Laura tidak pernah menjadi orang yang duduk diam menunggu nasibnya diputuskan orang lain. Itu bukan caranya sejak kecil, ketika kedua kakaknya sibuk dengan kamera dan pensil gambar mereka, Laura-lah yang justru duduk di pangkuan ayahnya, mendengarkan rapat-rapat kecil di rumah, bertanya kenapa dan bagaimana sampai orang dewasa di sekitarnya kehabisan jawaban.
Jika ayahnya tidak mau menjelaskan siapa sebenarnya Aresh Reyvan Assa, Laura akan mencari tahu sendiri.
Ia memulai dari yang paling mudah: laptopnya. Nama itu muncul di beberapa dokumen internal perusahaan yang masih bisa ia akses lewat portal keluarga, posisi Aresh sebagai salah satu kepala divisi pengembangan properti, rekam jejak proyek yang sukses satu demi satu, dan tanda tangan Konrad Reinhardt di hampir setiap promosinya.
Tidak ada yang aneh sejauh ini. Terlalu bersih, malah.
Laura mendecak pelan. Orang yang terlalu bersih biasanya paling pintar menyembunyikan sesuatu.
Menjelang sore, seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah, ruangan yang paling banyak menyimpan jejak Meiske, dari foto-foto pernikahan yang masih terpajang rapi sampai vas bunga favoritnya yang selalu diisi ulang meski pemiliknya sudah tidak ada. Konrad duduk paling dekat dengan meja kecil tempat foto Meiske diletakkan, menyalakan lilin dengan tangan yang nyaris terlihat gemetar, satu-satunya retakan kecil yang Laura tangkap dari ketegasan ayahnya sepanjang hari itu.
Lucas datang membawa album foto lama, duduk bersila di lantai seperti kebiasaannya sejak kecil, tidak peduli meski usianya sudah dua puluh delapan tahun. "Ingat ini?" Ia menunjukkan satu foto, Meiske tertawa lebar, wajahnya penuh tepung karena gagal membuat kue ulang tahun Laura yang keenam. "Ibu bersikeras bikin sendiri padahal katering sudah dipesan."
Emil, yang biasanya lebih banyak diam, tersenyum tipis melihat foto itu. "Dan Ibu tetap memaksa kita makan kuenya, meski gosong separuh."
"Aku masih ingat rasanya," Laura menyahut pelan, suaranya bergetar di ujung kalimat. "Manis, tapi agak pahit di bagian bawahnya."
"Persis kayak Ibu," kata Lucas, tertawa kecil meski matanya berkaca-kaca. "Manis di luar, tapi keras kepala sekali."
Untuk sesaat, tawa kecil itu berhasil menembus dinding duka yang menggantung di ruangan itu. Laura mendapati dirinya nyaris tersenyum, kebiasaan lamanya, betapa pun sedih suatu momen, selalu ada bagian dari dirinya yang mencari sesuatu untuk ditertawakan, seperti warisan langsung dari ibunya sendiri.
Konrad tidak ikut tertawa. Ia hanya menatap foto itu lama, jarinya menyentuh pinggiran bingkai dengan hati-hati, seolah takut merusaknya. Laura memperhatikan ayahnya diam-diam, mencoba mencari tahu apa yang sedang berputar di kepala pria yang jarang sekali menunjukkan isi hatinya itu.
Malam itu, sebelum keluarga bubar kembali ke kamar masing-masing, mereka berdoa bersama singkat, tanpa banyak kata, karena bagi keluarga Reinhardt, duka bukan sesuatu yang perlu diucapkan panjang lebar untuk terasa nyata. Laura memejamkan mata, membiarkan satu-dua air mata jatuh tanpa berusaha menyembunyikannya lagi, setidaknya di depan orang-orang yang benar-benar mengenal ibunya.
Setelah itu, barulah rasa penasarannya kembali kali ini bukan lagi soal Aresh, melainkan pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benaknya: kenapa ayahnya, yang begitu berduka malam ini, masih sanggup mengurus segala detail pernikahan hanya berselang beberapa hari dari peringatan kematian istrinya sendiri?
Ia menemukan Greta di dapur belakang, tengah menyiapkan teh sore seperti kebiasaannya bertahun-tahun. Wanita paruh baya itu sudah mengasuhnya sejak Laura berusia lima belas tahun sejak kepergian Meiske yang begitu tiba-tiba, Greta adalah satu-satunya orang di rumah ini yang masih memperlakukan Laura seperti anak, bukan aset keluarga. Begitulah yang dipikirkan oleh Laura selama ini.
"Bibik tahu soal Aresh?" tanya Laura langsung, tanpa basa-basi, sambil duduk di kursi dapur dan mencomot sepotong kue dari piring yang belum sempat disajikan.
Greta menghela napas, tangannya tidak berhenti mengaduk teh. "Nona sudah bertemu dengannya?"
"Sudah. Dan dia dingin sekali, Bik. Seperti berbicara dengan tembok."
"Dia memang begitu sejak dulu," kata Greta
, nada suaranya lebih lembut dari yang Laura duga. "Tuan sudah mengenalnya bertahun-tahun. Katanya anak itu dulu dari panti asuhan."
Laura mengangkat alis. "Panti asuhan?"
"Tuan yang mengangkatnya jadi murid didiknya, membiayai sekolahnya, sampai akhirnya masuk ke perusahaan." Greta menuang teh ke dua cangkir, menyerahkan satu pada Laura. "Nona jangan terlalu keras padanya. Dia mungkin tidak seburuk yang Nona kira."
Tapi bagi Laura, informasi itu justru menyalakan alarm yang berbeda.
Dari panti asuhan. Dibiayai sekolahnya oleh Ayah. Sekarang menikahi putri satu-satunya dari keluarga pemilik perusahaan tempat ia bekerja.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, pikirannya berputar cepat menyusun kesimpulan yang menurutnya sudah cukup jelas.
"Jadi begitu," gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Greta. "Anak panti asuhan yang diangkat, dibesarkan dengan fasilitas keluarga kami, dan sekarang mendapat jalan pintas untuk memiliki semuanya hanya dengan menikahi aku."
"Nona…"
"Masuk akal, kan, Bik?" Laura meletakkan cangkirnya, matanya berkilat tajam kombinasi kecerdasannya yang biasanya dipakai untuk membaca situasi bisnis, kini berbalik menjadi senjata untuk membenarkan kecurigaannya sendiri.
"Dia tidak perlu berusaha keras. Cukup terima tawaran ayahku, menikahiku, dan semuanya perusahaan, kekayaan, posisi otomatis jadi miliknya."
Greta tidak menjawab, hanya menatap Laura dengan raut wajah yang sulit Laura baca antara khawatir dan sesuatu yang lain, sesuatu yang seperti tahu lebih banyak tapi memilih diam.
Malam itu, Laura duduk sendirian di kamarnya, menuliskan semua yang ia temukan hari itu dalam catatan kecil di ponselnya, kebiasaannya sejak kuliah, menyusun fakta seperti sedang menyiapkan argumen untuk sebuah kasus.
Aresh Reyvan Assa. Dari panti asuhan. Dibesarkan dan dibiayai oleh Ayah. Karier melejit cepat di perusahaan. Sekarang: menikahi aku.
Ia menatap catatan itu lama, mencoba mencari celah dalam kesimpulannya sendiri tapi tidak menemukannya. Semuanya terlalu rapi, terlalu pas, seperti sebuah rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari.
Yang tidak Laura ketahui, dan tidak akan ia ketahui untuk waktu yang sangat lama, adalah bahwa kesimpulannya benar dalam satu hal dan salah total dalam yang lain: memang ada sesuatu yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.
Hanya saja mungkin bukan tentang harta.
Dan bukan pula dimulai dari hari ayahnya mengangkat Aresh sebagai murid didiknya melainkan jauh sebelum itu, dari sebuah hari yang bahkan Konrad Reinhardt sendiri tidak pernah tahu keberadaannya.
Laura menutup catatan itu, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah cukup tahu untuk membenci pria itu dengan alasan yang jelas.