Mobil merah milik Laura sudah tiba di depan gedung Barania Resto. Laura turun dari mobil dan menatap bentuk gedung restoran itu sejenak. Lalu, ia mengedarkan pandangan ke tempat parkir roda dua untuk mencari motor Adnan.
Tak ada motor Scoopy cokelat yang terparkir di sana. Laura baru teringat kalau motor itu sudah hancur lebur ditabrak oleh musuh ayahnya saat malam penculikan itu. Ia tidak tahu lagi motor apa yang digunakan Adnan untuk aktivitasnya kini.
Laura pun mengembuskan napasnya lesu. Rasa bersalah kembali menyelimuti batinnya.
“Non, kenapa berdiri saja di sini?” tegur Bi Asih.
“Eh, iya, Bi. Ayo masuk. Pak Hendra, ayo masuk juga. Kita makan sama-sama!” pinta Laura pada sopirnya. Ia ingin mengajak dua orang yang paling dekat dengannya itu makan sepuasnya di tempat makan favori