Pertemuan terakhir itu terjadi atas permintaan Jati sendiri — lewat pengacaranya, dengan satu syarat yang aneh: tanpa pengacara, tanpa rekaman, hanya mereka bertiga. Bisma awalnya menolak. Saira yang akhirnya berkata ya.
'Bukan untuk dia,' katanya. 'Untuk aku. Ada satu hal yang perlu dia dengar sebelum semuanya benar-benar selesai.'
Mereka bertemu di sebuah ruang privat di kantor notaris — wilayah netral. Jati datang tanpa jas kebanggaannya. Kemeja biasa, wajah yang menua sepuluh tahun dalam sebulan. Ia menatap Saira dan Bisma duduk berdampingan, dan tersenyum kecil yang pahit.
'Bahkan di akhir pun, kalian datang berdua.'
'Karena memang kami berdua,' jawab Bisma.
'Aku tidak minta maaf,' kata Jati langsung. 'Kalau kalian mengharapkan itu, pertemuan ini sia-sia. Yang kulakukan salah secara hukum — pengacaraku sudah menjelaskannya panjang lebar. Tapi aku tidak akan duduk di sini dan berpura-pura menyesal telah membenci keluarga yang menghancurkan keluargaku.'
'Ayahmu tidak dihancurkan oleh ayahku, Jati.' Saira membuka map yang ia bawa, dan mengeluarkan dokumen-dokumen tua — salinan yang ia minta dari firma hukum mendiang ayahnya, ditemukan setelah tiga minggu menggali arsip keluarga. 'Ini yang ingin kuberikan padamu. Bukan untuk dibalas. Untuk dibaca.'
Jati menatap map itu tanpa menyentuhnya. 'Apa itu?'
'Catatan lengkap kerja sama Maheswara dan Kusuma Logistik. Dua belas tahun lalu. Termasuk surat-surat internal ayahku.' Saira mendorongnya pelan ke seberang meja. 'Ayahmu kolaps bukan karena ayahku menarik diri. Ayahmu kolaps karena dia menggelapkan dana proyek bersama untuk menambal judi dan utang pribadinya — semua tercatat, semua ada bukti transfernya. Ayahku menemukannya, dan dia punya dua pilihan: melaporkannya ke polisi, atau memutus kontrak secara diam-diam dan menanggung rugi sendiri.'
Jati membeku.
'Dia memilih yang kedua,' lanjut Saira, suaranya lembut tetapi tidak goyah. 'Bukan karena bisnis. Karena ayahmu sahabat kuliahnya, dan ayahku tidak sanggup menyeret sahabatnya ke penjara dan menghancurkan keluarganya di koran. Dia menarik diri "di saat kritis" — itulah yang tertulis di berita — karena dia menutupi kejahatan sahabatnya dengan nama baiknya sendiri. Dia membiarkan publik menyalahkannya, asal keluarga Kusuma tidak jadi tercoreng.'
'Dusta.' Suara Jati serak. 'Ayahku bilang—'
'Ayahmu bilang apa yang perlu dia katakan kepada anaknya.' Saira menatapnya — bukan dengan kemenangan, melainkan dengan belas kasih yang telanjang. 'Coba pikir, Jati. Kalau ayahku benar-benar menusuk ayahmu, kenapa tidak pernah ada satu pun tuntutan hukum dari keluarga kalian? Kenapa surat yang kau terima dari pengacara kami isinya bukan ancaman — melainkan pengalihan sisa pembayaran yang sebenarnya sudah bukan kewajiban kami lagi? Ayahku tetap membayar utang ayahmu kepada pekerja yang belum digaji. Ada kwitansinya di map itu. Lembar sembilan.'
Tangan Jati bergerak menuju map itu seperti orang bergerak dalam mimpi buruk. Ia membuka lembar demi lembar — bukti transfer, surat-surat bertanda tangan ayahnya sendiri, kwitansi pembayaran gaji pekerja Kusuma Logistik oleh Grup Maheswara, dan satu surat tulisan tangan ayah Saira yang tidak pernah dikirim: *'Kus, aku memilih jalan ini agar anak-anakmu tidak tumbuh dengan ayah yang tercetak namanya di halaman kriminal. Jaga mereka. Aku menjaga rahasianya.'*
Ruang privat itu sunyi sangat lama.
'Sepuluh tahun,' bisik Jati akhirnya. 'Aku membangun hidupku di atas kebencian kepada orang yang... sedang menutupi ayahku.' Ia tertawa — suara yang paling hancur yang pernah keluar dari mulutnya. 'Aku menghancurkan pernikahan putrinya. Putri dari satu-satunya orang yang berusaha menyelamatkan keluarga kami.'
Tidak ada yang menjawab. Bisma dan Saira hanya duduk, dan membiarkan kebenaran itu bekerja — karena kebenaran tidak perlu dibantu.
Jati berdiri dengan goyah. 'Pengacaraku akan mengurus sisanya. Aku akan mengaku. Semuanya.' Ia berjalan ke pintu, berhenti di ambang, dan tanpa berbalik berkata, 'Kau benar memilih dia dulu, Rai. Orang tuaku menghancurkan dirinya sendiri. Orang tuamu menyelamatkan orang lain. Kau tumbuh dari rumah yang benar — dan akhirnya kau membangun rumah yang benar.'
Pintu tertutup.
Saira duduk diam lama, lalu menunduk dan menangis — tangis yang sudah menunggu dua belas tahun, untuk dua ayah, dua keluarga, dan semua tahun yang terbuang oleh kebencian yang berdiri di atas dusta.
Bisma merangkulnya, dan teras ingatan mereka berdua akhirnya berhenti terbakar.