Assalamu’alaikum Kak Adler …
Aku harap saat aku pulang nanti Kakak sudah membaca surat ini dan sudah memaafkan aku, karena aku tidak tahu bagaimana harus tinggal dirumah Kakak ketika sang pemilik rumah marah kepada ku.
Percayalah semua terjadi di luar kendali ku, aku tidak tahu bagaimana Kak Hasan bisa sampai di rumah ini, tapi meskipun begitu jujur saja aku sangat berterima kasih kepadanya Kak, karena jika dia tidak ada aku tidak tahu bagaimana nasib ku dan anak ku. Saat ini, aku tidak ingin menceritakan apa yang terjadi, karena aku merasa tidak pantas menjelaskan semuanya di sini, Kakak bisa tanyakan semuanya kepada Kak Alexa.
Tapi, yang perlu Kakak ketahui adalah rasa hormat ku hanyalah untuk Kakak, setelah pernikahan kita aku tidak pernah memberikan perhatian, kedekatan, atau hal apapun yang melebihi kapasitas ku sebagai istri mu kepada orang lain. Sampai kapanpun, aku akan selalu ingat Kak, jika statusku adalah istri dari seorang Adler Geraldine, dan aku akan selalu menjaga nama mu, kehormatan mu di mata Allah serta orang lain.
Aku Maryam Aisyah Putri Alaric, akan berjanji akan terus menghormati mu, suami ku Adler Geraldine.
Punggung Adler langsung terasa lemas hingga membuat dia yang semula duduk langsung bersandar pada kepala ranjang, tangannya langsung terkulai ketika dia sadar sudah salah paham kepada Maryam. Tangannya memijat kepalanya yang saat itu tiba – tiba terasa pening ketika dia sadar sudah melakukan kesalahan besar dengan menuduh Maryam sudah melakukan perselingkuhan.
“Aku salah pernah berpikir perempuan seperti Maryam melakukan hal rendahan seperti berselingkuh, dia terlalu mulia untuk melakukan hal seperti itu, apa yang sudah aku lakukan” ujar Adler, sambil memukul – mukul kepalanya karena merasa sudah melakukan hal bodoh.
Sesaat kemudian, Adler langsung tersadar dan kembali membaca surat yang sudah di tulis oleh Maryam untuknya, satu kalimat dalam surat itu membuat Adler mengerutkan dahinya, berusaha menerka apa maksud Maryam menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Alexa. Kemudian, Adler langsung bangkit dari posisi duduknya dan beranjak menuju kamar Alexa.
“Apa yang terjadi hari itu, katakan yang sejelasnya pada ku” ujar Adler, saat Alexa baru saja membuka pintu.
Sesaat Alexa terdiam karena saat itu mungkin dia juga masih bingung dengan apa yang sebanarnya Adler tanyakan. Kemudian Adler menyerahkan kertas yang Maryam tulis untuknya, dan setelah dia membaca surat itu, seketika tubuhnya menegang seakan saat itu dia tahu kemana arah pembicaraan yang Adler inginkan.
“Apa yang kamu pikir terjadi saat itu Ad, selain perselingkuhan yang terjadi antara Maryam dan laki – laki itu, dan aku tidak bisa melakukan apapun selain menonton perselingkuhan mereka” ujar Alexa, sambil tersenyum sinis kearah Adler seakan saat itu dia merasa menang karena sudah berhasil menjelekan Maryam di mata Adler.
“Jangan bohong Al, kamu tahu sejak dulu aku sangat tidak menyukai kebohongan, jadi tolong jujurlah karena jika tidak kamu tahu seberapa besar kemarahan ku” ujar Adler, saat dia merasa tidak percaya pada apa yang Alexa katakan.
Alexa terdiam mendengar jawaban Adler, karena saat itu dia menyadari jika Adler tahu dirinya sedang berbohong. Kemudian, dia menghela nafasnya dengan kepala tertunduk karena saat itu dia tidak memiliki pilihan lain selain berkaca jujur dan bersiap menerima kemarahan Adler kepadanya.
“Aku saat itu lepas kontrol, dan gak tahu kenapa tiba – tiba ingin mencekik Maryam, tapi tiba – tiba laki – laki itu datang dan menghentikan aku, setelah kamu datang dan salah paham, aku benar – benar minta maaf, aku gak tahu kenapa saat itu bisa berpikir hal seperti itu” jelas Alexa, sambil memegang tangan Adler berharap laki – laki itu tidak marah kepadanya.
Sesaat Adler terdiam sambil menatap Alexa dengan tatapan yang sulit dijelaskan, kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan tatapan yang sudah berubah menjadi kecewa. Setelah itu, Alexa langsung menghempaskan tangan Alexa dengan kasar, karena Adler merasa tidak percaya sosok perempuan yang pernah dia cintai, sosok perempuan yang dia tahu adalah orang yang baik bisa melakukan hal sekeji itu.
“Aku, kecewa kamu bisa melakukan hal sekeji itu Al, kamu perempuan baik Al, tapi kenapa sekarang kamu merusak citra itu dengan berbuat jahat pada Maryam” ujar Adler, sambil menatap Alexa dengan tatapan penuh kekecewaan.
“Aku sangat – sangat kecewa terlebih saat kamu justru memanfaatkan kesalahpahaman yang terjadi antara aku dengan Maryam, apa salah Maryam sama kamu Al, selama ini dia selalu baik sama kamu, tapi kenapa kamu bisa bersikap sejahat itu sama dia” ujar Adler, dengan nada suaranya yang terdengar sudah putus asa dan syarat akan rasa kecewa.
Sesaat, Alexa tersenyum getir mendengar jawaban Adler. Kemudian, mengalihkan tatapan matanya berusaha menyembunyikan air mata yang jatuh membasahi kedua belah pipinya. “Kamu pikir hati aku gak sakit melihat kamu bersama Maryam yang semakin hari semakin terlihat akrab, kamu pikir hati ku gak terluka membayangkan Maryam akan segera mehirkan anaknya kemudian kamu akan menikahi dia dan hubungan kalian akan resmi berdasarkan agama kalian” ujar Alexa, dengan air mata yang sudah tidak lagi mampu menahan air matanya.
“Al, aku pikir kamu udah paham dan menerima semuanya, tapi kenapa kamu malah jadi seperti ini, tolong pahami bagaimana keadaan kita sekarang, renungkan dimana letak kesalahan kamu sekarang, jangan sampai aku bersikap tegas” ujar Adler, sambil berlalu pergi meninggalkan Alexa dengan seberkas rasa di dalam hatinya.
Tegas, memang harus Adler lakukan kepada Alexa karena ketegasan bisa membuat perempuan itu sadar jika kini hubungan mereka tidak lagi sama. Hanya saja, Adler lupa jika menghapus sebuah rasa cinta tidak sama seperti menghapus tulisan diatas pasir, semuanya butuh proses, dan selama proses itu pasti akan ada fase – fase yang harus Alexa lalui dengan rasa sakit atau luka untuk menormalkan rasanya, hanya untuk sekedar menormalkan rasa, karena untuk menghapus rasa, tidak ada yang bisa menjamin sebuah rasa cinta bisa benar – benar hilang dari hati seseorang.
***
Adler hanya bisa duduk diam memandang wajah Maryam yang saat itu masih belum sadarkan diri setelah melakukan operasi, karena obat bius masih menguasai dirinya. Setelah sedikit berdebat bersama Alexa, Adler langsung memutuskan kembali ke rumah sakit, karena dia sudah tidak sabar menanti kesadaran Maryam dan ingin meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.
“Maryam …” panggil Adler, saat dia melihat mata Maryam mulai mengerjam – ngerjap kecil dengan tangannya yang perlahan mulai melakukan pergerakan.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar” ujar Adler, saat dia melihat mata Maryam yang sejak tadi terpejam akhirnya terbuka.
“Cadar ku mana Kak” ujar Maryam, untuk pertama kalinya saat dia merasakan wajahnya tidak tertutup oleh cadar seperti sebelumnya.
Sesaat Adler terdiam, kemudian dia beranjak hendak mencari cadar di dalam tas yang sengaja dia bawa dari rumah dan isinya beris semua keperluan Maryam, dan sepertinya dia juga sempat memasukkan sebuah cadak ke dalam tasnya. Kemudian, setelah mendapatkan cadarnya, Adler langsung kembali dan menyerahkan cadarnya kepada Maryam.
“Kakak bantu pasangin ya” ujar Adler, sambil membantu Maryam memasangkan cadarnya karena saat itu dia terlihat kesusahan.
“Padahal gak papa di lepas dulu sementara, kamukan masih pakai selang oksigen hidungnya” ujar Adler, yang hanya mendapat tanggapan gelengan kepala dari Maryam.
Setelah itu, baik Adler maupun Maryam sama – sama terdiam, keduanya sama – sama membisu seakan tidak ada satupun diantara keduanya yang memiliki topik pembicaraan. Sampai akhirnya, Maryam tiba – tiba bangkit dari posisi berbaringnya, tangannya mengelus – elus permukaan perutnya yang saat itu sudah rata, kemudian dia menoleh kearah Adler yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung.
“Kak, apa yang terjadi dengan perut ku, dimana anak ku, tolong katakan padaku jika dia baik – baik saja, aku mohon” ujar Maryam, dengan matanya yang sudah terlihat berkaca – kaca.
“Anak ku tidak papakan, Kak ?” tanya Maryam, dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipnya.
Sadar jika saat itu Maryam panik karena perutnya yang semula membuncit kini sudah kembali rata, Adler berusaha untuk menenangkannya. Berusaha membuat dia berhenti menangis baru setelah itu mulai menceritakan apa saja yang sudah Maryam lewati selama dia tidak sadar, dan bagiaman sekarang kondisi bayinya.
“Kamu tenang ya, bayi kamu baik – baik saja, tapi sekarang kamu belum bisa menemuinya, karena sekarang dia sedang diinkobator, lagi pula sekarang kamu harus banyak istirahat dan sebentar lagi Dokter pasti akan datang untuk memeriksa keadaan kamu” ujar Adler, berusaha menenangkan Maryam.
“Tapi, sebelum Dokter datang, ada sesuatu yang ingin Kakak bicarakan dengan kamu” ujar Adler, sambil menatap Maryam penuh keseriusan.
Tidak ada jawaban yang Maryam sampaikan, dia hanya diam sambil menatap Adler, seakan menunggu kelanjutan dari apa yang akan Adler sampaikan. Terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut Adler, kemudian dia kembali menoleh kearah Maryam dan menatapnya dengan penuh sesal.
“Maaf ya, atas semua kesalahpaham Kakak, maaf karena Kakak tidak mau mendengar perjelasan kamu lebih dulu, maaf karena sudah menuduh kamu melakukan hal seperti itu, dan terima kasih sudah menjadi istri yang baik untuk Kakak” ujar Adler, sambil tersenyum hangat kearah Maryam.
“Untuk masalah Hasan, Kakak sudah menanyakan semuanya secara langsung kepada Alexa, dan Kakak juga sudah menegur dia, maaf ya” ujar Adler, sambil menatap Maryam dengan tatapan penuh sesal.
Sesaat Maryam terdiam, kemudian dengan keadaannya yang masih lemah, dia tersenyum dibalik cadarnya. Saat itu, dia bahagia karena sadar kesalahpahaman yang membentengi Maryam dan Adler, sudah runtuh dan kini semuanya sudah kembali membaik.
“Aku senang jika semuanya sudah membaik Kak, aku senang kesalahan pahaman kita sudah usai, karena nyatanya aku tidak suka ketenangan dan proses kita di usik, dan semoga apa yang terjadi pada kita atas kesalahpahaman yang baru saja kita alami, bisa menjadi sebuah pelajaran dan pengalaman untuk kedepannya agar kita, bisa lebih mengedepankan pikiran yang sehat dan jernih sehingga bisa berkomunikasi dari pada sebuah emosi” ujar Maryam, sambil tersenyum menatap kearah Adler.
“Setelah ini, mari kita sama – sama saling mengingatkan, saling menegur jika terjadi sebuah kesalah pahaman, dan belajar untuk bisa berkomunikasi lebih baik lagi di kemudian hari” lanjut Maryam, dengan senyuman menenangkan yang belum juga hilang dari bibirnya.
“Untuk masalah Kak Alexa, aku harap Kakak tidak memperpanjangnya masalahnya lagi, karena saat itu emosi Kak Alexa masih belum stabis” jelas Maryam, sambil menatap Hasan penuh keseriusan.
Namun, bukannya ikut menanggapi pernyataan Maryam dengan serius, Adler justru tersenyum sambil membelai kepala Maryam yang masih tertutup hijab. Karena, saat itu Adler benar – benar merasa beruntung bisa dipertemukan dengan sosok perempuan seperti Maryam, sosok yang penuh kasih dan maaf, sosok yang tidak pernah memandang buruk orang lain, dan sosok yang tidak pernah mempermasalahkan semuanya secara panjang lebar.
“Terima kasih ya kamu sudah bersedia bertahan bersama Kakak, terima kasih karena kamu bersedia memperbaiki semuanya bersama Kakak, tapi sebelum semua itu berlanjut lebih jauh lagi, ada satu hal yang ingin Kakak pastikan dari kamu” ujar Adler, sambil menatap Maryam dengan tatapan yang sulit untuk didefinisikan.
“Maryam Aisyah Putri Alaric, bersediakah kamu menikah bersama ku, menjalani hari – hari hingga menua bersama ku, belajar bersama, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling melindungi, dan saling menghormarti dalam perjalanan yang akan kita lewati bersama…” ujar Adler, sambil menatap Maryam seakan berusaha menebak bagiamana reaksi Maryam mendapat lamaran untuk yang kedua kalinya.
“Bersediakah kamu menikah bersama ku, menghabiskan waktu hingga menua bersama ?” tanya Adler, sambil menatap sosok Maryam yang saat itu masih saja diam, dan diamnya Maryam tentu berhasil membuat jantung Adler berdebar tidak karuan, merasa tidak sabar sekaligus khawatir dengan jawaban yang akan Maryam sampaikan