Menepi untuk beristirahat dan menenangkan diri, meresapi berbagai hal yang menjadi perjalanan dalam masa pelik sulitnya sebuah kehidupan dan sakitnya sebuah perjalanan, itulah yang sedang dilakukan dan di rasakan oleh Hasan. Setelah tiga hari bangun dari koma, laki – laki itu memaksakan diri untuk pulang dari rumah sakit, dia memilih tinggal sendiri di apartemen yang dia dan Adrian sewa sebelumnya, tanpa ditemani oleh siapapun karena saat itu dia benar – benar ingin meresa tenang.
“Ayah kenapa meninggalkan Bunda, kenapa Ayah membiarkan Bunda sendiri dan sedih ? Ayah tidak sayang aku dan Bunda ?” Hasan menatap sosok anak kecil yang saat itu sedang menatapnya dengan tatapan penuh luka, matanya terlihat memancarkan banyak kesakitan yang bahkan tidak mampu Hasan jabarkan.
“Ayah, kenapa Ayah pergi ? apa Ayah benci Bunda karena aku ? apa aku harus pergi agar Ayah kembali pada Bunda ?” tanyanya lagi, sambil menyentuh jari tangan Hasan dengan kedua tangannya yang saat itu masih sangat kecil dan terasa sangat halus.
“Aku janji tidak akan ada di dekat Bunda lagi, tapi tolong temui Bunda, dia selalu bersedih setiap malam, jangan membuat dia menangis lagi Ayah, aku sedih jika melihat Bunda sedih, janji ya Ayah datang untuk menemui Bunda, aku pamit dulu” ujarnya, sambil mencium punggung tangan Hasan.
Dengan nafas terengah Hasan terbangun dari tidurnya, tangannya langsung memegang kepalanya yang saat itu terasa pening karena memang keadaannya belum terlalu baik. Kemudian, ingatan Hasan kembali terkenang pada sebuah mimpi yang baru saja dia alami, tatapan mata anak itu membuat hati Hasan benar – benar merasa terenyuh, hatinya seakan merasa sakit melihat tatapan luka mata itu. Kemudian, Hasan menatap tangannya sendiri, saat itu Hasan merasa sentuhan dari anak kecil yang hadir dalam mimpinya terasa begitu nyata.
“Apa sebenarnya maksud mimpi itu” gumam Hasan, dengan suasana remang kamarnya yang hanya mendapat pencahayaan dari lampu tidur sambil memegang kepalanya yang masih terasa pening.
Namun, sesaat kemudian Hasan langsung turun dari atas ranjang dan berjalan dengan sedikit terpincang saat dia teringat tentang suatu hal. Anak kecil dan kalimatnya yang memanggil – manggil kata Bunda membuat Hasan teringat pada sosok Maryam dan calon anak mereka yang sedang di kandung Maryam.
***
Gelisah, itulah yang Maryam rasakan sehingga hampir semalam dia tidak bisa memejamkan matanya walau sedikitpun, berbagai kegiatan mulai dari membaca buku, membaca koran, dan menonton sudah Maryam lakukan agar dia bisa segera tertidur. Hanya saja tidak tahu kenapa dia merasa sangat gelisah, yang dia lakukan hanyalah bolak balik ke kamar mandi buang air kecil.
“Kamu belum tidur ? ngapain ?” tanya Adler, yang saat itu baru saja kembali dari dapur dengan segelas air putih di tangannya.
“Gak bisa tidur,” hanya jawaban singkat itu yang akhirnya keluar dari mulut Maryam.
“Udah hampir jam tiga, kamu belum tidur sedikitpun ?” tanya Adler, yang hanya di jawab sebuah gelengan kepala oleh Maryam.
Setelah itu, tanpa pamit dan permisi, Adler langsung kambali ke kamarnya, sedangkan Maryam hanya berjalan – jalan tidak jelas di ruang keluarga dengan keadaan televisi menyala. Kemudian, dia berlalu pergi ke dapur untuk mengambil air minum karena memang saat itu tenggorokannya sudah terasa sangat kering. Hanya saja, belum sempat dia mengambil air minum, kakinya sudah lebih dulu terpeleset hingga membuat perutnya membentur meja pantry kemudian terjatuh kelantai, bahkan gelas yang saat itu belum sempat Maryam isi akhirnya terjatuh dan sedikit melukai kakinya.
“Allahuakbar Ya Allah” ringgis Maryam, saat dia merasakan perutnya terasa sakit, selama beberapa saat perempuan itu terduduk diatas lantai dengan tangan menyentuh perut karena saat itu dia memang benar – benar kesakitan.
“Ya Allah lindungi anak ku Ya Rabb” gumam Maryam, ditengah ringisan rasa sakit yang saat itu tidak kunjung mereda di bagian perutnya.
Sesaat, Maryam terdiam berusaha menenangkan diri ditengah rasa sakit dibagian perutnya yang tidak kunjung mereda. Namun, ke khawatiran Maryam kembali mencuat kepermukaan saat dia melihat ada darah yang mengalir di kakinya, sebisa mungkin Maryam berusaha bangkit, yang ada dalam kepala Maryam saat itu adalah rumah sakit. Dia harus segera pergi ke rumah sakit agar bisa memastikan anaknya dalam keadaan baik – baik saja.
Dengan langkah tertatih dan darah yang tidak kunjung berhenti keluar, Maryam pergi tanpa pamit kepada Adler yang dia yakin sudah tidur di kamarnya. Di jam tiga dini hari, kendaraan umum sangat sulit di temukan, yang Maryam lakukan saat itu hanya berjalan kecil dengan harapan akan ada taxi yang datang. Kemudian, perempuan itu menghentikan langkahnya di sebuah halte saat dia merasakan sakit di bagian perutnya terasa sangat menyakitkan.
“Ayo, aku antar ke rumah sakit, jangan sampai dia kenapa – napa,” Maryam langsung menoleh saat tiba – tiba dia mendengar seseorang yang menyapanya di jam tiga dini hari.
“Ayo, aku antar ke rumah sakit, dia harus tetap baik – baik saja” lanjutnya, yang tidak mendapat respon apapun dari Maryam.
Sesaat, Maryam terdiam sambil memandang sosok dihadapannya, tidak tahu sudah berapa lama dia tidak pernah melihatnya, hingga tanpa terasa air mata Maryam jatuh dari pelupuk matanya di tengah rasa sakit yang saat itu dia rasakan. Antara sakit dan lega, mungkin itulah alasan air mata Maryam jatuh.
“Ayo, Kakak bantu” ujar Hasan, berniat untuk menggendong Maryam dan membawanya masuk ke dalam mobil karena saat itu dia melihat keadaan Maryam sedang tidak baik.
Namun, dengan cepat Maryam langsung mengangkat tangannya sambil menggelengkan kepala, berusaha mengatakan jika dia tidak mengizinkan apapun yang ingin Hasan lakukan. Kemudian, Maryam menoleh manatap Hasan selama beberapa saat, hatinya merasa lega karena laki – laki yang dia cintai kini masih berdiri dihadapannya dengan keadaan baik – baik saja, setidaknya pengorbanannya dengan menikah bersama laki – laki yang sangat tidak dia inginkan benar – benar tidak sia – sia.
“Kak …” panggil Maryam, sambil menunduk menahan rasa sakit dibagian perutnya. “Aku rindu dan aku lega Kakak baik – baik aja” batin Maryam, sambil kembali menoleh kearah Hasan.
“Pergi, jangan pernah datang lagi dalam kehidupan aku, sekarang aku sudah menikah, sudah punya suami, jadi jangan datang lagi, pergilah yang jauh dan jangan pernah datang lagi apapun alasannya, aku di sini akan bahagia bersama kelurga baru ku” ujar Maryam, dengan suara yang berusaha dia buat setenang mungkin di tengah rasa sakit yang dia rasakan.
Sesaat Hasan terdiam, dia sempat tertegun mendengar perkataan Maryam. Karena, sejujurnya Hasan masih belum terbiasa dengan semua penolakan yang Maryam lakukan, 19 tahun dia hidup dan berperan dalam proses pertumbuhan Maryam, dia selalu ada di dekat Maryam dalam keadaan apapun, mereka bersama dalam keadaan apapun tapi kini dia memberikan batas dalam hubungan mereka, dan Hasan merasa tidak terima dengan semua penolakan Maryam.
“Lalu, dimana suami kamu itu ? dimana dia saat kamu membutuhkan dia, yang Kakak lihat kamu justru terlihat menyedihkan, berjuang sendirian di tengah rasa sakit yang kamu rasakan, jika memang kamu bahagia bersama dia, seharusnya sekarang dia ada di sini bersama kamu, menemani kamu dalam keadaan susah !” ujar Hasan, dengan suara yang terdengar menusuk sambil menatap Maryam yang saat itu masih terlihat kesakitan.
“Berhenti mengusik istri ku, jangan pernah datang dan menemuinya lagi, saya gak suka anda mendekati istri saya dengan cara seperti ini terlebih saat saya tidak ada di dekatnya !!” Hasan langsung menoleh saat mendengar suara asing yang tiba – tiba ikut bergabung di tengah percakapan dia dan Maryam.
“Menjauhlah dari kehidupan kami, jangan datang untuk menjadi benalu dalam pernikahan kami yang bahagia” ujarnya lagi, kemudian melangkahkan kakinya mendekati Maryam yang saat itu tidak peduli dengan kehadirannya karena dia sedang kesakitan.
Adler, dialah sosok yang tiba – tiba datang itu, dia hadir. Tidak tahu bagaimana caranya dia tahu keberadaan Maryam hingga dia bisa tiba – tiba datang dan menamukan Maryam, “dia istri ku, dan kamu hanyalah orang luar yang tidak berhak ikut campur dalam pernikahan kami” ujar Adler, berjongkok dihadapan Maryam.
“Ayo, aku antar kamu ke rumah sakit, keadaan kamu benar – benar – benar gak baik” ujar Adler, sambil menatap wajah Maryam yang saat itu masih terlihat sangat kesakitan.
Namun, saat Adler beniat hendak memangku tubuh Maryam, lagi – lagi gadis yang sudah resmi menjadi seorang perempuan karena akan menjadi seorang ibu itu kembali melakukan penolakan dengan mengangkat tangannya. Dia berusaha memperingati Adler untuk jangan melakukan apapun, apalagi sampai menggendongnya.
“Dimana mobilnya, aku bisa jalan sendiri” ujar Maryam, menatap Adler.
Adler langsung menunjuk posisi mobilnya kearah Maryam, kemudian dengan pelan Maryam berlajan menuju mobil Adler karena saat itu selain merasa sakit dia juga takut, dia takut terjadi sesuatu pada anak yang sedang berada dalam rahimnya.
“Kak, jika memang Kakak ingin aku tenang, aku bahagia, pergilah dan jangan pernah datang untuk menemui ku, percayalah saat ini kepergian Kakak dari hidup ku adalah hal yang paling membuat aku bahagia dan hal yang akan membuat ku merasa tenang” ujar Maryam, sambil menatap Hasan yang saat itu sedang berdiri di dekat kaca mobil Adler.
“Karena, jika Kakak berkeliaran dan terus mendekat pada ku, aku takut Kakak akan benar – benar pergi, setidaknya jika hanya berpisah dalam jarak dan tempat aku masih bisa menanyakan kabar Kakak pada orang yang aku percaya” batin Maryam, sambil menutup kaca mobil, dan setelah itu mobil benar – benar melaju pergi membawa Maryam menuju rumah sakit.
Tidak ada yang bisa Hasan katakan saat itu, karena untuk yang kesekian kalinya Maryam meminta Hasan untuk pergi. Meskipun saat itu Hasan tidak mengerti kenapa Maryam sangat begitu ingin dia pergi, tapi semua penolakan yang berusaha Maryam tunjukan membuat Hasan merasa jika kehadirannya membuat Maryam tidak suka.
Sementara Maryam, selama perjalanan Maryam lebih memilih diam, begitupun dengan Adler, laki – laki itu memilih sama – sama diam, hanya matanya yang sesekali melirik Maryam karena saat itu jujur saja dia merasa sangat khawatir pada sosok wanita yang sudah berstatus istrinya itu. Meskipun sebenarnya saat itu dia ingin memarahi Maryam karena dia pergi begitu saja dari rumah dengan darah berceceran di dapur yang berhasil membuat dia khawatir bukan main, tapi Adler sadar bukan saatnya bagi dia untuk mempermasalahkan semua itu.
“Ayo, biar aku bantu, kamu masih kesakitan kan ?” ujar Adler, berniat menggendong Maryam masuk ke dalam rumah sakit ketika mereka sudah sampai di rumah sakit.
“Aku bisa sendiri” jawab Maryam, yang masih bersikeras tidak pernah mau di sentuh oleh Adler walau sedikitpun.
Kemudian, dengan langskah tertatih, Maryam turun dari dalam mobil, sedangkan Adler tidak ada yang bisa laki – laki lakukan selain mendengus kesal, tapi sesaat kemudian dia langsung berlari meminta seorang suster untuk membawakan kursi roda serta membantu Maryam untuk segera di periksa.
“Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya, berikan Dokter terbaik di rumah sakit ini untuk menangani istri saya”
“Tolong bawa saya ke bagian pemeriksaan kandungan, saya takut anak saya kenapa – napa Sus” ujar Maryam menggunakan bahasa lokal, dengan suaranya yang terdengar bergetar sambil menatap suster yang saat itu membantu mendorong kursi roda dengan tatapan khawatir dan takut yang berbaur menjadi satu.
Sementara Adler, laki – laki itu justru terdiam kaget saat mendengar jawaban Maryam, pernyataan Maryam yang meminta di bawa ke bagian pemeriksaan kandungan sangat – sangat membuat dia merasa sangat kaget. Karena, Adler sendiri masih sangat ingat dia dan Maryam tidak pernah melakukan hubungan selayaknya suami istri di atas ranjang, jadi pertanyaan yang muncul dalam kepala Adler bagaimana Maryam bisa hamil jika dia sendiri tidak pernah memberikan nafkah batin kepada Maryam.