Sementara Bisma menggerakkan mesin penyelidikannya dari sisi korporat, Saira menyiapkan perangkapnya sendiri — dari sisi yang paling tidak akan disangka Jati: emosi.
Ia menelepon Jati dan meminta bertemu. Suaranya sengaja dibuat lelah, kalah, retak di ujung-ujung kalimat. Jati setuju dengan cepat — terlalu cepat untuk orang yang tidak menikmati kemenangan. Mereka bertemu di kafe hotel yang sepi, jam tiga sore, meja sudut yang Jati pilih sendiri karena ia selalu memilih panggungnya.
Yang tidak ia tahu: di saku blazer Saira, ponselnya merekam dalam mode perekam suara, dinyalakan sejak dari mobil.
'Aku dengar dari Bisma kau sudah menceritakan semuanya,' kata Jati, mengaduk kopinya. 'Dan? Dia percaya?'
'Kamu tahu jawabannya.' Saira menunduk, memainkan peran perempuan yang runtuh. 'Dia menyewa pengacara, Jati. Perceraian.'
Mata Jati berbinar — sedetik, cukup untuk membuat perut Saira mual. 'Sayang sekali. Padahal kalian pasangan paling harmonis se-Jakarta, bukan?'
'Jangan.' Saira mengangkat wajah, membiarkan matanya basah — sebagian akting, sebagian tidak. 'Aku datang bukan untuk diolok. Aku datang untuk bertanya satu hal, dan aku ingin jawaban jujur, sekali saja dalam hidupmu. Semua itu — foto, struk, rekaman — kamu yang buat semuanya?'
Jati menatapnya lama. Orang yang lebih bijak akan menutup mulut. Tetapi Jati sudah menyimpan kemenangan ini sepuluh tahun; ia tidak akan menahannya di dada.
'Struk itu kupesan dari percetakan kecil di Glodok,' katanya akhirnya, pelan, nyaris sayang. 'Fotonya asli — aku selalu percaya bukti terbaik adalah kenyataan yang dipotong dengan benar. Rekaman teleponmu dengan tukang ledeng? Jenius, bukan? Butuh waktu seminggu untuk menemukan konteks yang tepat.' Ia menyesap kopinya. 'Kau tahu apa yang paling menyenangkan, Rai? Aku tidak pernah berbohong satu kali pun kepada suamimu. Aku hanya... mengiriminya bahan. Dia sendiri yang menyusun ceritanya di kepala. Orang yang mencurigai istrinya akan selalu menyelesaikan lukisannya sendiri.'
'Dan kau merekam ini semua sebagai kemenangan pribadi.'
'Aku merekam ini sebagai keadilan pribadi.'
Saira menatapnya, dan di balik air matanya, sesuatu yang dingin menyala. 'Terima kasih, Jati. Itu jawaban jujur yang kuminta.'
Pada saat yang sama, di kantor Grup Adibrata, Bisma menerima hasil penyelidikan yang membuatnya menutup mata lama sekali.
Hotel Mahameru mengonfirmasi: tidak pernah ada reservasi atas nama J. Kusuma di tanggal itu; kop struk yang dikirim ke Bisma adalah versi lama yang sudah dua tahun tidak dipakai. Metadata foto galeri menunjukkan foto diambil dari perangkat yang sama yang mengirim paket — jejak digital yang ditinggalkan orang bayaran yang ceroboh. Dan kepala keamanannya menemukan satu hal terakhir: perempuan 'staf hotel' yang memotret di lobi itu bukan staf hotel. Ia dibayar lewat tiga lapis perantara — dan lapisan terakhirnya mengarah ke sebuah kantor konsultan kecil yang klien utamanya adalah Kusuma Capital.
Semuanya. Semua yang dikatakan istrinya di ruang tengah itu benar.
Bisma duduk di ruang kerjanya dan merasakan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada amarah: malu. Istrinya benar — ia menghukumnya dalam diam, berbulan-bulan, tanpa pernah memberinya kesempatan membela diri. Ia, CEO yang bangga dengan uji tuntasnya, menelan setiap 'bukti' dari pengirim gelap tanpa satu pun pertanyaan.
Karena kecurigaan tidak butuh bukti. Ia hanya butuh alasan. Dan Jati memberikan alasan itu dengan sangat rapi.
Malam itu Bisma pulang membawa sesuatu yang sudah lama tidak ia bawa: dirinya sendiri.
Saira ada di teras, duduk dalam gelap. Bisma keluar, berdiri di sampingnya, dan meletakkan sebuah map di pangkuan istrinya — hasil penyelidikannya, lengkap.
'Kamu benar,' katanya. 'Semuanya.'
Saira membuka map itu, membaca beberapa halaman, lalu mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman dari kafe. Suara Jati mengisi teras yang sunyi: *'Struk itu kupesan dari percetakan kecil di Glodok...'*
Ketika rekaman selesai, keduanya diam dalam keheningan panjang — keheningan pertama dalam berbulan-bulan yang tidak terasa seperti tembok.
'Aku seharusnya bertanya sejak paket pertama,' kata Bisma akhirnya, serak. 'Bukan menunggu sampai rumah kita terbakar.'
'Aku seharusnya jujur sejak malam gala,' jawab Saira. 'Bukan memilih damai yang palsu.'
Bisma menatap istrinya — perempuan yang hampir ia hilangkan karena percaya pada kertas daripada pada orang. 'Masih maukah kamu berjuang bersamaku? Bukan hanya untuk menang. Untuk menutup ini selamanya.'
Saira menggenggam tangan suaminya di kegelapan teras.
'Aku sudah mulai berjuang sejak kamu pergi ke hotel itu,' katanya. 'Cuma sekarang, akhirnya, kamu ikut.'