Mira datang hari Sabtu sore, membawa dua bungkus mi instan dan setumpuk stiker yang dibelinya entah di mana — gambar-gambar konyol tanpa maksud apa pun, jenis barang yang dibeli orang hanya untuk mengganggu temannya.
Ia datang sebagai sahabat. Bukan sebagai penagih, bukan sebagai saksi, dan terutama bukan sebagai bukti bahwa rumah itu sudah pulih.
Saira membuka pintu dan langsung memeluknya, lebih lama dari yang biasa dilakukan keduanya.
Bisma sudah menyeduh teh, dan sudah menyiapkan panci karena tahu persis mi instan itu akan berakhir sebagai makan malam mereka bertiga.
Tidak ada kamera. Tidak ada satu pun orang dari kantor yang tahu. Heru diberi tahu hanya jadwalnya, dan penjagaan tetap dalam mode panggilan darurat, jauh dari rumah.
Sebelum air mendidih, Mira duduk di meja kayu itu dan mengeluarkan selembar kertas dari kantong jaketnya.
'Aku juga bawa kartu,' katanya. 'Kalian pikir cuma kalian yang boleh?'
'Silakan,' kata Saira.
Isi kartu Mira jauh lebih pendek dari milik mereka, dan dibacakan dengan nada yang sengaja dibuat ringan sampai bagian ketiga.
Ia bicara tentang suara-suara anonim yang dulu masuk ke ponselnya, dan bagaimana sampai sekarang, kalau ada nomor tak dikenal menelepon dua kali berturut-turut, tubuhnya masih bereaksi lebih dulu daripada pikirannya.
Ia bicara tentang kemarahannya — bahwa ada masa ketika ia merasa hampir dijadikan alasan oleh keduanya. Bukan sengaja, katanya. Tapi ada hari-hari ketika keselamatannya dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam keputusan yang sebenarnya bukan tentang dia sama sekali.
Ia bicara tentang sayang. Bagian ini yang dibacanya paling cepat, seperti orang yang ingin buru-buru melewati sesuatu.
Lalu ia menutup dengan permintaan yang sudah tiga kali ia sampaikan sebelumnya, dan sengaja ia sampaikan sekali lagi.
'Aku bukan lambang,' katanya. 'Bukan bukti kalian sudah sembuh, bukan bahan cerita, bukan tokoh pendukung yang bertahan. Aku cuma temanmu sejak semester dua yang kebetulan ikut kena. Aku mau nonton film buruk dan minta resep sama ibumu. Itu saja.'
Saira menangis sebentar — bukan tangis panjang, hanya beberapa detik, lalu ia mengusapnya dan melakukan hal yang sudah menjadi kebiasaan di rumah itu.
'Kartu saya,' katanya. 'Saya hampir menjauhkan diri dari kamu selama tiga bulan. Bukan karena marah. Karena saya pikir kalau saya menjauh, kamu aman. Itu keputusan yang saya ambil sendiri tanpa bertanya kepada kamu, dan itu persis kesalahan yang selama ini saya tuduhkan ke orang lain.'
'Aku tahu,' kata Mira. 'Aku diam saja waktu itu karena aku lagi takut juga.'
'Maaf.'
'Diterima.'
Bisma membuka kartunya paling akhir, dan miliknya paling singkat.
'Saya hampir menjadikan keamanan kamu sebagai bahan presentasi,' katanya. 'Waktu itu ada usulan supaya perusahaan menyatakan sudah melindungi pihak-pihak terkait. Nama kamu ada di draf itu. Saya coret, tapi saya sempat membacanya dua kali sebelum mencoret.'
Mira menatapnya sebentar. 'Terima kasih sudah bilang.'
'Terima kasih sudah memaki saya berkali-kali,' kata Bisma. 'Sebagian besar memang perlu.'
Air mendidih. Mi dimasak. Stiker-stiker konyol itu ditempel di kulkas tanpa alasan apa pun, menutupi sebagian daftar yang selama tujuh hari terakhir menempel di situ.
Mereka makan sambil berdebat tentang film. Mira bersikeras bahwa film yang ditontonnya minggu lalu adalah yang terburuk sepanjang sejarah perfilman; Bisma, lagi-lagi, membelanya semata-mata untuk membuat Mira jengkel; Saira tertawa sampai harus meletakkan sendoknya.
Perkara itu disinggung satu kali, selama kurang dari satu menit, di akhir makan — status pendek dan datar, tanpa nama, tanpa perkiraan, tanpa harapan apa pun yang diucapkan keras-keras.
Lalu mereka kembali membicarakan hal lain.
Setelah makan, Mira melakukan sesuatu yang tidak diminta siapa pun: ia berkeliling rumah itu, pelan, seperti orang yang memeriksa sebuah tempat setelah lama tidak berkunjung.
Ia berhenti di ruang kerja, di depan dinding yang sekarang kosong dengan bekas-bekas pucat di catnya.
'Sudah diturunkan,' katanya.
'Rabu kemarin,' kata Saira.
Mira menatap bekas itu agak lama. 'Kalian tidak mengecatnya?'
'Belum,' kata Bisma. 'Mungkin nanti. Mungkin tidak.'
'Jangan dicat dulu,' kata Mira. 'Aku suka bekasnya. Rumah yang catnya rata sempurna itu biasanya rumah yang penghuninya tidak pernah mengubah apa-apa.'
Ia melanjutkan ke dapur, berdiri di depan papan, dan membaca baris paling besar yang baru diganti minggu lalu.
'Ini kalimat siapa?' tanyanya.
'Berdua,' kata Saira.
'Bagus,' kata Mira. 'Yang lama terlalu sombong. Yang ini lebih jujur.'
Sebelum pulang, Mira mengeluarkan satu lipatan kertas kecil dari sakunya dan menaruhnya di meja.
'Untuk toples kalian,' katanya. 'Isinya satu kata.'
Saira membukanya. Di dalamnya tertulis: poster.
'Buang ke arsip kalian,' kata Mira. 'Aku tidak mau jadi itu, dan aku juga tidak mau kalian jadi itu.'
Menjelang malam, ketika Bisma mencuci piring dan Mira mengeringkannya, Saira duduk di meja dan memperhatikan keduanya dari belakang.
Ada masa, tidak terlalu lama berselang, ketika pemandangan seperti ini mustahil. Bukan karena mereka bertengkar — melainkan karena selama berbulan-bulan, setiap kali ketiganya berada di satu ruangan, selalu ada agenda: berkas yang harus dibaca, keputusan yang harus diambil, ancaman yang harus dihitung.
Malam itu tidak ada agenda apa pun. Dua orang mencuci piring dan berdebat tentang urutan menaruh gelas di rak.
Ia menuliskan itu di buku catatannya nanti malam, dengan satu kalimat pendek: hari ini kami berada di satu ruangan tanpa alasan.
'Kau menulis apa?' tanya Mira, yang menangkap gerakannya dari sudut mata.
'Bukan apa-apa.'
'Kau selalu bilang begitu.'
'Iya,' kata Saira. 'Dan kau selalu tetap bertanya.'
Mira mengangkat bahu. 'Aku cuma memastikan yang kau tulis bukan daftar kesalahanmu sendiri. Kau punya kebiasaan itu.'
Saira menutup bukunya. 'Kali ini bukan.'
Malam itu Mira tidur di sofa — bukan karena keadaan darurat, bukan karena tidak aman pulang, melainkan karena sudah terlalu larut dan besok hari Minggu.
Paginya mereka minum kopi bertiga di dapur, dan satu-satunya hal yang dibicarakan adalah apakah stiker kucing jelek itu harus dipindahkan ke pintu kamar mandi.