Merasa dihianati, itulah yang Adrian rasakan saat dia mendapat kabar dari Lili tentang kehamilan Maryam, sosok gadis yang selama ini dia lindungi dengan sekuat tenaga, dia sayangi dengan tulus, tapi justru gadis kecil itu dinodai oleh laki – laki yang bahkan sangat dekat dengan Maryam, dan orang yang sangat Adrian percayai.
Adrian benar – benar marah semarah – marahnya saat tahu ayah dari bayi yang Maryam kandung adalah Hasan, laki – laki itu murka dan benar – benar meluapkan seluruh amarahnya pada Hasan yang saat itu bahkan sudah tidak berdaya.
“Dimana Hasan, tolong tunjukan dimana keberadaan b******n itu, saya benar – benar harus memberikan dia pelajaran yang setimpal atas apa yang sudah dia lakukan kepada Non Maryam” ujar Adrian, saat pintu yang sejak tadi dia ketuk dan menampilkan sosok Angga yang sepertinya masih terjaga di jam yang menunjukan pukul 04.00 dini hari.
“Dia saya rendam di kamar mandi sejak jam 23.00” jawab Angga, sambil membuka pintu rumah lebih lebar membiarkan Adrian masuk ke dalam rumah.
Saat itu, Angga sudah tahu apa maksud dan tujuan Adrian datang ke rumahnya, jadi dia tidak berniat menanyakan apapun lagi, sehingga saat laki – laki itu masuk bagitu saja bahkan tanpa memperlihatkan sopan santunnya Angga tetap membiarkannya, karena dia tahu saat itu Hasan salah.
“Kamu yang sudah melecehkan Non Maryam, gadis yang selama ini saya lindungi, sayangi, dan jaga, kamu sudah merusaknya !!” ujar Adrian, sambil menarik tubuh Hasan dari bath up, kemudian mendaratkan satu bogem mentah di pipinya.
“Kamu yang sudah merusaknya, membuat dia menanggung aibnya sendiri, saya tidak akan memberikan pengampunan terhadap kamu walau sedikitpun” ujar Adrian, sambil kembali meninju perut Hasan membuat laki – laki itu terhuyung jatuh dan tidak lagi melakukan pergerakan meskipun saat itu dia masih sadar.
Melihat Hasan yang memilih diam dan tidak sedikitpun memberikan perlawanan, membuat Adrian semakin kesal, emosi laki – laki itu benar – benar memuncak hingga tanpa sadar dia memukuli Hasan dengan air mata yang ranpa sadar jatuh dari pelupuk matanya. Karena, saat itu Adrian memang benar – benar merasa terluka setelah mengetahui fakta tentang Maryam, dia merasa seperti sudah di hianati oleh Hasan, selain itu berperan dalam proses pertumbuhan Maryam membuat Adrian merasa seperti memiliki adik atau anak perempuan yang harus dia jaga dengan sebaik mungkin.
“Jangan ! sudah saya mohon sudah cukup, dia sudah cukup tidak baik – baik saja tubuhnya sudah sangat dingin, tolong jangan pukuli dia lagi,” Adrian langsung menghentikan pukulannya kepada Hasan saat dia sadar jika laki – laki itu memilih diam karena memang dia sudah kedinginan, dan melihat Risa yang menangis memohon – mohon kepadanya membuat Adrian sadar jika dia sudah bertindak di luar batasnya.
Adrian memandang wajah Hasan yang saat itu sudah terlihat pucat dan terdapat sedikit luka – luka memar yang dia yakin karena ulahnya, kemudian dia langsung memapah Hasan untuk langsung dibawa ke rumah sakit karena dia sadar Hasan memang harus segera di bawa ke rumah sakit. Tepat, di ruang keluarga Angga sama paniknya dengan Risa saat melihat Hasan yang sudah terlihat setengah sadar dengan wajah yang sudah terlihat pucat.
***
Setelah mendapat penanganan dari Dokter, Hasan tertidur dan sudah kembali terbangun saat jam menunjukan pukul 07.00 pagi. Matanya yang semula terpejam mulai terbuka dan memperlihat bola matanya yang terlihat berwarna cokelat terang. Namun, tidak lama setelah mata itu terbuka, tiba – tiba ada air mata yang jatuh dari pelupuk matanya saat dia melihat kehadiran Risa yang ada disampingnya.
“Bunda, maaf, maaf karena aku sudah membuat Bunda menangis dan kecewa, maaf Bunda” ujar Hasan, dengan suaranya yang terdengar parau.
“Tolong jangan benci sama aku Bun, aku akan meperbaiki semuanya meskipun semua tidak akan kembali baik seperti sedia kala, tapi aku mohon maafin aku, Bun” lanjut Hasan, sambil terisak menangis layaknya anak kecil yang takut di marahi oleh ibunya.
Tanpa terasa air mata Risa ikut menetes saat dia melihat Hasan meneteskan matanya, saat itu Risa seakan melihat Hasan kecil yang sedang mengangis karena menyesal setelah dia melakukan kesalahan. Namun, hampir 34 tahun usia Hasan, Risa merasa jika sudah sangat lama dia tidak menenangkan putranya yang sedang menangis, karena putranya sejak kecil sangat jarang sekali bermanja kepadanya. Bahkan di usianya yang masih terbilang anak – anak, dia sudah berdiri kuat untuk melindunginya.
“Kak, Bunda memang kecewa sama Kakak, Bunda sedih Kakak melakukan hal yang dilarang agama, hati Bunda sakit sayang, kenapa Kakak melakukan hal itu kepada Maryam” tanya Risa, sambil memandang wajah Hasan dengan air mata yang sudah berjatuhan dari matanya.
Kemudian, sebelah tangannya menggangam tangan Hasan, sedangkan tangannya yang lain menghapus lelehan air mata Hasan yang jatuh dari pelupuk matanya. Saat itu, Risa sadar, situasi yang sedang terjadi bukanlah situasi berat untuknya, untuk Alina, atau pun untuk Angga saja, karena Risa sadar Hasan yang lebih merasa berat pada siatuasi yang sedang terjadi, bahkan keadaan ini membuat Hasan dihakimi oleh orang – orang yang sangat dia sayangi dan cintai, dan hal itu Risa yakin menjadi hal yang sama beratnya dengan fakta Maryam hamil anaknya.
“Bunda, aku gak perah ingat bagaimana mana malam itu terjadi, tapi aku merasa memang pernah melakukannya pada Maryam, hanya saja setiap aku tanya pada Maryam dia tidak pernah mau menjawabnya” jawab Hasan, sambil menatap langit – langit kamar.
“Malam itu setelah Mas Adrian menelpon ku dan mengatakan Maryam dalam keadaan bahaya karena posisi rumahnya sudah mulai di ketahui, dalam waktu bersamaan pula Maryam menelpon karena ketakutan rumahnya gelap dan petirnya terdengar sangat kecang” ujar Hasan, mulai menceritakan.
“… dan malam itu aku benar – benar datang ke rumah Maryam, menemukan dia sedang benar – benar ketakutan sendirian karena Mbak Lili pergi pulang kampung, tidak lama setelah aku datang Maryam pingsan karena sesak nafas, saat itu aku ingat aku membawa Maryam hendak memindahkannya ke kamar, tapi aku tidak ingat pergi ke kamar mana, mungkin setelah itulah semuanya terjadi, karena setelah itu aku tiba – tiba sudah terbangun di kamar Maryam, tapi Maryam mengatakan dia tidur di kamarnya ibunya” lanjut Hasan, masih menceritakan.
“Aku terbangun dengan perasaan yang aneh, ada bagian dari kepala ku yang teringat dengan bayang – bayang itu, tapi bagian kepala ku yang lainnya seakan tidak mengingatnya, sehingga saat Maryam mengatakan tidak terjadi apa – apa diantara kami aku pikir semua itu hanya mimpi, meskipun pada kenyataannya saat itu aku merasa sudah terjadi sesuatu hanya saja aku tidak tahu itu nyata atau tidak” jawab Hasan, sambil mengubah posisinya menjadi duduk.
Selama beberapa saat Hasan terdiam memandang Risa, kemudian tiba – tiba dia turun dari atas ranjang tempatnya berbaring dan duduk di lantai sambil memeluk kaki Risa. Matanya mendongan menatap Risa dengan penuh sesal, melihat hal itu Risa benar – benar tidak mampu membendung air matanya lagi.
“Bunda, tolong maafin aku” ujarnya, dengan suara yang terdengar serak, antara karena sakit atau karena saat itu dia sedang menahan tangisnya.
“Bangun Kak, Bunda maafin Kakak, tapi tolong bertanggungjawablah seperti yang seharusnya kamu tanggung jawabi, selesaikan semuanya bersama Natasya dan luruskan semuanya bersama Maryam” ujar Risa, sambil menangkup pipi Hasan yang saat itu terasa hangat.
“Natasya sudah tahu Bun, dan dia meminta ku pergi menyusul Maryam ke Jerman” jawab Hasan, sambil menyandarkan kepalanya di lutut Risa.
Sesaat, Risa menghela nafas, kemudian dia mengelus kepala Hasan berusaha mengerti apa yang saat itu sedang putranya rasakan, terlebih setelah mendengar bagaimana kronologis ceritanya langsung dari mulut Hasan. Risa merasa jika Hasan tidak sengaja melakukannya, tapi di sisi lain Risa juga sadar jika Hasan tetap salah, hanya saja sebagai seorang ibu, dia tidak bisa ikut menghakiminya, dia hanya belajar untuk menjadi sandaran bagi Hasan yang saat itu sedang berasa di titik terendahnya. Karena, dulu saat Hasan masih berusia remaja juga dia berdiri menjadi sandaran untuknya dan Alina.
“Yaudah, sekarang istirahat lagi aja, tubuh kamu masih sedikit panas” ujar Risa, berusaha meminta Hasan bangun dan kembali berbaring diatas ranjangnya.
“Tapi nanti Bunda jangan kemana – mana, sini aja” ujarnya, sambil mendongak menatap Risa dengan tatapan polosnya membuat Risa sesaat tersenyum karena saat itu dia merasa seperti kembali bertemu Hasan kecilnya yang selalu bermanja kepadanya.
Hasan langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjang tepat setelah dia melihat anggukan kepala Risa. Namun, baru saja matanya terpejam harus kembali terbuka saat Angga dan Adrian datang setelah mereka memutuskan pergi tidak tahu kamana. Dua laki – laki itu langsung berjalan menghampiri Risa dan Hasan.
Selama beberapa saat, Hasan terdiam memandang Angga dan Adriam, kemudian kelebatan bayang – bayang tatapan penuh kemarahan dan kebencian dari mata mereka membuat Hasan langsung menunduk, tidak berani menatap mereka yang sedang berjalan menghampirinya.
“Ayah, aku minta maaf udah bikin ayah marah dan kecewa, Mas Adrian aku juga minta maaf” ujar Hasan, sambil menatap Angga dan Adrian secara bergantian.
Hasan kembali mengubah posisinya menjadi duduk sambil menatap dua sosok laki – laki dihadapannya, menunggu reaksi yang akan mereka tunjukan. Sampai akhirnya, tiba – tiba Angga memeluk Hasan, menepuk punggung putranya sebagai jawaban permintaan maaf yang baru saja dia katakan.
“Ayah hanya minta, bertanggung jawablah pada apa yang sudah kamu perbuat, selesaikan semuanya, dan perbaiki semuanya dengan sebaik mungkin” ujar Angga, sambil menepuk – nepuk pundak Hasan.
Sesaat Hasan tersenyum, kemudian dia membalas pelukan ayahnya. Setidaknya, Hasan tahu jika mereka tidak membencinya, mereka tidak akan pergi meninggalkannya, mereka hanya mengekspresikan kemarahan sesaat mereka, kini mereka sudah kembali mendukungnya, dan saat itulah Hasan merasakan ketenangan.
“Terima kasih Ayah, terima kasih” jawab Hasan, sambil tersenyum lega.
“Saya juga minta maaf ya, Subuh tadi saya terlalu emosi, jadi saya memukuli kamu tanpa sadar” ujar Adrian, sambil mengulurkan tangan yang tentu langsung disambut oleh Hasan.
“Nanti sore saya akan berangkat ke Jerman, saya akan mengecek bagaimana kondisi Non Maryam, Mas Hasan istirahat dan pulihkanlah keadaannya, setelah itu bisa ikut menyusul ke Jerman” ujar Adrian, yang tidak langsung mendapat tanggapan dan Hasan.
Karena, selama beberapa saat Hasan sempat tediam, dia terlihat sedang merenungkan apa yang baru saja Adrian katakan. “Aku ikut berangkat nanti sore” ujar Hasan, berhasil membuat Risa dan Angga langsung sama – sama menoleh.
Pasalnya, saat itu keadaan Hasan belum cukup membaik, bahkan demamnya belum turun, luka – luka memar di wajahnya masih berwarna ungu terang. Risa merasa tidak akan bisa membiarkan Hasan berangkat dengan keadaannya yang sudah jelas tidak baik – baik saja.
“Gak bisa Mas, Mas Hasan masih sakit, biar saya yang pergi duluan, baru setelah keadaan Mas Hasan membaik bisa menyusul ke sana, saya janji akan mengabari apapun informasi yang saya dapatkan di sana nanti” ujar Adrian, berusaha membujuk.
“Enggak Mas, aku juga harus berangkat nanti sore, aku udah sehat ko” jawab Hasan, tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
“Kakak ..,” Hasan langsung menoleh saat dia mendengar suara Risa memanggilnya dengan nada peringatan.
Sesaat, Hasan terdiam, otaknya berusaha mencari alasan yang paling tepat untuk dia sampaikan kepada ibu dan ayahnya agar dia diperbolehkan berangkat ke Jerman walaupun keadaannya masih sakit.
“Bun, percayakan sama aku, aku udah sering menhadapi hal seperti ini, berusaha melupakan sakit dan memaksa tubuh ku tetap bekerja, aku bisa pergi tanpa harus bunda khawatirkan karena selama ini aku sering melewatinya tanpa kata mengeluh, kan ?” ujar Hasan, berhasil membuat Angga dan Risa sama – sama diam.
Apa yang Hasan sampaikan memang benar, sejak dia memutuskan pergi dari kota Bandung, berlari jauh dari jangkauan ayahnya, Hasan memang selalu melakukan apapun semuanya sendiri. Dia tidak pernah mengeluhkan apapun kepadanya, dia tumbuh kuat karena keadaan pelik yang pernah dia lalui di masa lalu, sehingga saat itu Risa sadar jika Hasan memang mampu.