccha tersenyum kepada Ammar dari tempatnya. Lelaki itu membalas singkat, lalu kembali pada adik. Hari tersebut tetap milik Jo dan Erika, tetapi kehangatan yang terlihat di sekeliling membuat ruangan terasa dihuni oleh orang yang sungguh-sungguh datang, bukan hanya nama pada daftar.
Ketika perhatian kembali ke depan, Erika mengangkat wajah. Dia tidak mencoba mengingat kalimat sebagai sesuatu yang harus dibaca dengan sempurna. Yang akan dijawab sudah menjadi pilihannya melalui banyak hari, termasuk percakapan yang sulit serta pagi biasa di kamar baru.
Jo melihatnya, membiarkan tangan mereka tetap dekat sampai waktunya tiba. Suara yang memandu acara terdengar jelas, dan keduanya mendengarkan dengan kesungguhan yang sama.
Rangkaian pernikahan dijalani dengan tenang. Pertanyaan yang perlu dijawab diberikan, kesediaan dinyatakan dengan suara yang cukup jelas, dan janji diucapkan di hadapan keluarga. Jo tidak mencari kalimat yang pernah ditulis untuk hubungan lama. Dia memandang Erika, menyebut pilihannya sendiri untuk hidup bersama perempuan tersebut.
Gadis itu menjawab dengan suara yang semula bergetar, lalu menjadi lebih mantap. Dia tidak sedang membacakan sesuatu milik tokoh. Nama yang disebut adalah namanya, keputusan yang diberikan adalah keinginannya.
Ketika cincin dipasang, Jo berhenti sebentar agar posisi nyaman. Erika menatap tangan mereka, lalu membantu pada bagiannya dengan senyum yang tidak dapat ditahan. Ada tawa kecil dari keluarga ketika ujung jarinya terlalu gugup, tetapi tidak ada yang membuatnya malu.
Pernyataan serta penandatanganan yang menjadi bagian upacara diselesaikan. Mereka memeriksa yang perlu, memberikan tanda pada tempat yang ditunjuk, kemudian kembali duduk berdekatan.
Setelah keduanya dinyatakan sebagai suami dan istri, Erika menahan napas sejenak. Kata-kata itu terdengar begitu nyata sampai dia harus menoleh untuk melihat Jo kembali.
Lelaki tersebut sudah memandangnya.
"Halo, istriku," ujarnya pelan.
Erika tertawa dengan mata basah. "Mas jangan membuatku menangis lagi."
"Aku belum melakukan apa-apa."
"Sudah bicara."
Jo ikut tertawa. Dia meraih tangan, mengangkat sebentar, lalu mencium punggungnya dengan lembut. Ruangan terdengar lebih ramai ketika keluarga memberi ucapan, tetapi beberapa detik tersebut terasa tetap milik mereka.
Sebelum keluarga mendekat, Jo memandang cincin pada tangan Erika. Gadis tersebut masih tersenyum melalui mata yang basah, lalu mengangkat tangan sedikit ketika menyadari arah pandang suami.
"Sudah terpasang benar, Mas."
"Aku tahu."
Lelaki itu tertawa pelan, menahan telapak pada tangannya sendiri. Erika merasakan bahunya mulai turun dari ketegangan yang sejak pagi terbawa. Suara ruangan kembali terdengar lebih jelas, termasuk napas Ibu yang hampir menjadi tangis di sisi keluarga.
Jo bergeser agar gadis tersebut dapat berdiri dengan nyaman. Mereka tidak perlu berjalan terlalu cepat menuju ucapan semua orang. Beberapa detik cukup untuk memandang sekali lagi, memastikan hari yang baru saja dijalani tidak lewat hanya sebagai rangkaian yang harus diselesaikan.
Erika tersenyum, kemudian menoleh kepada Ibu yang sudah bangkit mendekat.
Bu Mei datang lebih dahulu. Perempuan itu memeluk putri dengan hati-hati, lalu melepaskan untuk menatap wajah yang telah banyak berubah sejak berangkat bekerja ke Jakarta.
"Selamat, Nak."
Erika membalas pelukan, air matanya akhirnya keluar. Rindu Ayah hadir bersamaan, tidak menutup kebahagiaan tetapi memberi bagian yang tidak dapat dilihat semua orang.
Jo menunggu, lalu menerima ketika Ibu menggenggam tangannya juga. Perempuan tersebut tidak mengucapkan pesan panjang di depan tamu. Dia hanya mengatakan agar keduanya menjaga kabar dan tetap datang pulang.
Lelaki itu mengangguk. "Kami akan datang, Bu."
Daddy memeluk anak, kemudian memberi salam kepada Erika dengan wajah yang hangat. Dia memanggil gadis itu dengan nama, bukan sebutan yang membuat pekerjaan serta dirinya sendiri hilang di bawah status baru.
Ammar mendekat setelah memastikan semua yang perlu sudah beres. Dia menepuk bahu Jo, mengucapkan selamat, lalu membiarkan Iccha memeluk pengantin perempuan tanpa menggoda sampai air mata berubah menjadi malu.
Lina menyerahkan tisu ketika diperlukan. Kiki ikut mengucapkan selamat, lalu mengingatkan mereka segera minum sebelum terlalu banyak orang mengajak bicara. Erika tertawa, berterima kasih atas perhatian yang tetap datang dengan cara terus terang.
Aldin menunggu sampai tidak ada orang lain berada terlalu dekat. Dia memberi selamat kepada adik, kemudian menatap Jo dengan suara yang singkat.
"Selamat. Terima kasih sudah memberi tempat untukku hadir."
Jo mengangguk. "Terima kasih sudah datang sesuai yang dibicarakan."
Tidak ada pelukan persahabatan yang diminta tamu. Aldin menerima, kembali membantu Ibu setelah gadis tersebut menyentuh lengannya sebentar. Kehadiran itu cukup sebagai kakak, dengan hal-hal lain yang tidak harus diselesaikan pada hari adik menikah.
Sebelum menyapa lebih banyak orang, Jo dan Erika memperoleh jeda yang telah disediakan. Mereka duduk bersama Bu Mei serta Daddy pada ruang yang lebih tenang. Ada minum, sedikit makanan, dan kesempatan menarik napas tanpa mendengar nama dipanggil dari segala arah.
Erika melepaskan bahu dari posisi yang sejak pagi terlalu tegak. Jo melihat, bertanya apakah pakaian masih nyaman. Gadis itu mengangguk, lalu menatapnya dengan senyum kecil.
"Aku tadi lupa melihat sebagian orang."
"Aku juga."
"Mas melihat siapa?"
Jo memandang wajahnya, membuat Erika menunduk dengan pipi yang kembali hangat. Daddy tersenyum dari sisi, sementara Ibu menggeleng pelan sambil mengambil gelas.
Mereka makan secukupnya. Tidak ada yang memaksa pengantin terus berbicara. Ketika Erika terdiam dan memandang foto kecil Ayah yang disimpan bersama barang pribadinya, Jo membiarkan beberapa saat, lalu menerima tangannya ketika gadis itu kembali mendekat.
"Aku ingin Ayah melihat," ujarnya.
Lelaki tersebut mengangguk. "Aku tahu."
Dia tidak menambahkan kalimat yang mencoba menjelaskan di mana orang yang telah pergi berada. Kehadirannya cukup tetap di samping, memberi tempat bagi rindu pada hari yang juga penuh bahagia.
Jamuan sesudahnya lebih ramai. Rekan kerja, kerabat, dan orang-orang yang memang ingin diberi kabar datang sesuai undangan. Jo serta Erika berdiri bersama, menyapa tanpa membuat gadis tersebut harus menjawab pertanyaan mengenai perusahaan yang tidak dikenalnya.
Arya datang, memberi ucapan selamat dengan sikap yang wajar. Dia menanyakan kabar cerita baru setelah mendengar karya sebelumnya telah selesai. Erika menjawab singkat, tersenyum karena dirinya masih dikenali melalui tulisan pada hari ketika banyak orang memanggilnya istri Jo.
Lelaki di samping ikut mendengar, lalu mengatakan dirinya juga masih menunggu bab baru. Arya tertawa, mengucapkan selamat sekali lagi, dan memberi ruang bagi tamu berikutnya.
Ada kerabat yang menyebut Anggrek setelah melihat nama penulis pada satu percakapan. Erika menerima dengan senyum, menjelaskan bahwa itulah nama yang dipakai untuk karya. Tidak perlu menuliskan kisah pernikahan saat itu juga agar orang menganggap pekerjaannya sungguh-sungguh.
Jo memperhatikan cara gadis tersebut menjawab. Pakaian pengantin membuatnya tampak berbeda, tetapi suaranya tetap milik perempuan yang pernah berani menghentikan wawancara ketika jawaban belum jelas.
Pada satu bagian, Erika perlu beristirahat dan merapikan pakaian. Dia memberi tahu Jo sebelum pergi bersama Iccha, bukan karena merasa harus melaporkan setiap langkah, melainkan karena keduanya sedang menjalani acara bersama.
Lelaki itu mengangguk, membiarkan tangan terlepas. Dia tetap berdiri, menyapa yang datang, dan tidak mengubah beberapa menit tersebut menjadi usaha menebak seluruh kemungkinan buruk.
Ammar berada dekat, membantu ketika diperlukan. Jo mengambil minum, mendengar pertanyaan tamu, dan menjawab sesuatu mengenai pekerjaan yang memang boleh dibicarakan. Waktu berjalan tanpa harus terus melihat pintu.
Erika kembali dengan senyum yang sedikit lebih lelah. Jo bergeser memberi tempat, menerima tangan ketika gadis tersebut meraih, lalu menanyakan apakah ingin duduk sebentar.
"Sebentar lagi," jawabnya. "Aku ingin menyapa yang itu dahulu."
Jo mengiyakan. Perempuan tersebut ada karena ingin melanjutkan hari bersamanya, bukan karena semua jalan telah ditutup agar dia tidak dapat pergi.
Foto keluarga dilakukan dengan lebih banyak tawa daripada yang direncanakan. Kiki mengeluh satu orang belum melihat arah yang benar. Lina tertawa, membuat foto berikutnya justru menangkap wajah yang lebih ringan. Bu Mei berdiri dekat putri, Daddy berada di sisi anak, dan Aldin mengikuti tempat yang diminta tanpa mencoba berada di tengah.
Sesudah selesai, beberapa tamu berpamitan. Suara ruangan perlahan berkurang, memungkinkan Jo serta Erika duduk lebih lama. Gadis itu melepaskan napas dengan mata yang tetap hangat.
"Aku sudah menjadi istri Mas," ujarnya, seperti baru sempat mendengar kalimat itu sendiri.
Jo tersenyum. "Iya."
"Sekarang aku boleh mengeluh kakiku pegal?"
"Sejak tadi juga boleh."
Erika tertawa. Lelaki tersebut membantu menyiapkan yang diperlukan agar dia lebih nyaman, lalu duduk pada jarak yang membuat tangan mereka tetap dapat bertemu.
Keluarga memastikan barang penting tersimpan. Iccha memeriksa bersama Erika, tidak membawa semua keputusan pergi tanpa diberi tahu. Ammar membantu Jo menutup urusan acara, sementara Daddy berbicara singkat dengan yang memang perlu menerima kabar terakhir.
Tidak ada buku hadiah yang harus dicari pada ruangan kosong. Tidak ada telepon yang memanggil seseorang untuk menjawab keputusan orang lain. Hari itu selesai dengan tubuh lelah, pakaian yang perlu dirapikan, dan dua orang yang tetap memilih duduk bersama setelah tamu pulang.
Menjelang berangkat, Erika memeluk Ibu sekali lagi. Bu Mei akan beristirahat di tempat menginap, bukan langsung melakukan perjalanan jauh. Mereka telah membicarakan kunjungan ke rumah baru pada hari yang memberi waktu cukup.
"Kabari kalau sudah tiba," kata perempuan itu.
Gadis tersebut mengangguk, tersenyum melalui mata yang kembali basah. Jo memberi salam, menerima genggaman Daddy, lalu berpamitan kepada yang masih ada.
Di kendaraan, untuk beberapa menit mereka hanya diam. Erika menyandarkan kepala, memandang cincin pernikahan yang kini berada pada tangan. Jo melihat setelah gadis itu mengangkat untuk memperlihatkan, lalu tersenyum begitu lembut sampai dia tertawa malu.
"Mas dari tadi senyum terus."
"Aku sedang mencoba mengingat cukup banyak dari hari ini."
"Jangan semuanya. Nanti yang lucu jadi bahan menggoda."
"Aku sudah punya beberapa."
Erika tertawa, meraih tangannya. Mereka meneruskan perjalanan menuju rumah yang telah dipilih bersama. Di depan, masih ada malam pertama, pagi biasa, pekerjaan, dan kehidupan yang tidak selesai hanya karena satu upacara telah dijalani.
Namun, ketika kendaraan berhenti dan Jo membuka pintu, gadis tersebut turun dengan tangan yang kembali berada pada genggamannya. Mereka berjalan menuju rumah, dan untuk pertama kalinya Jo memanggilnya pulang sebagai istrinya.