Bisma vs dewan tidak lagi berupa sindiran di koridor. Ia menjadi rapat yang ingin memakan rumah dengan bahasa stabilisasi.
Keesokan harinya agenda mendadak naik: 'stabilisasi citra dan mitigasi risiko reputasi'. Draft resolusi non-binding tapi beracun sudah diketik rapi: CEO diminta menempuh jarak publik dari isu pribadi mertua/istri selama sembilan puluh hari; humas mengambil alih seluruh narasi; investigasi internal 'diserahkan penuh ke polisi' dengan makna praktis setop gali bersama legal rumah. Seseorang sudah menaruh kopi di samping Bisma seolah ini rapat biasa. Bukan biasa. Ini tawar-menawar rumah.
Bisma membaca di layar proyektor, lalu mengingat latihan meja malam sebelumnya dengan Saira: *tidak tanda tangan di koridor; bawa ke kayu; angka jujur; tidak undur sebagai gertakan.* Di kepala ia mendengar juga suara Mira: *jangan undur.* Ia menulis di notes sebelum bicara: *rumah ≠ slide.*
Di ruang dewan ia berdiri, tidak meninggikan suara. 'Saya tidak menandatangani jarak. Saya setuju operasi, audit, dan kepatuhan hukum. Saya menolak menjual pernikahan sebagai produk stabilisasi. Siapa yang membocorkan bahasa rumah kami dan draft-draft ini ke koridor atau portal—usut. Dicatat. Angka kuartal siap dibedah hari ini juga.'
Ia membuka folder tebal, membagikan ringkas angka tanpa drama. Beberapa wajah berubah karena data tidak seburuk rumor. Komisaris senior tetap mengangkat suara. 'Anda emosional. Pasar tidak peduli meja makan Anda. Publik sudah digoyang sahabat istri dan dinding.' Bisma: 'Pasar peduli angka jujur. Yang tidak siap adalah klaim bahwa menjauh dari istri memperbaiki arus kas. Tunjukkan modelnya di slide—atau stop memakai kata melindungi untuk menutupi takut grafik. Dicatat.' Penasihat komunikasi ingin merekam sesi 'untuk arsip'. Bisma menolak kamera. 'Notulen cukup. Kamera untuk teater. Teater memberi oksigen pada portal.' Ia duduk lagi. Perang belum selesai. Hari itu ia tidak menyajikan rumah.
Sore saham anak usaha bergerak tipis turun; portal membesar isu 'dewan vs CEO' dengan cuplikan anonim. Saira di site membaca notifikasi, menutup tab, menaruh sticky note di penggaris: *jangan bilang tanda tangan.* Ia menelepon Bisma satu menit. 'Kau tahan?' Bisma di koridor: 'Tahan. Hampir tidak. Toples di kepala. Kau?' Saira: 'Hampir bilang tanda tangan saja. Tidak. Plafon. Meja malam. Mira?' Bisma: 'Heru bilang aman. Nanti speaker.'
Malam Heru, legal, Saira, Bisma di kayu. Legal menjelaskan: resolusi belum sah tanpa kuorum dan prosedur tertentu; bisa dilawan; risiko politik dalam tinggi jika RUPS digoreng. Heru: bocoran draft resolusi ke portal kemungkinan dari lingkar asisten komisaris—dipantau, belum vonis. Saira menulis di papan: *Dewan lapar jarak. Tolak. Usut bocor. Angka jujur. Tidak undur gertakan.* Bisma: 'Aku hampir marah sampai mengancam undur sebagai gertakan. Aku tidak—gertakan itu umpan dan bisa mereka terima. Lapor.' Mira di speaker dari rumah Ibu: 'Jangan undur. Undur = mereka menang tanpa fitnah baru. Omongi aku kalau goyah. Aku tidak elegan. Aku efektif. Gembok OK. Ibu makan.'
Mereka menyusun langkah empat puluh delapan jam: audit terbuka terbatas untuk dewan yang lapar angka; penolakan tertulis atas klausul jarak; somasi lanjut; pantauan bocor; Saira tetap site dengan protokol; Mira tetap di Ibu. Tidur tipis. Bisma vs dewan bukan soal ego kursi. Ia soal apakah rumah boleh digadaikan untuk grafik. Malam itu jawaban masih tidak—ditulis di kayu, ditahan di toples, diulang di telepon satu menit di antara debu plafon dan debu koridor.
Keesokan paginya ancaman RUPS mulai dibisikkan sebagai 'opsi'. Bisma tidak panik di grup; ia minta legal siapkan berkas prosedur dan angka. Saira mendengar di meja malam, menulis: *RUPS = prosedur. Bukan alasan jarak.* Mira: *jangan undur. jangan jarak. omongi aku.* Heru pantau bocor asisten. Dewan lapar belum kenyang. Bisma belum menyajikan rumah. Perang kursi vs kayu berlanjut—dan kayu, malam itu, masih lebih keras dari resolusi yang belum sah.
Di rapat berikutnya Bisma membawa folder angka tebal dan wajah datar. Ia membiarkan dewan lapar data sampai kenyang angka, lalu bilang singkat, 'Ini operasi. Rumah saya bukan lampiran.' Saira malam itu menulis di papan: *Angka boleh dibedah. Istri tidak.* Mira: *bagus. jangan undur.* Heru: *bocor asisten menguat; jangan vonis publik.* Lapar dewan residual. Tolakan residual. Kayu residual menang hari itu tanpa champagne—hanya dengan slide membosankan dan surat yang belum menandatangani penghilangan.
Malam itu Bisma pulang lebih lambat, menceritakan rapat tanpa melebihkan. Saira mendengar, menulis di papan: *Kursi lapar. Kayu tidak dijual.* Mereka berlatih lagi kalimat RUPS. Mira menagih: *undur?* Bisma: *tidak.* Saira: *jarak?* Bisma: *tidak.* Heru: *bocor masih dipantau.* Dewan yang lapar residual. CEO yang tidak menyajikan rumah residual. Perang itu akan lanjut ke bab berikutnya—dengan kayu yang sama.
Sebelum tidur Bisma menaruh print resolusi yang ditolak ke map, bukan ke laci rahasia. 'Supaya aku tidak pura-pura tidak ada godaan.' Saira menaruh foto Mira dari portal—print legal—ke folder A. 'Supaya aku tidak lupa kenapa kita tolak jarak: bukan ego, karena sahabat dan karena rumah.' Mira di chat: *kalau kalian goyah, telepon. jangan tanda tangan di diam.* Mereka balas sama: *deal.* Dewan lapar residual. Kayu penuh bukti tolakan. Malam itu cukup untuk bilang: kursi belum menang. Besok angka lagi. Besok plafon lagi. Besok tolak lagi jika draft kembali. Otot dewan yang lapar dilawan otot kayu yang mengulang. Di nakas Bisma menaruh kartu kantor; Saira menaruh pensil. Kerja besok adalah cara bilang kursi belum menang—bukan dengan teriakan, dengan kehadiran. Dewan lapar. Kayu berdiri. Sahabat di gembok. Istri tidak dihapus. Cukup untuk malam perang kursi. Saira menaruh tangan di kayu. 'Besok kita ulang kalau perlu.' Bisma: 'Ulang. Tidak jual.' Deal itu sederhana dan mahal—persis harga yang dewan tidak bisa bayar dengan resolusi.
Di koridor setelah rapat angka, seorang staf junior mengangguk kaku ke Bisma—bukan karena takut pada CEO, tapi karena takut pada angin dewan di belakang pintu. Bisma tidak membalas dengan senyum hero. Ia hanya bilang pelan, 'Kerja biasa. Jangan ikut rumor koridor.' Staf itu mengangguk lagi, lebih longgar.
Di mobil, Bisma membuka catatan kecil pasca-rapat. Dua baris dulu: "tolak resolusi" dan "RUPS mungkin datang". Lalu baris ketiga: "jangan biarkan Saira tahu dari portal". Ia menelepon Saira dua puluh detik sebelum portal sempat membesar. 'Aku tolak. Angka dibedah. Rumah tidak dijual. Kau dengar dari aku dulu—bukan dari judul.' Saira di site: 'Diterima. Plafon. Meja.' Mira di chat: *bagus. jangan undur.* Heru: *bocor asisten masih hidup.* Dewan lapar residual. Kayu residual. Malam itu cukup untuk bilang kursi belum menang—tanpa champagne, tanpa rilis, hanya dengan folder tebal dan telepon singkat.