Begitu kabar itu resmi, dunia di luar rumah menginginkan satu hal: cerita yang selesai.
Rumah itu tahu ceritanya belum selesai. Yang berganti cuma babnya.
Laras masih berada di bawah tekanan berkas. R.W. masih harus memberikan keterangan lanjutan. Status Nadine sedang diproses, dan proses itu tidak boleh berubah menjadi tontonan. Para saksi masih dijaga, karena orang yang ditahan tidak berarti kehilangan seluruh tangannya.
Jati mengirim pesan lewat kuasa hukumnya — bukan langsung, sesuai aturan yang sudah disepakati sejak dulu. Isinya pendek: hati-hati pada sisa jalur yang belum diputus.
'Kita hormati,' kata Heru ketika pesan itu diteruskan. 'Kita tidak percayai sepenuhnya. Dua-duanya bisa dilakukan sekaligus.'
Portal berita, yang kehabisan detail resmi karena semua pihak menutup mulut, mulai mengisi kekosongan itu dengan karangan. Ada yang menulis tentang perpecahan keluarga, ada yang menulis tentang kesepakatan di balik layar, ada yang menulis tentang hal-hal yang bahkan tidak pernah terjadi di rumah itu.
Somasi untuk berita spekulatif berjalan lewat jalur hukum, satu per satu, tanpa satu pun komentar publik.
'Fakta: portal mengarang,' kata Saira di meja malam itu. 'Rasa: saya ingin menulis koreksi panjang, dengan lampiran, dengan tanggal, supaya semua orang tahu persis apa yang terjadi. Stop. Dosisnya diatur pengacara. Saya kembali kerja.'
'Fakta: mitra-mitra mengirim ucapan selamat seolah perangnya sudah habis,' kata Bisma. 'Rasa: sebal, karena mereka tidak tahu apa-apa. Stop. Saya balas singkat, sopan, tanpa cerita. Lalu kembali ke angka.'
Undangan mulai berdatangan pada hari kedua.
Saira menerima ajakan menjadi pembicara dalam sebuah acara bertema perempuan yang bertahan. Panitianya sopan, susunan acaranya rapi, dan bayarannya lumayan.
Ia menolak.
'Kenapa?' tanya Bisma, bukan menantang, hanya ingin tahu.
'Karena saya arsitek,' kata Saira. 'Kalau saya naik panggung itu, mulai besok saya jadi perempuan yang bertahan, dan itu akan menempel di nama saya lebih lama daripada bangunan mana pun yang pernah saya kerjakan. Saya sudah tiga tahun jadi tokoh di cerita orang lain. Saya tidak mau memulai lagi, bahkan dengan versi yang katanya memuji.'
Bisma menerima undangan siniar tentang direktur utama menghadapi krisis pada hari yang sama.
Ia juga menolak, dengan kalimat yang lebih pendek: yang bisa saya sampaikan cuma angka, dan angka sudah ada di laporan tahunan.
Malam itu papan bertambah baris baru.
Setelah kabar resmi: tolak panggung. Dosis koreksi diatur pengacara. Saksi tetap dijaga. Kerja jalan. Tidak ada garis akhir palsu.
Ke dalam toples masuk tiga potongan kertas: undangan bicara, siniar, dan perangnya sudah habis.
Ada satu tawaran lagi yang datang di hari ketiga, dan itu yang paling sulit ditolak karena tidak terdengar seperti panggung sama sekali.
Sebuah lembaga yang selama ini mereka hormati mengirim surat resmi: mengundang Saira duduk dalam sebuah diskusi tertutup tentang perlindungan saksi, tanpa wartawan, tanpa rekaman, hanya di antara orang-orang yang bekerja di bidang itu.
Ia mempertimbangkannya semalaman.
'Ini bukan panggung,' kata Bisma. 'Ini kerja.'
'Saya tahu,' kata Saira. 'Tapi saya akan duduk di sana sebagai apa? Sebagai arsitek yang kebetulan pernah jadi saksi, atau sebagai istri dari perkara yang sedang berjalan?'
Ia meminta pendapat Heru keesokan paginya, dan jawabannya membuat keputusan itu jadi mudah.
'Perkaranya belum selesai,' kata Heru. 'Apa pun yang Anda ucapkan di ruangan tertutup mana pun, sepanjang perkara masih berjalan, bisa muncul lagi enam bulan kemudian dalam bentuk yang tidak Anda kenali. Kalau Anda memang mau berkontribusi di bidang itu, lakukan setelah semuanya selesai. Bidangnya tidak akan ke mana-mana.'
Saira menolak dengan surat balasan yang sopan, dan menyimpan undangan itu di map tersendiri — bukan di toples godaan, melainkan di map bertuliskan nanti.
'Bedanya apa?' tanya Bisma.
'Toples itu isinya hal-hal yang tidak boleh saya lakukan,' kata Saira. 'Map itu isinya hal-hal yang boleh saya lakukan, tapi bukan sekarang. Saya tidak mau semua yang saya tunda berubah jadi hal yang saya larang seumur hidup.'
Heru mengirim satu pesan menjelang tengah malam. Isinya: tetap siaga pada sisa jalur; pemulihan boleh berjalan lebih longgar secara bertahap kalau dalam empat puluh delapan jam ke depan tidak ada kejadian.
Empat puluh delapan jam itu lewat tanpa apa-apa.
Maka protokol yang selama berbulan-bulan mengatur hidup mereka dilonggarkan satu tingkat lagi — bukan dicabut, hanya dilonggarkan. Mira mengizinkan Saira pergi ke pasar dekat rumah untuk keperluan singkat, sesuatu yang terdengar sepele bagi siapa pun yang belum pernah kehilangan hak melakukannya.
Ibu memasak hari itu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, dan mengirim rantang ke rumah mereka lewat orang yang sudah dikenal.
Gunawan mengabarkan bahwa keadaannya aman.
Sore harinya, klien hotel yang selama ini bersikap terlalu hati-hati — terlalu banyak bertanya, terlalu sering menunda — mengundang rapat lanjutan dengan nada yang kembali biasa. Bukan hangat berlebihan. Biasa. Dan biasa, setelah semua yang terjadi, terasa seperti hadiah yang tidak diminta.
Ada satu percakapan lagi di minggu itu, dan itu yang paling berat, karena datang dari orang yang paling berhak marah.
Ibu Saira menelepon pada hari keempat — bukan untuk menanyakan perkara, melainkan untuk mengatakan sesuatu yang jelas sudah dipikirkannya lama.
'Kemarin ada yang datang ke rumah,' katanya. 'Bawa surat, jelaskan semuanya ke Pak RT. Setelah itu tetangga berhenti bertanya-tanya.'
'Ibu marah?'
Perempuan itu diam agak lama di seberang telepon.
'Ibu marah tiga tahun,' katanya akhirnya. 'Bukan sama kamu. Sama keadaan yang bikin anak Ibu harus mikirin cara ngomong sama ibunya sendiri.'
Saira menutup matanya.
'Sekarang sudah selesai?' tanya ibunya.
'Belum, Bu,' katanya. 'Yang satu sudah ditahan. Yang lain masih jalan.'
'Ya sudah,' kata ibunya. 'Yang penting kamu makan. Ibu tidak nanya lagi. Kalau ada kabar, kamu telepon. Kalau tidak ada, Ibu anggap kamu lagi kerja.'
Percakapan itu berlangsung enam menit dan tidak ada satu pun kalimat besar di dalamnya. Tapi setelah menutup telepon, Saira duduk di dapur cukup lama — bukan karena sedih, melainkan karena baru menyadari bahwa selama tiga tahun ia tidak pernah sekali pun menelepon ibunya tanpa lebih dulu menyiapkan versi cerita yang aman.
Saira menuliskan di catatannya malam itu satu kalimat yang ia garis bawahi sendiri.
Yang paling ingin saya rayakan hari ini bukan penahanan siapa pun. Yang paling ingin saya rayakan adalah rapat yang berjalan biasa.