Jakarta, pukul 08.30 pagi.
Langit mendung seperti suasana hati Ayana sejak semalam. Hujan tipis menyapu kaca jendela bus yang ia tumpangi. Suara klakson kendaraan bersahutan, dan jalanan ibukota sudah macet seperti biasa.
Di tangannya, ia menggenggam undangan wawancara kerja di salah satu perusahaan kreatif paling bergengsi di Asia Tenggara: AZRA Group. Sebuah nama besar yang dibangun oleh CEO muda dan kontroversial, Keenan Arzandra.
Ayana menatap namanya di surat panggilan itu. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena gugup, tapi karena hati kecilnya masih belum yakin: Haruskah dia bekerja di perusahaan milik pria yang mungkin... memiliki kaitan dengan masa lalu kelam keluarganya?
“Ma, aku hanya ingin hidup lebih baik...” bisiknya lirih, nyaris tidak terdengar oleh siapa pun.
Bus berhenti. Ia turun, menyusuri trotoar menuju gedung kaca yang menjulang megah: AZRA Tower.
Begitu tiba di lobi, hawa dingin dari AC sentral langsung menyambutnya, seakan menyampaikan pesan dingin dari sang pemilik perusahaan.
Ayana menatap ke sekeliling dengan kagum. Interior gedung AZRA Tower sangat megah. Marmer putih mengilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang bergemerlap di langit-langit. Resepsionis di balik meja depan menyapanya dengan senyum profesional.
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis itu.
Ayana tersenyum kaku. “Saya Ayana Putri. Saya dipanggil untuk wawancara jam sembilan.”
Resepsionis itu mengetik cepat, lalu mengangguk. “Silakan ke lantai 25, Mbak Ayana. Ruang rapat Azura 3. Gunakan lift sebelah kanan.”
“Terima kasih.” Ayana membungkuk sopan, lalu melangkah menuju lift.
Hatinya berdebar tak karuan. Ini bukan wawancara kerja biasa. Ini adalah pertemuan dengan sosok yang selama ini hanya ia kenal lewat media: Keenan Arzandra, pria termuda dalam daftar Forbes 30 Under 30, CEO yang membangun kerajaan bisnis teknologi dan properti hanya dalam lima tahun, dan... pria yang punya kaitan rahasia dengan ayah kandungnya yang menghilang sepuluh tahun lalu.
Lift bergerak cepat ke atas. Saat pintu terbuka, Ayana disambut oleh lorong elegan dengan karpet tebal dan jendela kaca besar yang menyajikan pemandangan kota Jakarta. Di ujung lorong, sebuah pintu hitam bertuliskan "Azura 3" terbuka sedikit.
Ayana mengetuk. “Permisi.”
Seorang wanita paruh baya menyambutnya. “Ah, Ayana Putri. Silakan masuk. Bapak CEO akan segera datang.”
Ayana mengangguk, duduk di kursi yang tersedia. Matanya berkeliling. Ruangan itu bergaya minimalis—meja kaca panjang, kursi kulit hitam, dan rak buku berisi berbagai jurnal bisnis dan desain. Tapi yang menarik perhatian Ayana adalah lukisan besar di dinding belakang: siluet seorang wanita yang berdiri di tengah hujan, memandang langit yang kelabu.
Seolah menggambarkan isi hatinya saat ini.
Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi. Suara langkah sepatu kulit terdengar berat dan mantap.
“Ayana Putri?”
Ayana berdiri. Nafasnya tercekat. Sosok yang masuk adalah pria dalam balutan jas Armani abu-abu gelap, dasi hitam polos, dan wajah setampan foto-fotonya di majalah bisnis—Keenan Arzandra. Namun, secara langsung, pria itu jauh lebih menekan. Tatapannya tajam, rahangnya tegas, dan aura dominan memancar dari tubuhnya yang tinggi dan atletis.
“Silakan duduk,” ucapnya datar.
Ayana menurut. Tangannya meremas rok kerja hitam yang dikenakannya. Ia tak tahu apakah pria itu menyadari sesuatu dari dirinya—nama belakang yang sama seperti mendiang ayahnya: Putra.
“Ceritakan tentang dirimu. Kenapa kamu melamar ke AZRA Group?”
Ayana menelan ludah. “Saya lulusan DKV Universitas Indonesia. Selama dua tahun terakhir saya bekerja sebagai desainer lepas, terutama branding dan visual identity. Ketika saya melihat lowongan untuk bagian desain kreatif di sini, saya... merasa inilah tantangan yang saya butuhkan.”
Keenan tidak berkedip. “CV-mu kuat. Tapi ada ratusan yang lebih kuat dari kamu.”
Ayana mengangkat dagu sedikit. “Saya mungkin bukan yang terbaik, tapi saya bisa menjadi yang paling berdedikasi.”
Keenan menyipitkan mata. Sekilas, wajah Ayana mengingatkannya pada seseorang... Tapi ia tak ingin terganggu.
“Jika kamu diterima, kamu akan bekerja langsung di bawah saya,” ucap Keenan, nada suaranya seperti perintah. “Bukan sebagai staf desain, tapi sebagai asisten pribadi untuk proyek branding properti di Bali.”
Ayana membelalak. “Asisten pribadi?”
“Ya. Proyek ini sensitif. Saya butuh seseorang yang bisa diawasi, dipercaya, dan tidak banyak bicara.”
Ayana mengatupkan bibir. Tawaran itu… tak ia duga. Tapi di balik tawaran itu, pikirannya langsung curiga: Apakah Keenan tahu siapa dirinya?
“Kenapa saya?” tanyanya, berani.
Keenan menatapnya, tatapan penuh makna. “Karena kamu berbeda.”
Dan dengan itu, ia bangkit dari kursi. “Datanglah besok jam tujuh pagi. Kita mulai langsung dengan penerbangan ke Bali.”
Ayana masih terpaku. “Tapi saya belum…”
Keenan menoleh. “Saya tidak menawarkan pilihan, Ayana Putri. Ini perintah.”
Lalu pintu tertutup. Ayana duduk sendiri di ruang itu, detak jantungnya menggila. Di luar, hujan mulai turun. Sama seperti hari saat ayahnya menghilang sepuluh tahun lalu.
Dan saat itulah ia sadar—kehidupan lamanya telah berakhir.
Kini, ia masuk ke dunia Keenan Arzandra. Dunia yang penuh misteri, kekuasaan... dan mungkin, cinta yang berbalut dendam.
Ayana keluar dari gedung AZRA Tower dengan langkah pelan. Langit Jakarta masih mendung, hujan tipis membasahi bahu jas kerjanya yang dipinjam dari sepupunya. Sepatu pantofelnya menyerap genangan, membuat kaki dingin dan lembap. Tapi pikirannya tak teralihkan dari satu nama—Keenan Arzandra.
Ia berjalan menuju halte, namun matanya kosong. Tawaran sebagai asisten pribadi? Itu di luar dugaan. Tapi lebih dari itu, sikap Keenan... terasa seperti dia tahu siapa dirinya.
Apakah ia menyadari bahwa Ayana Putri adalah anak dari Dimas Putra, arsitek jenius yang menghilang secara misterius setelah bekerja untuk perusahaan konstruksi besar yang kini... diakuisisi oleh AZRA Group?
Masa lalu mulai mengetuk pintu.
---
Pukul 05.30 pagi, keesokan harinya.
Ayana terbangun dengan mata sembab. Malam itu, ia tidak bisa tidur. Antara ragu, takut, dan rasa penasaran yang tak kunjung padam. Ia duduk di ranjang, memandangi ponselnya.
Satu pesan dari Keenan:
📩 “Datang jam 07.00. Terminal pribadi Bandara Halim. Jangan terlambat.”
Pesan itu singkat, padat, dan... tidak memberi ruang untuk menolak.
---
Terminal VIP Bandara Halim Perdanakusuma.
Ayana berdiri dengan gugup di depan ruang tunggu. Di sekelilingnya, hanya ada eksekutif dan staf pribadi berseragam. Ia merasa seperti orang asing.
“Miss Ayana?” suara pria menghentikannya. Seorang pria berbaju jas hitam dengan earpiece berdiri di hadapannya.
“Iya?”
“Silakan ikut saya. Bapak Keenan sudah menunggu di dalam pesawat.”
Ayana melangkah, menahan degup jantungnya. Ketika ia menaiki jet pribadi itu, ia melihat interior mewah—kursi kulit krem, meja kayu mahoni, dan bar kecil di sudut.
Keenan duduk dengan rapi sambil membaca tablet. Tanpa menoleh, ia berkata, “Duduklah.”
Ayana menuruti, menempati kursi di seberangnya.
“Ini bukan liburan,” kata Keenan tanpa basa-basi. “Kamu akan menjadi penghubung antara saya dan tim desain lokal di Bali. Apa pun yang mereka butuhkan, kamu urus. Dan kamu akan tinggal di villa yang sama denganku. Mengerti?”
Ayana kaget. “Maaf, satu villa?”
Keenan akhirnya menoleh, menatapnya. “Villa itu memiliki empat kamar. Dan saya tidak tertarik padamu, jika itu yang kamu khawatirkan.”
Ayana tersipu, malu dan marah bersamaan. “Bukan itu maksud saya.”
“Bagus. Karena saya tidak suka drama. Hanya hasil.”
Ayana mengangguk. Tapi jauh di dalam hati, ia sadar—ada sesuatu yang tidak biasa dari semua ini. CEO sekelas Keenan tidak akan memilih seorang asisten acak... kecuali ada alasan yang lebih dalam.
---
Villa Ayana, Uluwatu, Bali.
Mereka tiba di lokasi menjelang sore. Villa itu menghadap langsung ke laut. Arsitekturnya modern minimalis, dengan dinding kaca dan balkon luas. Interiornya hangat dan bersih. Tapi Ayana merasa asing.
Saat ia masuk ke kamarnya, ia terdiam. Di atas meja kecil, tergeletak sebuah lukisan tua.
Ayana mengenali gaya sapuan kuas itu. Itu karya ayahnya. Lukisan itu... seharusnya hilang sejak sepuluh tahun lalu.
Tangannya gemetar saat menyentuh kanvasnya. Ada inisial kecil di pojok kanan bawah: D.P.
“Bagaimana bisa... lukisan ini ada di sini?” gumamnya.
Seketika itu pula, pintu terbuka.
Keenan berdiri di ambang pintu, kedua tangannya disilangkan di d**a.
“Jadi kau mengenal lukisan itu,” katanya pelan.
Ayana menoleh cepat. Wajahnya pucat.
“Itu... karya ayahku,” jawabnya lirih.
Keenan melangkah masuk, menatap lukisan itu sebentar, lalu menatap Ayana dalam-dalam.
“Sudah kuduga,” ucapnya tenang. “Jadi benar kamu putri Dimas Putra.”
Ayana menarik napas tajam. Tidak ada gunanya menyembunyikan lagi.
“Iya,” jawabnya. “Tapi... kenapa kamu tahu?”
Keenan menyandarkan diri di dinding. Tatapannya berubah, dingin, penuh kemarahan yang tersembunyi.
“Ayahmu adalah orang terakhir yang berinteraksi dengan ayahku sebelum dia... bunuh diri.”
Ayana membelalak. “Apa maksudmu?! Ayahku... tidak mungkin...”
“Dia mengkhianati kepercayaan ayahku. Merancang bangunan yang ambruk karena penggelapan material. Proyek itu menelan korban. Termasuk ayahku.”
Ayana terhuyung mundur. “Tidak... Ayahku bukan seperti itu. Dia orang jujur. Dia mencintai pekerjaannya.”
Keenan mengepal tangan. “Bukti menunjukkan sebaliknya. Dan setelah kejadian itu, ayahmu menghilang.”
Ayana menitikkan air mata. “Kamu pikir aku ke sini untuk menebus kesalahan masa lalu? Aku bahkan tidak tahu soal itu...”
Keenan mendekat. Suaranya menekan. “Maka buktikan. Bahwa kamu bukan seperti dia.”
Ayana menatap mata Keenan, tajam. “Aku akan bekerja. Tapi bukan untuk menebus dosa yang bukan milikku. Aku di sini karena aku punya bakat. Dan kamu akan melihat itu.”
Keenan menahan napas. Untuk pertama kalinya, dia melihat keberanian dalam diri Ayana. Gadis itu... tidak seperti yang ia bayangkan.
Dia bukan putri pengecut dari pria pengkhianat.
Mungkin, dia lebih dari itu.
---
Malam tiba.
Angin laut menerpa jendela villa. Ayana berdiri di balkon kamarnya, memandangi bulan yang redup. Hari ini terlalu aneh, terlalu menyakitkan... dan terlalu penuh teka-teki.
Lukisan ayahnya. Tuduhan Keenan. Dan kini... ia harus bekerja dengan pria yang menyimpan dendam terhadap keluarganya.
Tapi satu hal yang ia yakini: kebenaran harus terungkap.
Di balik jas Armani dan aura dingin Keenan Arzandra, tersembunyi luka. Sama seperti dirinya.
Dan di antara luka-luka itu... benih cinta mulai bergetar pelan, perlahan... tapi pasti.