POV ANGGEL
Cahaya menembus sela-sela kelopak mataku dan mengusik tidurku. Pelan-pelan aku membuka mata, membiarkan pandangan menyesuaikan dengan terang di sekitarku.
Beberapa detik kemudian, aku sadar.
Ini bukan kamarku.
Aku mengenali ruangan ini. Ini kamar yang biasanya Kakek gunakan.
Aku mengerutkan kening, mencoba mengingat bagaimana aku bisa berakhir di sini.
Kuambil ponsel di samping bantal. Layar menyala, menampilkan jam: 08.57.
Aku terbelalak kecil.
Sejak menyelesaikan kuliah di Sing dan mulai bekerja di perusahaan Kakek, tidak pernah sekalipun aku bangun lewat dari jam enam pagi. Biasanya aku sudah bangun, olahraga ringan, lalu mandi dan sarapan sebelum berangkat ke kantor.
Hari ini… hampir jam sembilan.
Apakah karena kelelahan setelah lebih dari tiga puluh enam jam tidak benar-benar istirahat? Atau… karena kenyamanan yang kurasakan saat tertidur dalam pelukannya?
Pikiranku perlahan kembali ke kejadian semalam. Bagaimana hangatnya pelukannya, bagaimana tenangnya hatiku berada di dekatnya, dan bagaimana setiap otot di tubuhnya bereaksi terhadap setiap gerakan yang aku lakukan sekecil apapun seakan berusaha agar aku senantiasa merasa nyaman berada di dalam pelukannya.
Kebersamaan kami kemarin malam terasa belum cukup, aku tertidur meskipun keadaan sekelilingku cukup tegang, aku bisa merasakan aura Beatrix dan Anton belum seratus persen normal, tapi berada dalam pangkuannya dan bersandar di dadanya terasa jauh lebih nyaman dari kasur kamarku yang mahal itu. Sudah sangat lama aku tidak tidur sedalam itu.
Biasanya, bahkan saat bersama Beatrix, aku selalu dalam mode waspada. Tidurku ringan—sedikit suara saja bisa membuatku terbangun. Tapi tadi malam, semua pertahanan itu runtuh begitu saja.
Hanya karena satu pelukan.
Pelukannya.
Tok tok tok.
Ketukan pelan di pintu memutus alur pikiranku.
“Akhirnya putri tidur udah bangun.”
Suara Beatrix terdengar jelas, dan begitu ia masuk, aku bisa merasakan wajahku langsung memanas.
“Kayaknya pelukan Kak Kevin jauh lebih ampuh dari semua obat tidur,” lanjutnya santai. “Belum pernah aku lihat kamu tidur senyenyak itu.”
Aku mengalihkan pandang sejenak. Beatrix tidak asal bicara. Sejak kami kuliah di Sing, aku sama ringan tidurnya dengan dia—selalu setengah siaga. Tapi tadi malam, aku tertidur tanpa mimpi, tanpa terbangun.
“Kelelahan,” kilahku cepat. “Kemarin aktivitas lebih dari tiga puluh enam jam, plus malamnya tegang karena Kak Kevin.”
Aku berusaha terdengar santai, sambil menekan rasa panas yang merambat di wajah.
Beatrix hanya tersenyum geli, jelas tidak terlalu percaya, tapi juga tidak menyudutkanku.
“Kamu sudah sarapan?” tanyaku, mencoba mengalihkan topik.
“Belum. Lagi nungguin kamu bangun,” jawabnya.
“Kamu semalam tidur di sini?” tanyaku lagi, baru menyadari kalau kasur tambahan yang ada di sisi ruangan terlihat bekas dipakai.
“Iya,” jawabnya enteng. “Takut nanti Kak Kevin datang lagi ke sini mengganggu tidurmu.”
Nada suaranya menggoda. Wajahku kembali memanas.
“Ya sudah, aku mandi dulu. Habis itu kita sarapan,” kataku, berusaha sesantai mungkin.
Aku keluar dari kamar Kakek menuju kamarku sendiri yang berada di sebelah, diikuti Beatrix yang kamarnya tepat di sebelah kamarku.
Selesai mandi, aku mengenakan dress terusan tanpa lengan, panjang selutut, berwarna biru muda polos.
Di depan cermin, aku menatap pantulan diriku. Wajah bulatku yang cenderung imut, kupulas tipis dengan sedikit riasan natural. Lip balm merah muda memberi warna lembut pada bibir. Rambutku kubiarkan terurai, jatuh rapi di bahu, menambah kesan anggun.
Tidak terlalu berlebihan, tapi cukup rapi untuk ke kantor.
Keluar dari kamar, kulihat Beatrix sudah menungguku di depan pintu.
Dia memakai kaus ketat putih dengan jaket hitam, celana panjang katun hitam yang membalut kaki jenjangnya, rambut diikat ponytail, plus topi yang membuat gaya tomboy manisnya semakin menonjol.
Kami turun sarapan, lalu setelah selesai, berjalan menuju tempat mobilku diparkir.
Di depan pintu, kami melihat Kak Bram, Anton, Joko, dan Guntur berkumpul. Sepertinya mereka sedang berdebat. Dari ekspresi Anton, jelas dia tidak setuju dengan sesuatu yang Kak Bram putuskan.
“Ada apa, Kak?” tanyaku ketika aku dan Beatrix sudah mendekat.
“Udah mau ke kantor?” Kak Bram justru balik bertanya.
“Hmm…” aku menggumam, mengangguk pelan, lalu menatapnya menuntut jawaban.
“Hari ini aku ikut kamu ke kantor,” kata Kak Bram akhirnya. “Jadi aku minta Joko dan Guntur untuk tetap di sini.”
“Terus masalahnya di mana?” tanyaku bingung.
“Masalahnya,” Anton menyela dengan nada kesal, “Kak Bram disuruh ngawal Nona sama si Kevin.”
Aku memindahkan pandangan ke Kak Bram.
“Memangnya Kak Kevin bilang apa?”
Anton tampak hendak bicara lagi, tapi aku mengangkat tangan, memberi isyarat supaya dia diam dulu.
Aku menunggu jawaban langsung dari Kak Bram.
“Dia tadi pagi nelepon,” jelas Kak Bram. “Dia minta kalau bisa aku dan Anton yang mengawal kamu hari ini. Dan Beatrix…” Kak Bram melirik ke arah Beatrix. “Sebaiknya bawa senjata.”
Ia mengangguk singkat ke Beatrix.
Tanpa banyak tanya, Beatrix langsung berbalik masuk ke rumah. Beberapa menit kemudian, ia keluar lagi, sudah dengan holster pistol d**a yang biasa dipakainya, serta sebilah pisau lipat di pinggang—s*****a yang paling sering ia gunakan saat bertarung.
Melihat itu, ekspresi Anton makin mengeras.
“Kenapa sih perkataan si Kevin begitu mempengaruhi Kakak?” protes Anton. Nada suaranya jelas tidak puas.
“Insting Kevin sangat tajam,” jawab Kak Bram tegas. “Kita sudah berapa kali diselamatkan karena instingnya. Nggak usah banyak bantah. Lagian, aku memang mau ke kantor juga, kan.”
Aku menghela napas pelan. “Six sense” istilah mereka, untuk orang yang sudah mengenal kak Kevin sebelum dia ke Jakarta istilah itu mengandung makna yang sangat dalam, entah sudah berapa banyak anggota PP yang di selamatkan oleh instingnya. Dan aku tidak perlu di tanya bagiku six sense kak Kevin merupakan tanda bahaya yang melebih semua alarm yang ada di kediaman ini.
“Iya sudah, ikut saja arahan Kak Bram,” kataku pada Anton. “Kamu toh memang yang biasanya nyetir. Buat kamu, nggak ada yang berubah. Beatrix yang biasanya nggak bawa apa-apa saja tidak komplain waktu disuruh bawa s*****a. Kenapa kamu yang malah repot?”
Aku berkata seperti itu dengan tujuan untuk menetralkan suasana tegang antara Anton dan kak Bram karena aku tahu kenapa kak Bram tidak banyak bertanya dan lansung mengikuti permintaan kak Kevin.
Anton terdiam, tapi rahangnya masih mengencang, walaupun pada akhirnya ia tidak berkata lagi. Karena aku dan Kak Bram sudah satu suara, mau tidak mau Anton terpaksa mengikuti keputusan itu.
Kami berempat—aku, Beatrix, Kak Bram, dan Anton—akhirnya berangkat menuju kantor.
“Memangnya seberapa akurat insting Kak Kevin?” tanya Beatrix, memecah keheningan di dalam mobil.
Aku tersenyum kecil, mengingat satu kejadian.
“Cukup akurat,” jawabku. “Kamu ingat waktu kita lagi ujian, tiba-tiba aku disuruh pulang?”
Beatrix mengernyit, mencoba mengingat.
“Waktu itu, Kak Kevin lagi rapat sama Kakek,” jelasku. “Begitu rapat selesai, Kak Kevin nelepon Kak Bram dan minta supaya dia segera menjemput aku di sekolah.”
Aku menarik napas pelan, melanjutkan.
“Benar saja. Nggak lama setelah aku dan Kak Bram keluar dari sekolah, ada orang yang menyamar jadi anggota PP datang ke sekolah. Mereka bilang kalau mereka disuruh menjemput aku.”
Wajah Bu Nisa muncul jelas di ingatanku.
“Bu Nisa tahu kalau aku sudah dijemput Kak Bram. Dia curiga, jadi dia nelpon Kak Bram. Dan benar. Orang-orang itu ternyata mengejar kami.”
Aku menatap ke luar jendela, melihat bayangan gedung-gedung berlalu.
“Mereka berhasil dihentikan Kak Bram. Waktu aku sampai di rumah dan ketemu Kakek, Kak Kevin sudah babak belur. Dia habis melawan sepuluh orang pembunuh bayaran sendirian.”
Mobil mendadak terasa lebih sunyi.
Beatrix tidak langsung menjawab.
Aku bisa merasakan pandangan Anton di kaca spion, seolah ikut memikirkan cerita itu.
Obrolan kami membuat pikiranku kembali tertarik pada satu pertanyaan yang sedari tadi berusaha kuabaikan.
Kali ini, dia kembali.
Bukan sebagai bayangan di masa lalu, tapi benar-benar berdiri di sini, di sekelilingku.
Apa pun yang akan terjadi…
Apakah Kamu Akan Menetap, Kak Kevin?