Pagi itu Jakarta biasa saja.
Tidak ada sirene di depan rumah. Tidak ada kamera di pagar, tidak ada mobil asing yang parkir terlalu lama di seberang jalan, tidak ada satu pun nomor tak dikenal yang menelepon dua kali berturut-turut.
Yang ada cuma bau teh, dan telur yang hampir gosong karena Bisma terlalu asyik bicara sambil mengaduk.
Saira masuk ke dapur dengan rambut masih berantakan, mengenakan kaus lama yang biasa dipakainya di hari libur. Kunci mobil tergeletak di mangkuk kecil dekat pintu, dan dari situ kertas di dasbor masih terlihat sedikit ujungnya — dua kata yang menggantikan pengingat keras berbulan-bulan lalu.
Papan di dinding dapur menatap mereka dengan tulisan-tulisan yang sudah bertahan lama: meja bukan vas, kartu dibuka di sini, hampir menyerah bukan berarti menyerah.
Toples di sudut rak berisi tiga lipatan. Peta tidak lagi di dinding — ada di laci tinggi, di dalam map yang bertuliskan jangan lupa, jangan ditonton.
Pukul tujuh lewat, ponsel Saira bergetar sekali. Stiker dari Mira, gambar kucing yang lebih jelek dari yang sebelumnya, disertai dua kata: pagi, bukan poster.
Heru mengirim status seperti biasa: pagi tenang, pemantauan berjalan di latar, tidak ada yang perlu dikerjakan hari ini.
Mereka duduk.
Amplop kartu itu dibuka sebentar — bukan dibaca penuh seperti malam itu, hanya dilihat sekilas, seperti orang memeriksa kembali daftar belanja yang sudah dihafal.
'Fakta,' kata Saira, dan untuk pertama kalinya kata itu terdengar tidak kaku sama sekali. 'Saya masih bisa merasa takut pada rasa aman. Itu belum hilang, dan mungkin tidak akan hilang tahun ini.'
'Rasa?'
'Takut. Dan sayang,' katanya. 'Dua-duanya sekaligus, dan saya sudah berhenti menganggap itu aneh. Stop.'
Ia menaruh amplopnya di meja.
'Saya tidak minta jarak,' katanya. 'Saya minta meja ini. Kartu saya tetap terbuka.'
Bisma mengangguk, lalu membuka miliknya sendiri.
'Fakta: saya masih bisa digoda,' katanya. 'Mungkin bukan dengan cara yang sama. Nanti bentuknya berbeda — usulan yang terdengar masuk akal, bahasa baru, alasan yang lebih rapi. Rasa: sebal, karena saya tahu saya bisa tergoda. Dan sayang. Stop.'
Ia meletakkan kertasnya.
'Saya tidak akan mundur. Saya tidak akan menjaga jarak. Angkanya jujur, istrinya tidak dihapus dari mana pun, dan kartu saya tetap terbuka.'
Mereka bergandengan tangan di atas permukaan kayu itu — kayu yang tergores di sudutnya, yang catnya sudah pudar di satu sisi, yang bautnya sudah dikencangkan lebih dari sepuluh kali dalam setahun terakhir.
Saira tersenyum. Pahit sedikit di awal, lalu hangat.
'Rumah ini pernah dibakar pelan-pelan,' katanya. 'Dari dalam, tanpa ada yang tahu, selama bertahun-tahun.'
'Iya,' kata Bisma.
'Dan kita tidak merekatkan pecahannya jadi vas untuk dipajang,' lanjutnya. 'Kita cuma duduk lagi di meja yang sama.'
'Dengan kartu terbuka,' kata Bisma. 'Bukan karena bayang-bayangnya sudah tidak ada di dunia. Karena bayang-bayang itu tidak boleh lagi jadi alasan kita saling menutup diri.'
Ada satu momen kecil pagi itu yang kemudian diingat Saira lebih lama daripada seluruh percakapan mereka.
Ponselnya bergetar di meja. Nomor tak dikenal.
Selama lima bulan terakhir, getaran seperti itu selalu diikuti urutan yang sama di tubuhnya: bahu menegang, napas tertahan, tangan meraih benda itu lebih cepat dari yang ia sadari.
Pagi itu ia melihat layarnya, membiarkannya berdering sampai berhenti sendiri, dan melanjutkan sarapannya.
Beberapa detik kemudian masuk pesan singkat dari nomor yang sama: penawaran paket internet.
Saira meletakkan ponselnya menghadap ke bawah dan tertawa — tawa pendek, hampir tidak bersuara, tapi Bisma menoleh karena tahu persis apa artinya.
'Apa?' tanyanya.
'Bukan apa-apa,' kata Saira. 'Cuma orang jualan.'
Telur yang agak gosong itu dimakan sampai habis. Tehnya terlalu manis untuk ukuran Saira, dan ia meminumnya juga.
Mereka tertawa waktu masing-masing mengaku bangun tengah malam untuk memeriksa kaki meja, dan menyadari bahwa selama lima bulan mereka melakukan hal yang sama tanpa pernah berpapasan.
'Berarti selama ini meja itu diperiksa dua kali semalam,' kata Bisma.
'Dan tidak pernah longgar sekali pun,' kata Saira. 'Padahal yang kita takutkan justru itu.'
'Mungkin memang begitu caranya,' katanya. 'Yang diperiksa terus jarang rusak. Yang rusak biasanya yang dianggap sudah beres.'
Tidak ada pidato pagi itu. Tidak ada pengumuman, tidak ada satu pun kalimat yang layak dikutip siapa pun.
Yang ada cuma pekerjaan yang menunggu: plafon yang harus diperiksa siang nanti, angka yang harus ditutup sebelum akhir bulan, kamar kos yang masih butuh rak, panggilan darurat yang masih terpasang, dan sebuah perkara yang masih berjalan di suatu tempat di luar sana, di jalurnya sendiri, tanpa perlu ditonton setiap hari.
Kertas di dasbor tetap di tempatnya. Bukan karena mereka masih hidup dalam keadaan darurat, melainkan karena kalimatnya masih benar: yang di meja dulu, sisanya belakangan.
Suatu hari nanti kertas itu mungkin dilepas juga, waktu sudah tidak ada yang perlu diingatkan. Tapi bukan hari ini, dan tidak ada yang merasa perlu memburu hari itu.
Ibu akan menelepon siang nanti, dan pasti tentang makan. Gunawan aman di tempatnya. Seto berada di jalur yang seharusnya, ditangani oleh orang-orang yang memang bertugas untuk itu. Mira ada di seberang kota bersama stiker-stiker jeleknya.
Sebelum berdiri dari meja, Saira mengambil buku catatannya — buku yang sudah berganti tiga kali dalam setahun terakhir — dan menulis satu baris terakhir untuk pagi itu.
Ia tidak menuliskan jam. Tidak menuliskan siapa berkata apa. Tidak menuliskan nomor dokumen atau nama siapa pun yang perlu diingat kalau suatu hari diperlukan sebagai bukti.
Yang ia tulis cuma ini: telur gosong, teh kemanisan, dua kartu terbuka.
Ia menutup buku itu dan meninggalkannya di meja — tidak dibawa ke tas, tidak disimpan di laci.
'Kau tinggal begitu saja?' tanya Bisma.
'Iya,' kata Saira. 'Isinya sudah bukan rahasia siapa-siapa.'
Dan di sebuah dapur di Jakarta, dua orang duduk di meja kayu yang bautnya kencang, memakan telur yang hampir gosong, dengan kartu yang terbuka di antara mereka.
TAMAT.