Laras Hartono tidak sulit ditemukan sebagai nama di kertas. Sulit dijadikan bukti tanpa tergesa dan tanpa mengubah meja menjadi pengadilan malam.
Dalam dua hari Heru menyusun folder tipis yang rapi: foto profil lama di situs profesional, dua foto acara properti lima tahun lalu di mana ia berdiri tidak jauh dari Seto, satu NPWP badan terkait, satu nomor yang pernah muncul di log telepon Arya sebagai miss call sebelum skors—Arya tidak mengangkat, hanya tersimpan. Saira dan Bisma membuka folder itu di meja dengan timer; bukan di ranjang, bukan di mobil. 'Fakta: ada wajah kedua,' kata Saira. 'Rasa: ingin menempelnya di dinding sekarang. Stop. Folder B dulu. Papan hanya nama.' Bisma mengangguk. Legal mengirim surat netral meminta klarifikasi dokumen dan jadwal komunikasi. Tidak ada jawaban hari pertama. Hari kedua, balasan singkat lewat kuasa hukum: *Klien Ibu Laras Hartono menolak segala tuduhan. Segala komunikasi selanjutnya wajib melalui jalur hukum. Tanpa wawancara.* Pagar. Bukan elak R.W. yang berkeringat dan mencari keringanan. Pagar yang lebih dingin, lebih terlatih.
Saira membaca balasan itu di meja makan malam, teh belum dituang. 'Fakta: dia tidak elak dengan ramah. Dia tutup. Rasa: ini orang yang terbiasa perang kertas, bukan perang portal murahan. Stop. Kita tidak balas emosional. Kita tidak telepon marah. Kita cari mitra lama yang kenal dia dan Seto di zaman ayah—orang yang mungkin sudah menulis peringatan di buku cokelat.'
Bisma mengernyit, lalu mengangguk. 'Di arsip anak usaha dulu ada konsultan eksternal—bukan Mitra Cahaya—bernama Gunawan Prakoso. Dia sempat disebut di catatan ayah mertua di buku cokelat, halaman lain yang kita belum baca malam itu. Ada yang kutulis di notes waktu di gudang: G.P. Kita buka lagi buku. Ke Ibu. Protokol.'
Mereka ke rumah Ibu siang berikutnya dengan Heru, bukan dengan kamera. Buku cokelat dibuka di ruang belakang; halaman yang dilipat beda dari halaman R.W.; tulisan ayah Saira rapi dan pahit: *G.P. bilang Seto pakai keluarga istri untuk urusan kotor. Jangan campur. Kalau macet, jangan ke Laras.* Di bawahnya, tinta agak beda: *Aku takut. Aku tutup sebagian. Maaf.* Saira duduk di bangku kayu, buku di pangkuan, napas pendek lalu panjang. 'Ayah sudah tulis peringatan. Kita terlambat baca. Tapi kita baca sekarang. Fakta: nama Laras sudah di tinta ayah. Rasa: sedih dan marah. Stop. Kita tidak mengadili ayah di portal. Kita telepon G.P. dari meja, dengan timer.'
Ibu menutup mulut dengan tangan. 'Gunawan... dulu teman ayah. Dia masih hidup. Di Semarang. Aku punya nomor lama di buku telepon kertas. Aku hampir membakar nomor itu karena takut. Mira bilang jangan bakar.' Mira, yang ikut duduk di ambang pintu, mengangkat alis. 'Romantis. Telepon dari meja Adibrata, bukan dari emosi di gudang. Aku jaga Ibu.'
Mereka kembali ke rumah Adibrata, menulis pertanyaan, menjalankan timer empat jam meski penasaran menggigit, lalu menelepon dari speaker di meja. Gunawan di ujung terdengar tua, hati-hati, tidak dramatis. 'Saira. Anak Maheswara. Aku tidak mau masuk portal. Kalau kalian rekam resmi atau buat keterangan tertulis dan jaga Ibu, aku bisa bilang yang kutahu: Seto memakai Laras untuk bayar orang dan ambil dokumen. Aku pernah bilang ke ayahmu. Dia takut. Dia tutup sebagian. Aku tidak kudus. Aku juga pernah diam karena imbalan proyek kecil. Sekarang aku tua. Aku bisa keterangan tertulis kalau polisi atau kuasa hukum minta. Jangan bawa kamera berita ke rumahku. Jangan jadikan aku pahlawan.'
Saira menatap kayu saat menjawab. 'Tidak kamera berita. Tidak pahlawan. Terima kasih. Kami hubungi lewat legal. Kami jaga Ibu.'
Malam di papan dapur penuh baris baru: *Laras = keluarga istri Seto. G.P. kesaksian menyusul. Ayah sudah peringatkan—jangan ke Laras.* Bisma menambah: *Identitas dalang menguat ke lingkar keluarga, bukan hanya konsultan. Aku hampir bilang ke dewan "kami punya saksi". Aku tidak—belum tertulis. Lapor godaan.' Saira: 'Aku hampir menelepon nomor Laras yang Heru temukan. Aku tidak. Surat. Baut. Terima kasih ayah yang menulis meski takut—kita dengar sekarang.'
Mereka tidur dengan nama di sisi senyum. Foto Seto di dinding sekarang punya panah spidol ke kertas kecil yang ditempel magnet: *Laras Hartono — cocokkan / G.P.* Bukan vonis. Arah. Dan arah itu, menurut Gunawan yang terlambat jujur dan menurut tinta ayah yang tidak sempat selesai melindungi, sudah ada sebelum gelombang kedua membakar dinding dan grafik. Yang terlambat bukan kebenaran. Yang terlambat adalah keberanian membaca dan duduk di meja tanpa tiket.
Keesokan paginya legal menghubungi Gunawan untuk jadwal keterangan tertulis; ia setuju minggu itu, syarat tanpa media. Heru mengirim foto acara properti yang diperbesar: Laras di tepi frame, Seto di tengah senyum. Saira tidak menempel foto Laras di dinding dulu—hanya di folder B. 'Wajah kedua belum kualtar. Nama dulu. Cocokkan dulu.' Bisma setuju. Di kantor ia menolak pertanyaan komisaris soal 'saksi Semarang' dengan kalimat: 'Proses berjalan. Tidak ada detail.' Di site Saira menolak pertanyaan asisten soal 'nama perempuan di berita internal'—belum ada berita; hanya bocor koridor. 'Tidak ada komentar. Plafon.' Mira: *bagus. jangan kasih oksigen.* Nama di sisi senyum tetap di berkas, tetap di papan, tetap belum jadi panggung.
Malam berikutnya Gunawan mengirim pesan singkat lewat legal: *Siap keterangan. Jaga Saira seperti kalian jaga Ibu.* Saira membaca di meja, mata basah sebentar, lalu kering. 'Aku balas lewat legal: kami jaga. Terima kasih.' Bisma: 'Dalang punya keluarga istri sebagai tangan. Kita punya meja dan orang tua yang menulis peringatan. Kita tidak kalah alat—kita kalah tempo dulu. Sekarang tempo kita kejar dengan baut.' Papan mendapat baris: *Tempo dikejar. Bukan dengan tiket.* Nama di sisi senyum menunggu cocokkan, bukan menunggu amarah.
Di brankas Heru, salinan halaman ayah tentang Laras sudah dilaminating berdampingan dengan foto acara. Saira menolak membawanya pulang ke nakas. 'Di brankas. Di meja kalau perlu. Bukan di bantal.' Bisma setuju. Tidur mereka malam itu dihantui nama, bukan dihantui tiket. Itu kemajuan kecil yang tidak masuk dewan—hanya masuk otot rumah.