Hotel ternama di ibu kota negara A.
Clarissa wanita berparas cantik bertubuh tinggi mempunyai kulit putih bersih yang berkerja di hotel itu.
Clarissa tengah berjalan di lorong hotel lantai 25 membawa pesanan minuman Alkohol nomor kamar 245.
"Kamar 245?"
Clarissa menoleh ke kanan dan kirinya mencari kamar 245.
"Itu dia, hampir saja kelewatan."
Clarissa berdiri didepan pintu kamar, saat dia ingin mengetok pintu kamarnya. Dia melihat pitunya sudah terbuka sedikit.
"Kok pintunya terbuka?"
Clarissa tidak curiga, dia langsung membuka pintu masuk ke dalam kamar.
Clarissa terkejut sampai menjatuhkan botol minumanya yang dia pegang ke lantai.
KRANGG!!!
Botol itu pecah dilantai dengan air bir berwarna merah mengalir di lantai.
Clarissa melihat kejadian yang pembunuhan dengan mata kepalanya sendiri.
Di depannya dia melihat adegan seorang pria tampan yang seumuran dengannya sedang mengorong leher pria paru baya sang pemilik kamar.
Darahnya pria baru baya itu mengalir deras ditubuhnya membasahi seprei putih diranjang.
Pria itu berbalik menatap Clarissa berdiri gemetar.
Melihat Clarissa menyaksikan kejahatannya, pria menangkap Clarissa yang berdiri mematung menutup mulutnya dengan ekpresi wajahnya ketakutan.
Pria itu mendorong tubuh Clarissa ke tembok sampai pipinya menempel ditembok dengan tanggan Clarissa yang dipegangnya dibekang punggung Clarissa.
"Aku tidak melihatnya. Biarkan aku pergi." Ucapnya ketakutan.
"Kau pikir aku ini bodoh!" Teriaknya.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
Kring...
Pria itu mengambil ponselnya dari saku celananya.
Dia melihat panggilan ada dari sesorang bukanya mengangkatnya dia malah mematikannya dan mengembalikannya ke saku celannya.
Saa itu juga pria itu berbalik, dia melihat helikopter yang menjemputnya sudah datang.
Pria itu menarik tanggan Clarissa ikut pergi bersamanya.
"Lepaskan aku!" Teriaknya memberontak.
"Berisik!" Teriaknya menatap Clarissa dengan tajam.
Pria itu menggandeng pinggang Larissa yang kecil berencana melompat keluar dari jendela.
"Apa kau lakukan!" Teriaknya ketakutan berdiri didepan jendela.
Dengan ruat wajah datar pria itu berlari sambil menggandeng pinggang Clarissa melompat menembuh kaca.
Pria itu melindungi kepalanya dengan menyilangkan tanganya di depan wajahnya sedang Clarissa menundukan kepalanya kesamping d**a pria itu.
Clarissa berteriak dengan sekuat tenaganya " Aaaahh".
Dia pikir mereka akan mati tapi nyata pria itu menangkap tangga tali yang menjulur di bawa helikopter.
Sekarang Clarissa memeluk erat pria itu, dia tidak berani membuka kedua matanya.
Helikopter itu pergi membawa Clarissa dan pria itu yang masih bergelantungan di tangga tali.
Bersambung