Bandara masih ramai meski jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Laura menyeret kopernya keluar dari area kedatangan, rambut hitamnya yang panjang terikat asal-asalan karena terlalu terburu-buru mengemas barang pagi tadi. Kulitnya yang putih bersih tampak sedikit memerah di pipi efek udara dingin kabin pesawat yang terlalu lama menempel, atau mungkin karena ia belum tidur layak sejak tiga hari terakhir.
Ia tidak peduli penampilannya. Yang ia pedulikan hanya satu: sampai di rumah, memeluk ayahnya, dan menangis untuk pertama kalinya sejak pemberitahuan peringatan itu datang.
Seorang pria berseragam rapi sudah menunggu di dekat pintu keluar, memegang papan kecil bertuliskan namanya. Laura mengenalinya salah satu sopir keluarga, tapi bukan yang biasa menjemputnya.
"Nona Laura." Pria itu membungkuk sedikit, terlalu formal untuk sekadar menjemput anak yang belum lama akan memperingati hari kehilangan ibunya. "Selamat datang kembali."
Laura mengernyit. Bukan salam berduka. Bukan pula ucapan turut berbela sungkawa yang ia duga akan ia dengar berkali-kali malam ini. Selamat datang kembali seolah ia pulang untuk sesuatu yang menyenangkan.
"Terima kasih," jawabnya singkat, memilih untuk tidak memperpanjang. Ia terlalu lelah untuk menaruh curiga pada hal sekecil itu.
Di dalam mobil, Laura membiarkan dahinya bersandar pada kaca jendela. Lampu-lampu kota berkelebat cepat, kabur, seperti air mata yang belum sempat ia keluarkan.
Ia teringat suara tawa ibunya. Meiske selalu tertawa dengan seluruh tubuhnya, bahu terangkat, mata menyipit, dan tangan yang refleks menepuk lengan siapa pun yang duduk di dekatnya. Laura mewarisi banyak hal dari ayahnya: sebagian ciri fisik, ketegasan, cara berpikir yang tajam dan cepat mengambil keputusan. Tapi tawa itu, kehangatan yang mudah tumpah itu, murni milik ibunya.
Dan sekarang tawa itu sudah tidak ada.
Ponselnya bergetar. Satu pesan dari Konrad.
Kita bicara setelah kau sampai. Ada yang perlu Ayah sampaikan.
Laura membaca ulang pesan itu tiga kali. Bukan isinya yang mengganggunya, melainkan nadanya. Ayahnya memang tidak pernah menjadi orang yang gemar berbasa-basi, tapi biasanya masih ada sisa kehangatan dalam kalimatnya setidaknya untuk Laura, anak bungsu sekaligus perempuan satu-satunya. Pesan ini terbaca seperti memo internal perusahaan, Kaku dan Terlalu rapi.
Mungkin ini caranya menahan diri, pikir Laura, mencoba memaklumi. Mungkin ayah juga sedang berusaha tidak runtuh di depanku.
Ia menyimpan ponselnya dan menutup mata, meski tahu ia tidak akan benar-benar tidur.
Rumah Reinhardt menyala terang saat mobil memasuki halaman depan. Terlalu terang untuk rumah yang sedang berkabung.
Laura turun dari mobil dengan alis bertaut. Ada beberapa mobil lain yang tidak ia kenali terparkir rapi di sisi kanan halaman, dan dua orang staf tambahan berdiri di dekat pintu utama bukan wajah-wajah yang biasa ia lihat di rumah ini.
"Ada tamu?" tanyanya pada salah satu staf yang membukakan pintu.
"Tuan sedang menunggu Nona di ruang kerja," jawab staf itu, menghindari pertanyaannya dengan halus.
Laura menghela napas pendek. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat soal hal kecil ini. Ia melangkah masuk, meninggalkan kopernya begitu saja di lobi, yang kemudian dibawa oleh staff yang bekerja dirumahnya kedepan kamarnya. Ia berjalan lurus menuju ruang kerja ayahnya, satu-satunya ruangan di rumah ini yang lampunya selalu menyala lebih lama dari ruangan lain.
Konrad Reinhardt berdiri membelakangi pintu, menatap jendela besar yang menghadap taman belakang. Punggungnya tegap seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda seorang pria yang kehilangan istri yang paling ia cintai.
"Ayah."
Konrad berbalik. Sesaat, ada sesuatu yang lewat di matanya, terlalu cepat untuk Laura kenali sebagai apa. Lalu wajah itu kembali tenang, seperti biasa.
"Kau sudah sampai," katanya, bukan pertanyaan. "Duduklah."
Laura tidak duduk. "Ayah, kenapa rumah ini ramai? Aku pikir kita akan.." Ia berhenti sejenak, suaranya melemah. "Aku pikir kita akan berkabung bersama. Hanya kita."
"Kita akan bicara soal itu juga." Konrad menggerakkan tangan ke arah kursi di depan mejanya. "Tapi duduklah dulu."
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Laura akhirnya menurut, meski dadanya mulai terasa sesak oleh firasat yang belum bisa ia namai.
Konrad duduk di seberangnya, tangannya terlipat rapi di atas meja. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap putrinya terlalu lama untuk sekadar basa-basi.
"Ibumu," Konrad memulai, "akan selalu jadi kehilangan terbesar dalam hidup keluarga ini. Ayah tidak akan pernah bisa menggantikannya, dan Ayah tidak berniat mencobanya."
Laura mengangguk pelan, tenggorokannya tercekat.
"Tapi hidup terus berjalan," lanjut Konrad, "dan Ayah harus memastikan semuanya tetap berdiri, bisnis ini, keluarga ini, dan kau."
"Aku tidak mengerti maksud Ayah."
Konrad menarik napas panjang, seperti sedang menimbang setiap kata sebelum mengucapkannya. "Ayah sudah memutuskan. Kau akan menikah."
Untuk sesaat, ruangan itu terasa seperti berhenti berputar.
"Menikah?" Laura hampir tertawa, tapi tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang merasa ini lucu. "Ayah, kita baru saja…" Suaranya pecah di tengah kalimat. Ia menarik napas paksa, mencoba menata ulang dirinya. Ini bukan caranya. Ia tidak akan runtuh di depan ayahnya, tidak malam ini. "Menikah dengan siapa? Sejak kapan ini direncanakan? Kenapa aku tidak pernah tahu?"
"Dengan seseorang yang Ayah percaya bisa mendampingimu memimpin bisnis ini kelak," jawab Konrad, tenang seperti sedang mengumumkan sesuatu yang wajar. "Salah satu orang kepercayaan Ayah. Kalian akan bertemu besok."
"Orang kepercayaan?" Laura berdiri, kursi di belakangnya berderit keras. "Yang mana? Ayah menikahkanku dengan orang yang bahkan tidak pernah kukenal? Tanpa bertanya padaku sama sekali?"
"Laura, dengarkan Ayah dulu…"
"Kenapa harus aku?" potongnya cepat, suaranya mulai meninggi. "Lucas belum menikah. Emil juga belum. Mereka berdua lebih tua dariku, dan mereka laki-laki…bukankah biasanya justru anak laki-laki tertua yang diharapkan meneruskan bisnis keluarga? Kenapa Ayah malah memaksaku, anak yang bahkan belum genap dewasa?"
Konrad menatapnya lama sebelum menjawab, nada suaranya tetap datar meski ada sesuatu yang mengeras di rahangnya. "Kakak-kakakmu sudah lama bicara pada Ayah soal ini. Mereka tidak tertarik meneruskan perusahaan. Lukas memilih dunianya sendiri, keliling dunia dengan kameranya. Emil lebih senang tenggelam dalam sketsa dan desainnya. Ayah tidak pernah memaksa mereka, karena Ayah tahu itu bukan jalan yang membuat mereka hidup."
"Dan aku?" Suara Laura bergetar, campuran antara amarah dan perasaan ketidakadilan. "Aku juga ingin memilih jalanku. Apa Ayah pikir aku sudah siap untuk menanggung semua ini sendirian?"
"Kau tidak akan sendirian," jawab Konrad, lebih pelan kali ini. "Itu sebabnya ada pernikahan ini."
Laura tertawa kecil, getir, tidak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. "Jadi karena kedua kakakku menolak, akulah yang harus dikorbankan?"
"Ini bukan pengorbanan, Laura. Ini…"
"Tidak." Ia menggeleng, tangannya mengepal di sisi tubuhnya, satu kebiasaan kecil yang selalu muncul saat ia menahan diri agar tidak meledak sepenuhnya. "Aku baru pulang untuk memperingati kematian ibuku, dan Ayah sudah menyiapkan pernikahan untukku seolah aku ini bagian dari perusahaan yang bisa dipindahtangankan begitu saja?"
Konrad tidak membalas amarah itu. Ia hanya menatap putrinya, dan untuk pertama kali malam itu, sesuatu di wajahnya retak, sesuatu yang jauh lebih rapuh dari ketegasan yang biasa ia tunjukkan.
"Ayah tahu ini berat," katanya pelan. "Tapi percayalah, ini caranya Ayah menjagamu."
"Menjagaku?" Suara Laura nyaris pecah, campuran amarah dan luka yang tak lagi bisa ia pisahkan. "Dengan cara memaksaku menikahi orang asing?"
Konrad tidak menjawab. Ia hanya menatap Laura lama terlalu lama, seperti sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari yang sanggup ia ucapkan malam itu.
Dan diamnya itu, lebih dari kata apa pun, membuat Laura merasa ada bagian dari cerita ini yang sengaja disembunyikan darinya, sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar keputusan bisnis seorang ayah untuk masa depan putrinya.