Matahari pagi menyembul perlahan dari balik cakrawala Samudra Hindia, memantulkan bias cahaya keemasan yang menembus dinding kaca kamar utama vila mewah ini. Udara tropis yang hangat berpadu sempurna dengan aroma asin air laut yang terbawa angin, menciptakan ketenangan mutlak yang sangat kontras dengan hiruk-pikuk kehidupan kota yang telah lama kami tinggalkan di belakang.
Aku membuka mata perlahan-lahan, menyesuaikan penglihatan dengan cahaya matahari yang mulai menyinari ruangan. Lengan kokoh North masih mendekap pinggangku dengan erat dan protektif, mengunci tubuhku dalam kehangatan dadanya yang bidang. Napasnya yang teratur berembun lembut di atas puncak kepalaku, memberikan irama damai yang menenangkan jiwa. Di luar kemewahan vila pribadi ini, dunia luar terasa begitu jauh—sebuah ruang hampa di mana tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi ketakutan, dan tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang mencoba merusak kedamaian kami.
North bergerak pelan, menyadari keterjagaanku. Mata hazel-nya terbuka dengan mulus, memancarkan tatapan tajam yang seketika melembut begitu menemukan wajahku berada dalam jarak sedekat ini.
"Pagi, Mindy," suara North terdengar serak khas orang baru bangun tidur, namun nadanya sarat akan kelembutan dan afeksi yang membuat dadaku berdesir halus.
"Pagi, Daddy," bisikku pelan, menyunggingkan senyum tipis yang tulus sambil merapatkan diri ke dalam dekapannya, menikmati setiap inci kehangatan tubuhnya. "Tidurmu nyenyak?"
North mendaratkan ciuman lembut di dahiku, lalu merapikan helai rambut panjangku yang berantakan di atas bantal sutra. "Sangat nyenyak, Sayang. Terutama karena aku bisa merasakan detak jantungmu di sisiku sepanjang malam. Bagaimana denganmu? Masih ada sisa mimpi buruk yang mengganggumu?"
Aku menggeleng pelan, mendongak sedikit untuk menatap rahang tegasnya yang ditumbuhi janggut tipis. "Tidak ada lagi, Daddy. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam teror dan ketakutan, aku tidur tanpa rasa cemas apa pun di kepalaku. Rasanya benar-benar lega."
Sudut bibir North terangkat tipis, membentuk senyuman menawan yang membuat jantungku berdetak lebih cepat. Tangannya merayap turun untuk mengusap rahangku, menikmati setiap inci kulitku dengan klaim posesif yang begitu natural dan mengakar kuat. "Karena kamu ada di sini, di bawah perlindungan mutlakku. Tempat di mana tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menjangkau atau menyakitimu lagi."
"Aku tahu, Daddy," gumamku lembut, memejamkan mata menikmati usapannya. "Bersamamu, aku merasa sangat aman dari segala hal."
Namun, di balik kehangatan pagi itu, ketenangan yang baru saja kami nikmati ternyata diuji oleh realita dunia luar yang belum sepenuhnya mati.
Menjelang siang hari, saat kami duduk bersama menikmati sarapan mewah di dekat teras terbuka yang menghadap langsung ke arah hamparan laut biru, suara getaran ponsel yang berdengung di atas meja kaca memecah keheningan pagi. Layar ponsel North menyala terang, menampilkan nama asisten kepercayaannya dari ibu kota.
North menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong sarapan, menatap layar ponsel itu sejenak dengan dahi yang sedikit berkerut tajam. Tanpa ragu, ia mengangkat panggilan tersebut dan langsung memasangnya dalam mode pengeras suara agar aku bisa mendengarnya juga.
"Ada laporan apa?" tanya North dingin, suaranya langsung berubah menjadi otoritatif dan penuh wibawa.
"Maaf mengganggu waktu libur Anda, Pak North," suara sang asisten terdengar agak ragu-ragu dan berhati-hati di seberang sana. "Kami baru saja mendapati pergerakan mencurigakan dari rekening lama serta aset atas nama mantan suami Mbak Mindy, Lennox. Meskipun dia sudah mendekam di dalam tahanan penjara, pihak keluarga besarnya kedapatan mencoba mengalihkan beberapa aset properti komersial yang dulu sempat disengketakan dalam gugatan cerai."
Mendengar nama pria itu disebut, sendok di genggamanku hampir terlepas dan berdenting nyaring mengenai piring porselen. Jantungku berdegup kencang seketika, menghidupkan kembali sisa-sisa rasa trauma yang sempat terkubur dalam oleh pelukan North.
"Kenapa mereka masih saja mencari masalah?" geramku tanpa sadar, jemariku mencengkeram tepi meja erat-erat hingga buku-buku jariku memutih. "Bukankah semua urusan hukum itu sudah dibereskan minggu lalu?"
North langsung menangkap perubahan ekspresi di wajahku yang mendadak pucat. Mata hazel-nya menyipit tajam, memancarkan pendar bahaya dan kemarahan yang amat pekat. Ia segera meletakkan serbetnya, lalu menggenggam jemariku yang sedikit gemetar di atas meja kaca dengan erat untuk menyalurkan ketenangan.
"Dengarkan aku, Mindy," ucap North rendah, menatap langsung ke dalam manik mataku dengan keyakinan mutlak. "Kamu tidak perlu memikirkan sampah-sampah itu barang sedetik pun. Fokus padaku."
Ia kembali fokus pada panggilan teleponnya, nada suaranya berubah menjadi dingin seperti es yang mematikan. "Selesaikan semuanya hari ini juga tanpa ampun," perintah North mutlak tanpa memberi ruang tawar sedikit pun. "Bekukan seluruh akses aset yang coba mereka alihkan secara ilegal. Serahkan semua bukti percobaan pelanggaran hukum itu kepada kejaksaan agar masa hukuman pria sialan itu dan keluarganya ditambah sekalian di penjara. Saya tidak ingin mendengar ada celah sekecil apa pun yang tersisa bagi mereka untuk bernapas."
"Baik, Pak North! Kami akan langsung eksekusi perintah Anda sekarang juga."
Sambungan telepon terputus seketika. North meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan gerakan tenang namun penuh d******i. Ia langsung bangkit dari kursinya, lalu berlutut di hadapanku, menyamakan posisinya dengan kursi yang kududuki. Kedua tangan besarnya menangkup wajahku dengan kelembutan yang luar biasa kontras dengan ketegasan dan ancaman yang baru saja ia keluarkan lewat telepon.
"Mindy, tatap aku," bisik North serak, ibu jarinya mengusap lembut pipiku yang menegang. "Pria itu sudah habis. Apa pun yang coba dilakukan keluarganya sekarang hanyalah napas terakhir dari hewan sekarat yang putus asa. Jangan biarkan bayangan kotor mereka merusak hari indah kita di sini. Percaya padaku."
Aku menatap pendar hangat di dalam manik mata North, merasakan gelombang kekuatan dan kekuasaan yang mengalir melalui setiap sentuhannya. Rasa cemas yang sempat mencengkeram dadaku perlahan-lahan menguap tanpa sisa, tergantikan oleh rasa aman yang mutlak bahwa pria di hadapanku ini tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitiku lagi.
"Aku percaya padamu sepenuhnya, Daddy," kataku lirih, air mata kelegaan hampir menetes di sudut mataku. "Tapi, jujur saja, nama itu masih meninggalkan rasa tidak nyaman di dadaku. Aku takut mereka akan terus mengusik kita."
North mendengus pelan, sorot matanya melembut namun tetap tegas. Ia mengelus pipiku dengan penuh kasih. "Mereka tidak punya kekuatan apa pun untuk mengusik kita, Sayang. Di luar sana, kerabat Lennox itu tidak lebih dari sekumpulan pengecut yang mencari perhatian di atas kapal yang sudah tenggelam. Jika mereka berani melangkah lebih jauh, aku sendiri yang akan memastikan mereka kehilangan segalanya dalam waktu singkat."
"Terima kasih, Daddy," bisikku tulus, merangkap kedua tangan North di pipiku. "Aku tahu aku tidak perlu mengkhawatirkan apa pun selama kamu ada di sisiku."
"Tentu saja," balas North dengan senyuman tipis penuh d******i. Ia menarikku berdiri dari kursi, lalu langsung membawanya dalam dekapan yang erat dan rapat, memelukku seolah ia ingin memastikan bahwa aku benar-benar sepenuhnya menjadi miliknya, suci, aman, dan tak tersentuh oleh masa lalu mana pun di dunia ini.